.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Tangis Bahagia

#cuma cerita fiksi

edisi : Wisudaan

 

Aku tahu, hari ini merupakan hari yang tidak akan pernah kau lupakan. Wisuda. Hari yang menandakan kau telah selesai masa kuliah. Hari upacara penyematan gelar Sarjana yang akan mengekor pada namamu.

Jauh-jauh hari, sejak kau mengundangku agar hadir di wisudamu ini, aku telah menuliskan dengan huruf yang cukup besar di agenda yg tertempel di dinding kamarku : Wisudaan, the special day.

Beberapa bunga sudah terlihat. Dipegang oleh beberapa kawan-kawanmu. Sementara aku, datang dengan tas besarku yang tidak berisi bunga satupun. Bahkan sekedar sebingkis hadiah untukmu. Tas rombeng yang melengkapi penampilan pemiliknya.

Kau masih di dalam. Tapi aku terlebih dulu bertemu dengan orang-orang dekatmu. Mereka yang lebih dekat denganmu, daripada diriku yang sok merasa dekat denganmu, mungkin. Terlihat dari wajah mereka betapa bahagianya mereka.

Ibumu bahkan bercerita padaku betapa bahagianya ia. Senang, terharu, bangga, dan sejumlah kata yang tidak aku ingat semuanya. Mau kurekam, ibumu tidak mau mengulangnya lagi. Ayahmu, adikmu, masmu, mbakmu, sohib-sohibmu semua tersenyum padamu, menyalamimu, memelukmu, mengucapkan selamat padamu.

Hingga tiba gilirannya tiba, kau berhadapan padaku.

Aku hanya bisa mematung dengan senyum terindahku. Aku yakin wajahku tersenyum, sangat yakin. Meski aku kesulitan mengindentifikasi hatiku. Sepertinya hatiku menangis. Ya, menangis. Sepertinya, permen nano-nano di dalam hatiku. Sepertinya dan sepertinya.

“Mana bunga, untuk ku?” Sambil tersenyum, kau  lontarkan pertanyaan basa-basi. Karena aku yakin, kau sendiri tidak pernah membayangkan aku akan memberikan bunga untukku.

“Aku tidak membawa bunga untukmu”

“Oya?”

“Karena aku tahu, kau memang tidak mengharapkan bunga dariku. Kalaupun kau berharap bunga, bunga itu tidak berwujud bunga, ya kan”. Aku tersenyum lagi. Tak kulanjutkan kata-kataku. Kubiarkan kau mengartikan sendiri.

Kedatanganku memang tidak pernah bisa digantikan dengan bunga sebanyak apapun, seindah apapun, semahal apapun. Semoga doa yang kubungkus rapi ini, bisa sampai tanpa kau ketahui, kecuali kalau aku memang tidak pandai membungkus.

Kau pergi, aku kembali. Wajahku masih bisa tersenyum, meski tak bertahan lama. Tangis di hati yang tadinya baru sepertinya, kini menjadi nyata. Dan semakin nyata pula jenis tangis ini. Aku bisa mengidentifikasinya : Tangis Bahagia

 

 ————

Teruntuk kawan2 yang telah wisuda : Semoga terlimpah keberkahan untukmu
Teruntuk kawan2 yang belum wisuda : semoga cepat lulus, bahagiakan orang-orang dekatmu!

 

 

Yogya, 22.5.2012

the sepcial day

Iklan

2 comments on “Tangis Bahagia

  1. aerodest
    28 Mei 2012

    two thumbs up!
    suka banget suka benget.
    menurutku ini soooo sweeeeeeeeeet

    • kangridwan
      29 Mei 2012

      makasi makasi
      🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 Mei 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: