.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Enam ribu rupiah saja

#cerita fiksi gado-gado

Angkringan MSG (Masjid Siswa Graha) ini masih jadi fovorit saya. Seharian sudah dua kali saya mampir kesini, makan Dhuha (antara pagi dan siang) dan makan sore setelah ashar. Sekali makan habis 3000. Jadi seharian ini saya habis 6000 rupiah saja.

Uang 3000 itu menunya nasi satu bungkus yang kalau sebelum jadi nasi kira-kira dua sendok makan beras. Kemudian 2 tempe goreng yang jika keduanya ditumpuk, ukurannya masih lebih mungil dari hape saya . Dan satu gelas teh hangat. Oh ya, makan dhuha itu sekaligus untuk makan pagi dan siang.

Jangan kasihani saya, meski kelihatannya sepertinya saya pantas dikasihani. Bagaimana tidak? Sudah makannya tidak bikin kenyang, makan pagi dan siang saja dijamak qosor ! Sekali lagi, Anda tidak perlu mengasihani saya.

Makan saya adalah untuk menunaikan hak bagi perut saya. Jangan sampai kelaparan! Kalau lapar itu masih wajar. Tidak lapar itu hadiah. Kenyang itu Doorprize. Kekenyangan itu bermewah-mewah. Jadi, seharian ini Alhamdulillah saya sudah memberi hadiah dua kali berupa tidak lapar.

Alasan sok-sokannya adalah pengin nyunnah. Ikut resep kanjeng nabi. Perut jangan dibikin kenyang. Obat hati itu salah satunya : weteng iro ingkang luwe : laparkanlah perutmu. Alasan aktualnya adalah urusan situasi dan kondisi yang jika dijelaskan bisa jadi essay tersendiri.

Nah, pas makan sore tadi di angkringan itu saya ketemu kawan kuliah saya yang sudah jarang lagi kelihatan. Sebut saja namanya Kampret. Dia jarang kelihatan bukan karena sudah lulus, melainkan kurang begitu bergairah kuliah. Mungkin dia sekarang kuliah bareng angkatan yang lebih muda. Jadi pantas kalau jarang ketemu saya. Dia belum ngambil skripsi. Yang terakhir ini yang bikin saya bersyukur.

Saya tahu betul si Kampret ini. Dia suka bikin rusuh. Sering jadi provokator tawuran jurusan saya. Jarang masuk kuliah dan suka nitip absen. Hampir setiap ujian bawa contekan. Itu yang saya tahu dari pengamatan tahun pertama yang beberapa kuliah masih sekelas bareng.

Dia tidak sendirian. Ada gadis di sebelahnya. Mereka sedang ngobrol dengan asyiknya. Raut wajahnya menggambarkan penuh nafsu.

“Asu ik, si Kampret jarang kuliah malah pacaran di tepat di depanku!” Setan di sebelah kiriku membisiki telingaku.

Sepertinya saya lupa baca bismillah, jadinya yang terdengar suara setan. Namun, si kampret memang membuat aku jadi berprasangka buruk je. Kalau ga ada si kampret, mana mungkin aku nguping obrolan mereka. Pokoknya meski saya menyadari dosa ini sebenarnya ketidakberdayaan saya untuk mengendalikan diri, saya akan menuntut si Kampret untuk ikut menanggung dosa saya juga. Lha dia menjadi asbabul dosa je.

Saya semakin emosi sekaligus ngakak-ngakak dalam hati ketika si Kampret sok-sokan mbayarin biaya makan di angkringan mereka berdua. Makin menjadi lagi, ketika si Kampret nawarin nganter pulang yayangnya. Wakakaka. Masih dengan berprasangka saya mbatin : “Duitnya dari ortu aja sok-sokan” tanpa saya selidiki dulu kebenarannya. Bisa saja sebenarnya dia sudah berpenghasilan jutaan tanpa saya ketahui.

Saya merasa diejek habis-habisan. Mana mungkin saya nraktrir cewek saya. Pertama, saya ga punya cewek. Ini alasan idealis. Kedua, saya belum punya uang yang membanggakan untuk menraktir cewek. Ini alasan pragmatis. Anda tidak perlu heran jika saya ngajak makan trus setelah selesai saya bilang: bayar sendiri-sendiri ya!. Meski Anda cewek cantik sekalipun. Kecuali dalam situasi dan kondisi tertentu.

Nasi, tempe dan teh hangat saya habis begitu cepat. Meng-ghibah orang dalam hati ternyata membuat waktu terasa begitu cepat. Dosa memang seringkali membuat efek relatifitas waktu. Saya menyadari saya berbuat dosa. Saya beristighfar. Lalu saya tersadar bahwa saya belum mengucapkan doa setelah makan. Jadilah bismillah dan alhamdulillah saya jamak ta’khir !

Ternyata obat hati menjaga perut dalam kondisi lapar tidak manjur untuk mencegah kotoran hati. Percuma dong saya mempraktikkan 6000 per hari. Hati saya masih saja susah dikendalikan. Ah, untung saya sudah membaca bismillah dan alhamdulillah. Saya jadi tersadar kalau logikanya salah.

Yang betul begini : Sudah mempraktekkan salah satu obat hati saja masih belum manjur, apalagi tidak sama sekali? Berarti belum komplit, dosisnya masih kurang. Perlu obat hati yang lain. Membaca & mempelajari Al-Quran, Shalat malam, berkumpul dengan orang-orang shalih, memperpanjang dzikir malam. Masih ada 4 yang belum melengkapi.

Si Opick bilang : “salah satunya siapa bisa menjalani moga-moga Gusti Allah mencukupi”. Mungkin karena penyakit hatiku dosisnya tinggi, maka kadar obatnya musti tinggi.

Saya jadi menyadari hal penting yang musti saya perbaiki. Makasih kawanku, si Kampret! Semoga kau juga dapat pahala asbabul tobat saya.

 

Orangedorm, 1 Juni 2012
Backsound: Tombo Ati -Opick

Iklan

2 comments on “Enam ribu rupiah saja

  1. akio
    1 Juni 2012

    haha..bagus2..puasa biar cepet lulus *gaknyambung
    oiyaa salam kenal 😀

  2. Kampret! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 Juni 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: