.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ayat Kauniah dan Hargo Dumilah

menuju 3265 MDPL


 

#Catatan Perjalanan Penaklukan Gunung Lawu

Mendaki dengan hidup itu nggak Jauh Beda (Agis Kasep)

 

KAPOK SAMBEL, itulah yang kukatakan seusai melakukan pendakian Gunung untuk pertama kalinya, mendaki Gunung Sindoro setahun yang lalu. “Wis, Kapok. Ga akan naik gunung lagi”. Fisik begitu lelah, tepar, badan remuk, dan seterusnya. Namun ada kepuasan tersendiri yang pada akhirnya kapoknya hanya sesaat, habis itu pengin naik lagi. So, akhinya aku melakukan pendakian untuk kedua kalinya. Mendaki Gunung Lawu (3265 MDPL) bersama Agis, Mas Adi, Chandra, Pram, dan Mas Gery, 18-19 Mei 2012.

Perlu diketahui, untuk mendaki Gunung Lawu, bisa melalui dua pintu masuk : Cemoro Sewu (Magetan) atau Cemoro Kandang (Karanganyar). Kami jalur Cemoro Sewu. Sebenarnya, kami berencana berangkat dari Yogya setelah sholat Jumat, tetapi saking begitu banyaknya ujian akhirnya jam 7 malam baru berangkat dari Prambanan. Tidak ada yang salah, jam 7 malam tetap bisa dibilang setelah sholat Jumat.

Ujian itu berupa :

–          Mas Adi yang ngisi Kotbah Jum’at di Sagan datang terlambat ke asrama, jam 14.30 baru berangkat ke Mas Gery.
–          Aku lupa alamat mas Gery. Harusnya Jalan Wates bukan Godean. Akhirnya jalannya lebih lama karena muter-muter.
–          Chandra motornya bocor.
–          Agis lewat ringroad utara, aku lewat jalan tengah. Ketika aku hampir sampai jalan solo, Agis sms kalau ada cegatan polisi sementara dompet (yg berisi kartu-kartu) kebawa di tasku. Akhirnya aku balik lagi menuju ring road utara. Kembai ke posisi awal, bahkan minus.
–          Gantian motorku yang bocor pas maghrib.
–          Setelah magrib, ada hujan badai.
 

Seakan-akan digoda : Udah, jangan naik saja!. Kami nekad, walhasil jam 11 malam baru sampai basecamp Cemoro Sewu. Sudah ada motor yang cukup banyak disitu. Sepertinya malam ini banyak yang mendaki.

Kami lupa membeli air minum dan mie instan. Dua barang yang sangat penting. Bukan lupa, tapi menunda untuk membelinya kalau sudah sampai Karanganyar saja. Akhirnya lupa. Jadilah kami membeli di cemoro sewu dengan harga yang lumayan mahal. Air minum 1,5 liter harganya 5000. Sementara biaya lainnya : Parkir 5000/motor dan retribusi masuk 7000/orang.

Kami mulai berangkat jam 23.30. Rencana untuk istirahat dulu sebelum naik : batal. Masing-masing dari kami membawa senter karena malam gelap, tidak ada bulan purnama dan yang jelas tidak ada matahari.

Ada 5 pos yang akan dijumpai. Jarak yang paling jauh adalah dari pos 1 ke pos 2. Jalur cemoro sewu bisa dikata termasuk curam. Terlebih semakin ke atas. Jalannya kebanyakan berupa batu yang sudah tersusun seperti tangga.

jalur cemorosewu

Mendaki gunung, selain sebagai sarana refreshing, bisa juga digunakan untuk melakukan perenungan. Merenungkan perjalanan hidup, merenungkan ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran Tuhan) yang tidak tertulis dalam kitab suci. Banyak yang bisa analogikan antara mendaki gunung dengan kehidupan. Itulah perenungan.

Mencapai tujuan (puncak) tidak mudah. Butuh perjuangan, butuh pengorbanan. Ada banyak beban yang harus dipikul. Harus selalu siap kalau sewaktu-waktu terperosok. Perlu penerangan, agar tidak salah jalan. Tetap teguh dalam kesusahan diiringi kesabaran. Dan jika dipadukan dengan rasa syukur, beban-beban itu akan terasa ringan.

Kami shalat subuh di semacam tangga, sebelum sampai pos 4. Kami shalat di atas gunung, dan di terbentang gunung-gunung yang mulai terlihat. Selesai salam, gunung-gunung yang gagah itu semakin terlihat jelas. Allahu Akbar ! Allah maha besar. Aku benar-benar merasa kecil, sangat kecil sangat lemah, di hadapan pencipta alam raya.

Perjalanan masih panjang dan terjal. Hawa semakin dingin, tapi dengan terus bergerak dingin itu tidak begitu terasa. Bahkan dari pos 1 sampai pos 4 aku hanya menggunakan kaos lengan pendek. Di pos 4, kami istirahat poto-poto dengan panorama sunrise, sambil ngopi. Setelah itu melanjutkan perjalanan lagi.

“Puncak masih jauh mas?”

“Dekeeet, paling juga 10 menit lagi”

Hampir setiap bertanya pada pendaki yang turun, jawabannya seperti itu. Meski setelah dijalani lebih dari 10 menit, bahkan sampai hitungan jam. Mereka ingin ikut menyemangati pendaki lainnya. Jarang-jarang ada yang menjawab : “Masih jauuuh, medannya berat, balik aja deh !”. Mereka tidak bohong sih. Memang betul, bisa 10 menit kalau berlari dengan kecepatan 20 km/jam saja, atau kalau mau memakai pintu kemana saja punya Doraemon bisa lebih cepat lagi.

pose bareng hargo dumilah

Hargo Dumilah terlihat melambai-lambai di puncak sana, menyemangtiku untuk terus menuju puncak. “Semangat, Ridwan !” Kira-kira begitu.

Sebentar, Hargo Dumilah itu bukan nama orang lho ya? Bukan nama penjual warung atau nama bapak-bapak pengangkut barang (Porter). Hargo Dumilah itu nama puncak Gunung Lawu. Dalam bahasa Jawa, Hargo/Argo itu berarti Gunung sedangkan Dumilah berarti Bercahaya. Jadi Hargo Dumilah bisa diartikan Gunung yang Bercahaya. Jika mendaki gunung itu kita bisa mendapatkan cahaya atau Nur. Cahaya yang membuat mata kepala dan mata hati kita terbuka. Bisa melihat tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang begitu indah.

Kami berpoto mesra dengan Hargo Dumilah, sebagai bukti, sebagai prasasti, sebagai eksistensi, sebagai dokumentasi. Terhitung sekitar 8 Jam perjalanan dari basecamp sampai puncak. Jam 10.15 kami cabut, meninggalkan Hargo Dumilah.

Menuju Hargo Jumilah butuh perjuangan penuh tantangan. Begitu pula ketika meninggalkan Si HarJum, bahkan bisa dibilang lebih berat. Apa gerangan? Ketika turun, menurut iklan susu tulang, sendi pada kaki kita (khususnya lutut) menerima beban 5x dari berat badan. Lutuku benar-benar maknyus sambil meronta-ronta (untung lututku ga punya mulut). Meski aku tak tahu persis 5 kali atau berapa kali, yang jelas setiap turun menapaki anak tangga lutut serasa gemeteran, seakan mau lepas.

Singkat cerita, Alhamdulillah jam 3 sore sudah sampai basecamp dengan selamat sentaosa. Kaki, bahu, punggung, pinggang pegel semua. Ga bisa dibohongi, meski hati merasa puas, tapi fisik mengalami teparisasi yang cukup akut.

Aku khawatir ketika mengendari motor, atau membonceng menjadi berbahaya karena tertidur dan akhirnya hal itu benar-benar terjadi. Beberapa menit setelah aku mboncengin mas Adi, aku nyerah. Konsentrasi buyar & ngantuk berat, akhirnya gantian mas Adi yang di depan dan aku membonceng di belakang sambil tidur!!

Parah super parah, ternyata beberapa kali Mas Adi juga sempat tertidur. Ada bangjo lampu hijau malah berhenti. Pas sampai di ring road utara, lampu merah berhenti sudah betul tapi giliran lampu hijau tetep berhenti sampai diklakson rame-rame baru terbangun. Pram yang boncengin mas Gery, juga begitu bahkan mengendarai motor yang di depan dan yang di belakang sama-sama tidur!! Ah, cerita ini bisa dibikin tulisan tersendiri. Intinya : Teparisasi erat kaitannya dengan ngantukisasi.

Sampai di kamar, aku melihat kasur seakan-akan surga. Sebelum tidur, sama seperti sepulang dari Sindoro dulu :

“Wis, Kapok. Ga akan naik gunung lagi”

 

Yogyakarta, 20 Mei 2012
masih pegel-pegel

One comment on “Ayat Kauniah dan Hargo Dumilah

  1. Ping-balik: Ngapain sih Naik Gunung ? | .: Petualang Kehidupan :.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 20 Mei 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: