.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Lempar Koin, Biarkan Tuhan yang Memilih

Siang itu sementara peserta FIM12 sedang mengikuti Out Bond, para coach melakukan pemilihan award bagi peserta. Untuk Peserta ter2, menggunakan poling dan pemilihnya adalah sesama peserta. Namun untuk peserta terbaik coach lah yang mengusulkan ke forum kemudian menjelaskannya, lalu ditanggapi oleh lainnya.

Sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan peserta terbaik, karena semua peserta memang baik-baik (kecuali yang kurang baik). Maka dari itu diberi nama Mr&Mrs Character. Maksudnya, peserta terbaik pria & wanita. Memilih peserta terbaik memang tidak mudah. Ada penyampaian argumen, ada yang membantahnya dan macem2. Namun karena kriterianya sudah jelas, itu memudahkan kami.

 

Tibalah saat pemilihan Mrs.Character. Ada 2 kandidat yang cukup kuat. Perdebatan semakin panjang, argumen-argumen yang dilontarkanpun juga masuk akal. Aku sebagai orang yang simpel dalam berbagai hal –termasuk berfikir- sempat nyletuk dalam hati, “Kok dibikin repot sih, udah pilih aja. Kan sama-sama baiknya.

 

Di tengah berlangsungnya adu argumen, Pak Elmir datang menengahi. Beliau melontarkan ide yang sangat brilian menurut saya. Meski menurut Khilda dan beberapa kawan ide itu konyol. Mau tau idenya?

“Peserta terbaik tu hanya untuk main-main saja, jadi jangan dibikin pusing. Si A & B kan udah sama-sama baik kan? Gini aja, ada yang punya koin ga? Kita undi pakai koin saja. Oke?”

Beberapa kawan ngedumel. Ada yang bilang ga adil lah, ga intelektual lah, dll. Namun bagiku : Sangat Sepakat ! Akhirnya kawan-kawanpun sepakat. Meski aku yakin ada sebagian yang terpaksa sepakat. Dilemparkanlah koin itu.

“Kita lempar koin ini, biarkan Tuhan yang memilih. Bismillah”

 Akhirnya terpilihlah si A sebagai Mrs Character. Tuhan memilihnya, melalui koin.

 Cerita selesai…

 

Aku jadi berfikir demikian, bagaimana jika kita ganti sistem Pemilu yang menghabiskan dana milyaran bahkan triliyunan itu kita ganti saja? Biarkan Tuhan yang memilih melalui koin.

Tidak ada lagi desa yang jadi tidak tenang gara-gara ada semacam perang saudara antara pendukung calon A & calon B. Tidak ada lagi dosa-dosa yang timbul gara-gara urusan sogok menyogok. Bukankah yang menyogok dan disogok sama-sama dosanya?

Tidak ada lagi yang mengharamkan Golput. Tidak ada lagi ceritanya menjelek-jelekkan lawan, atau black campaign. Dan aku yakin tidak ada yang menyalahkan koin itu. Kalaupun ada yang tidak terima dengan koin itu, silahkan koin itu dinjak-injak atau ditelindas dengan buldoser sekalian.

“Nah, kembali ke zaman jahiliah dong? Dimana intelektualitas kita?” Paijo mulai protes.

Justru cara ini menunjukkan tingkat intelektualitas yang lebih canggih daripada intelektualitas yang diakui oleh dunia saat ini. Mereka yang bilang ini bodoh adalah mereka yang belum bisa menangkap logika intelektual sistem ini.

Calon presiden kita diseleksi dengan ketat, memaparkan program-program atau janji-janjinya. Calon yang lain musti setuju untuk membantu program bagi calon terpilih. Dalam pemaparan itu tidak ada cerita debat atau saling menjatuhkan. Sampaikan saja program terbaiknya.

Bukankah semua calon presiden memiliki janji yang sama untuk membela rakyat? Mana ada calon yang tidak berjanji membela rakyat. Bukankah semua calon presiden berjanji untuk memajukan bangsa ini? Intinya calon-calon itu sudah terpilih sebagai orang-orang terbaik untuk memimpin bangsa.

Setelah calon terpilih itu ditetapkan, dilakukanlah pemilihan presiden menggunakna koin. Semua TV menyiarkan secara langsung. Semua mata rakyat Indonesia melihat tangan Tuhan –koin- itu.

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrohim, saya lemparkan koin ini untuk memilih siapa yang menjadi presiden. Biarkan Tuhan yang memilih”

Terpilihlah sudah. Gampang kan?

Jangan dengarkan para komentator yang akan membodoh-bodohkan bangsa kita. Yang penting preseidennya bukan orang bodoh. Biarkan saja bangsa mencemooh bangsa kita, kafilah tetap berlalu. Triliyunan rupiah yang seharusnya untuk biaya Pemilu itu bisa digunakan untuk pembangunan lainnya. Pembangunan fisik, mental, spiritual, pendidikan, dan lainnya.

Cerdas bukan? Kalau Anda mengatakan ini cara bodoh, bisa jadi logika Anda belum sampai untuk menangkap pemikiran intelektualitas super tinggi ini.

 

Peace !!

Jogja, 6 Mei 2012

Iklan

2 comments on “Lempar Koin, Biarkan Tuhan yang Memilih

  1. Siti Lutfiyah Azizah
    7 Mei 2012

    kok pikiranku bisa sama kayak kamu ya saat itu? wah kita sehati,haha. makanya aku senyum-senyum aja pas liat adegan pas kalian berdebat sampe akhirnya ditenangin pak elmir itu, haha.

    ga jauh dari situ aku ngobrol ma mba riesni tentang adegan itu semua, sampe bahas-bahas ‘gimana jadinya kalo kemudian tuh koin dimanfaatin ma orang yang akalnya cerdik (ato lick?) biar pilihannya yang terpilih?’ hehe

  2. Ping-balik: Ketika Saya Menjadi Peserta Terbaik | .: Petualang Kehidupan :.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 6 Mei 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: