.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Makrab FIM GeJe di Stasiun Tanah Abang

Ini sebuah cerita pengalaman. Mungkin bagi kamu yang tidak terlibat secara langsung, akan sedikit kesulitan untuk memahami ceritaku ini. Aku akan berusaha mencoba bercerita sedemikian rupa agar kamu bisa meanngkap ceritaku, Key?

Cerita ini sebenarnya sudah ditulis oleh Gilang (klik disini). Namun ada request agar ada cerita versi Ridwan. Jadi kalau ingin lebih bisa menangkapnya kamu bisa membaca tulisan Gilang juga.

Delapan Tiket KA Bengawan sudah di tangan, 8 calon penumpang siap kembali ke kota pelajar : Yogyakarta. Aku, Gilang, Reva, Sya’ban, Haneef, Khilda, Amri, Mita. Lima putra, tiga putri. Di tiket tertulis bahwa kereta berangkat jam 19.40 dari stasiun Tanah Abang.

Rabu (2/5) jam 5 sore, setelah agenda FIM 12 selesai kami masih di Bumi Perkemahan Cibubur. Untuk menuju St.Tanah Abang musti naik KRL dari stasiun UI Depok. Jadi, tujuan pertama adalah stasiun UI Depok.

Rombongan dari Surabaya juga menuju stasiun UI Depok dahulu, sebelum ke Gambir. Mereka nyewa satu angkot. Sebenarnya, kami juga ingin melakukan yang sama. Namun berhubung Gilang selaku ketua rombongan mengatakan memilih taksi saja, lebih murah. Wajah Gilang begitu serius dan meyakinkan, persis ketika maen warewolf semalam, akupun mengiyakan. Yang lain ngikut. Kami putuskan naik taksi. Butuh 2 taksi untuk 8 orang.

Tak disangka, nyetop taksi di tengah jalan begitu susah. Terlebih di jam sibuk, jam orang pulang kantor. Hampir jam 6, baru 1 taksi. Jadilah Gilang bersama 3 akhwat naek duluan. Keempat cowok sisaanya belakangan. Cowok mah santai, meski dalam hati sebenarnya juga deg-degan.

Taksi tak kunjung didapat. Haneef heboh, kebingungan nyetop taksi di tengah jalan, ngejar-ngejar taksi sambil teriak-teriak. Haneef ngajak nyetop taksi di Wiladatika. Padahal Wiladatika setahuku musti muter jauh. Aje gileee. Akhirnya kami nyetop angkot yang kebetulan kosong.

“Pak, ke wiladatika!” Haneef ngos-ngosan.

“Ini adek sebenarnya pada mau kemana?” Pak Supir mengetahui gelagat kebingungan kami

Singkat cerita, kami bercerita kalau mau ke stasiun UI. Pak Supir menawarkan untuk mengantar sampai stasiun. Menurut analisaku itu karena beliaunya orang baik. Bahkan kalau saja beliau tahu jalan ke stasiun Tanah abang, pasti akan diantar sampai sana.

“Oke, Pak. Dianter sampai Stasiun UI ya ! Makasih Pak” tanpa pikir panjang aku menge-Deal-kan dengan pak Supir yang bilang biayanya 50 ribu.

Pelajaran Pertama, kalau waktu sudah mepet tak apalah keluar uang agak banyak. Karena waktu tak akan pernah bisa dibeli. Pelajaran kedua, kalau memang tidak tahu JANGAN SOK TAHU. Dua pelajaran ini, aku sampaikan ke Reva yang masih saja senyam-senyum di angkot. Sya’ban duduk di pojok dengan tenangnya. Sementara haneef sibuk dengan HaPe-nya.

Aku: pandangan mata kemana, pikiran kemana.

Akhwat-akhwat mengkhawatirkan kami. Nanya lewat sms. Aku balas : “Santai saja, ga perlu mengkhawatirkan kami. Kalau KRL lewat, naik saja dulu”.

Alhamdulillah, sampai stasiun UI Depok masih bisa ketemu dengan Gilang, Khilda, Amri, Mita. O iya, pak supir angkot aku beri 55ribu. “Lima ribunya ambil saja Pak, makasih banyak”. Aku teringat materinya bu Ely. Jangan Cuma jadi polisi moral yang menghukum kesalahan, tapi juga musti mengapresiasi kebaikan. Itu tadi pelajaran ketiga.

Perjuangan belum selesai Bung!

KRL yang seharusnya jam 7, telat 10 menit. Dalam kereta ber AC itu, kami berdoa semoga masih bisa terkejar kereta Bengawannya. Aku menenangkan diri dengan sesekali membaca mushaf yg selalu nongkrong di sakuku. Sholat magrib-isya juga di KRL ini. Pelajaran keempat, dalam situasi sesulit apapun harus dijaga yang namanya ketenangan jiwa.

Aku teringat salah satu tulisannya Steven Covey, jika ingin tahu betapa berharganya waktu 1 menit tanyalah pada orang yang ketinggal kereta api. Dan kami tak perlu bertanya, karena kamilah orang yang mengalaminya langsung !! Kereta Api Bengawan sudah lepas landas 10 menit yang lalu.

Suasana cukup panas !

“Kawan-kawan, kita berombongan jadi musti ngikut Ketua rombongan. Maka kali ini aku mohon maaf aku mau memilih nasibku sendiri. Aku besok musti balik ke Jogja. Masih ada waktu untuk mengejar kereta Progo di stasiun Pasar Senin. 10 Menit lagi ada KRL ke sana. Kalau memang Progo ga kekejar, aku balik ke sini (Tanah Abang) tidur sini. Besok pagi jam 7 ada Kotajaya”, Aku mengatakannya dengan suara dan mimik muka serius.

Khilda besok pagi musti siaran Radio mengenai sekolah pasar nya. Amri ga bisa naik bis : Mabok darat. Haneef menawarkan untuk nginep di Markas besar Rawamangun. Namun ternyata apa yang terjadi? KRL ke Pasar Senen pun juga terlambat. Kereta Progo tak mungkin dikerjar.

“Oke, aku mau tidur di stasiun. Besok pagi pulang naik Kotajaya. Yang mau ikut monggo, kalau ada pilihan lain aku ga maksa. Tapi, kalau ada yang ikut aku : Aku yang bertanggung jawab sepenuhnya !!”

Akhirnya satu-persatu ikut diriku, dan semua sepakat : Kita Bermalam Di Stasiun Tanah Abang !!. Kami mendirikan semacam lapak. Sleeping bag, sarung, kain, pada dikeluarkan sebagai alas. Ada yang beli makanan, minuman, dll. Aku meminta rombongan ini memilih ketua rombongan dan jadilah aku didaulat menjadi kepala suku (ketua rombongan). Pelajaran kelima, dalam rombongan, harus jelas siapa Pemimpinnya.

“Aku akan menerapkan sistem OTORITER !” Aku berkata serius.

“yah, masak bla bla bla …”

“Yang tidak sepakat, silahkan keluar dari rombongan ini !” Langsung, keotoriteranku terpraktekkan. Semua diam. Zinkkk…

Dalam kondisi tertentu, memang diperlukan sistim seperti ini. Meski pada berikutnya aku tetap memberi ruang bagi anggota rombongan ini untuk bersuara.

“Malam ini, kita bersenang-senang !! Makrab buat kita, FIM GEJE. Yakinlah, kalian tidak akan pernah melupakan malam ini sepanjang hidup kalian” Aku memecah kebekuan, mencairkan suasana.

Namanya Camping, musti ada acara makan-makannya dong.

Kawan-kawan dari surabaya, Farida & Dito mengkhawatirkan kami. Fiya dari IPB juga menanyakan kabar kami. Aku jawab: Tenang saja, kami baik-baik saja. Ini malam yang menyenangkan bagi kami. Kami sepakat untuk tidak mengabari Rawamangun agar mereka tidak terepotkan dengan keadaan kami.

Untuk membunuh waktu, kami bermain permainannya anak FIM yaitu Warewolf. Ketika Melihat kartu domino yang keluar, Mita sudah underestimte : kok main kartu?. Tapi setelah ikut maen, ternyata semua keasyikan. Sampai jam 1 malem kami asyik bermain peran, bermain strategi.🙂

Sesekali kita ngakak-ngakak bareng. Reva yang selalu saja mati pertama, padahal jadi rakyat jelata. Sya’ban yang mengacaukan suasana permainan. Gilang dengan muka khasnya. Hilda yang ketawa-ketiwi mengundang kecurigaan. Mita dengan wajah tak berdosa padahal dia sendiri warewolf. Amri yang diam-diam, tapi kalau tersenyum mudah terbongkar. Sementara aku : Siap Totalitas Membela rakyat & siap Syahid, begitu tiap kali kampanye jadi pak lurah.

Pelajaran keenam, apapun kondisinya kita bisa memilih untuk menikmatinya atau meratapinya. Kalo bisa senang, ngapain susah?

Yang menarik di stasiun pada malam hari adalah : Mushola dikunci, toilet dikunci. Jadi kalau mau buang air musti berfikir untuk menyusun strategi, seperti maen warewolf. Hahay.

Reva terjaga terus hingga ngantri tiket. Loket baru buka jam 5 pagi, tapi jam setengah 5 antrian sudah panjang. Untung saja kami sudah ada yang “jaga loket”. Setelah sholat subuh dan sarapan. Sarapan angin maksudnya, kami melanjutkan permainan warewolf. Pak satpam geleng2 sambil ternyum.

Setelah masuk kereta pun kami melanjutkan warewolfan. Kalau saja ada MURI yang ngikut, kami yakin bisa memecahkan rekor bermain warewolf terlama. Maen warewolf di kereta ada feelnya tersendiri. Ngakak-ngakak bareng dll.

Lengkap sudah Persyaratan untuk menjalin ukhuwah. Pertama, lakukan perjalanan bareng, kami melakukannya. Kedua, bermalam bareng, kami juga melakukannya. Ketiga, urusan perduitan, kami juga melakukannya.

Yupi, kami jadi tau masing-masing karakter satu sama lain. Lebih dari sekedar tahu.

Misi sukses. Sampai juga di tujuan. Misi selesai. Selesai pula aku menjadi kepala suku yang otoriter. Melalui tulisan ini aku ngucapin trims for All. Maaf buat: Haneef, Gilang, Hilda, Amri, Reva, Mita, Sya’ban kalo ada kata-kata maupun tingkah lakuku yang kurang berkenan. Khusus buat Mita, maaf aku tidak bisa memperlakukan dirimi sebagai “Akhwat”, karena memang kondisinya there is no choice.

Tararengkyu !!

Pelajaran ketujuh, ukhuwah itu indah.

Pelajaran berikutnya, silahkan tambah sendiri di komentar..

 

Yogya, 10 mei 2012
00:44

Jarang-jarang nih, nulis sampai 4 halaman A4

7 comments on “Makrab FIM GeJe di Stasiun Tanah Abang

  1. Catatan Avonturir
    10 Mei 2012

    pelajaran ke delapan.. harus jago maen warewolf😀

    • kangridwan
      10 Mei 2012

      tepat sekali !
      mbak Queen !

  2. imel
    10 Mei 2012

    enviii😦

  3. kangridwan
    10 Mei 2012

    opo kui??
    enviii ?

  4. enralazua
    10 Mei 2012

    seruuuu.. abissss,….

  5. enralazua
    10 Mei 2012

    seruuuu… heeh envi (cemburu yg kepengin beda ama jeleous)
    besok pas ke jogja tunggu tantanganku raja warewolf dan master WW… :p

  6. Siti Lutfiyah Azizah
    11 Mei 2012

    foto yang makan-makan.. sumpah ya, bikin nyengir..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Mei 2012 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: