.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Sepatu & Kaos Kaki

Sekali-kali aku ingin bercerita tentang sepatu. Ga penting banget ya? Ah, aku memang sering bercerita tentang pentingnya sesuatu yang tidak penting.

Bagi yang sudah kenal diriku, pastinya dia sudah hafal sepatu yang aku pakai. Warnanya, cara aku memakainya, bahkan –mungkin- hingga baunya. Teman-teman KKN, CWC, asrama, kos, dan seterusnya. Meski aku sendiri tidak yakin ada orang yang benar-benar mau menjadi pengamat sepatuku.

Mungkin perlu sedikit kujelaskan kalau sepatu yang kupakai selalu saja mereknya itu, warnanya itu. Bahkan aku sampai membelikan Ayahku sepatu persis dengan sepatu yang kupakai, bedanya di ukurannya. Alhamdulillah, tadi pagi ketika kuserhakan sepatu itu, Ayahku seneng banget.

***

“Pakailah sepatu, itu aturan sekolah. Biar kelihatan lebih keren. Biar terlihat lebih intelek, seperti orang pintar. Tapi, fungsi utama sepatu  adalah melindungi kaki. Melindungi dari duri, kotoran, dan benda tajam lainnya.” Bu Guru SD menjelaskan kira-kira begitu.

Ooo, jadi itu toh fungsi memakai sepatu.

“Sebelum memakai sepatu, pakailah kaos kaki !”

“Buat apa, Bu?” Paijo protes.

“Untuk melindungi kaki dari sepatu. Kalau kaki bergesek langsung dengan sepatu, bisa lecet”

“Hmm… Jadi, sebenarnya sepatu itu sebenarnya melindungi atau mengancam?”

Bu Guru tidak menjawab pertanyaan Paijo, hingga dia lulus, bahkan hingga saat ini.

***

Aku jadi berfikir, begitu banyak “sepatu-sepatu” di kehidupan ini. Misalnya? Pilih saja sesukamu : Kuliah, belajar, organisasi, pekerjaan, pemerintah, reformasi, demokrasi, otonomi, pemilu, madzhab, partai, serta ‘makhluk-makhluk’ lainnya yang hakikatnya seperti sepatu : Seolah-olah melindungi tapi sebenarnya mengancam. Atau, bisa juga dibalik menjadi : Seolah-olah mengancam tapi sebenarnya melindungi. Terserah mau pilih yang mana.

Kembali ke sepatuku,

Sepatu yang kupakai bisa jadi sandal, ketika aku injak bagian belakangnya. Cara menggunakan sepatu seperti ini sudah menjadi trend di Jurusanku. Ke masjid, ke kampus, ke nikahan, ke mall, ya aku menggunakan sepatu itu. Entah jadi sepatu ata sandal.

Aku kasihan dengan sepatu. Sudah tempatnya di bawah, selalu diinjak-injak lagi. Bahkan jika sepatu itu masih baru, pasti diinjak-injak juga. Maka aku tidak ingin sepatuku dipertanyakan fungsi utamanya : melindungi kaki. Maka jangan protes kalau kau melihat caraku memakai sepatu : Tidak pernah memakai kaos kaki.

 

Kutoarjo, 13 Mei 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Mei 2012 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: