.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Gantungkan Cita-Cita Setinggi Tiang Jemuran

Agak terdengar aneh ya? Mungkin karena kamu sudah terbiasa dengan kata-kata Ir Soekarno : Gantungkan cita-cita setinggi langit. Please tolong saya jangan dihakimi dulu. Beri saya kesempatan untuk menjelaskan makna filosofi ini.

Baru kalau sudah mendengar penjelasan saya, silahkan mau sepakat atau tidak. Kalaupun tidak sepakat jangan kemudian menyalah-nyalahkan yang berbeda pendapat ya. Seperti halnya pada orang yang berprinsip hidup mengalir seperti air, jangan kemudian ia disalahkan jika kita tidak sependapat dengannya.

Oke, kita kembali ke tiang jemuran.

“Cita-cita kok setinggi tiang jemuran? Ga takut kebawa angin tuh?”

“Biar gampang digapai ya?”

 “Cita-cita setinggi langit dong! Kalaupun ga sampe setidaknya kita bisa menggapai bulan atau bintang”

Kawan-kawanku mulai menyampaikan pendapatnya. Aku mendengarkannya dengan seksama.

Aku cukup tertegun ketika seorang anak kecil bercita-cita menjadi tukang sampah. Kawan-kawannya yang bercita-cita menjadi dokter, insinyur, pilot, pengusaha, dll mencelanya. Kau termasuk ingin mencela si anak kecil ini atau membelanya?

Haruskah semua cita-cita melangit? Salahkah jika aku atau si anak kecil itu memiliki cita-cita membumi. Biarlah cita-cita itu digantungkan di tiang jemuran. Letaknya tetap di atas, tidak diinjak-injak. Untuk menjangkaunya, kaki tetap berpijak di bumi. Bumi yang menjadi tempat kita lahir, tempat memberi penghidupan.

Apakah kau mengira ibu-ibu dan bapak-bapak yang pergi ke sawah untuk mencangkul, kemudian menyemai padi, merawatnya, hingga memanennya itu cita-citanya rendahan? Bukan seperti itu kan, cita-cita setinggi langit yang kau maksud?

Tiang jemuran itu mudah dibayangkan, untuk menggantungkan cita-citanya tidak perlu susah payah. Nyata bisa digapai. Nah, setelah digantungkan tinggal berusaha sekuat tenaga diiringi dengan doa untuk mewujudkan cita-cita itu. Kalau setinggi langit? Tentunya baru untuk menggantungkannya saja kesusahan.

Jemuran itu tempat untuk mengeringkan pakaian setelah dicuci. Ketika menggantungkan cita-cita setinggi tiang jemuran tentunya akan teringat dengan pakaian. Pakaian dalam bahasa jawa disebut ageman. Kata agama itu sendiri berasal dari kata ageman. Jadi, ketika menggapai cita-cita jangan lupa perhatikan pakaian atau agama. Agama itu hadir untuk memperbaiki akhlak. Dengan kata lain ketika berusaha mewujudkan cita-citamu itu tetaplah menjaga akhlak.

“Oooo… “, kawan-kawanku serentak mulutnya membentuk huruf O sempurna, kemudian berbarengan memanggut-manggutkan kepala mereka.

“Betewe, kau taruh dimana tiang jemuranmu? Kok ga kelihatan” Paijo bertanya sambil melakukan kebiasaannya : utik-utik upil.

“Tiang jemuranku? Tuh di sana”

“Dimana?” Paijo penasaran

“Di Bulan”

Yogya, 7 Mei 2012

6 comments on “Gantungkan Cita-Cita Setinggi Tiang Jemuran

  1. nenglis
    10 Mei 2012

    endingnya bagus kang ridwan, like this🙂

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      heehe😀

  2. Dewwi Puzpita Sarri
    31 Juli 2012

    kalo jemurannya di bulan, nyucinya dimana bro? 🙂

  3. cocok buat penyemangat UTS,,makasii kang🙂

  4. s4ifzaraki
    23 Oktober 2013

    Reblogged this on S4if's blog🙂 and commented:
    Apakah kau mengira ibu-ibu dan bapak-bapak yang pergi ke sawah untuk mencangkul, kemudian menyemai padi, merawatnya, hingga memanennya itu cita-citanya rendahan? Bukan seperti itu kan, cita-cita setinggi langit yang kau maksud?

  5. Di kemas dalam ending yang cantik ^^

    Salam kenal Kang Ridwan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Mei 2012 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: