.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Sepatuku dicuri Setan

Waktu sudah hampir jam 8, sementara saya baru mau berangkat ke kampus. Padahal ada kuliah jam 8. Terburu-buru memang hal yang tidak mengenakkan. Apalagi jika sudah tidak mengenakkan datang lagi hal lain yang tidak mengenakkan.

Semua sudah saya periksa, layaknya periksa kerapian ketika Pramuka dulu. Dompet, Hape,  jam tangan, kacamata, duit, kunci motor. Semua komplet. Mandi atau tidak mandi yang penting terlihat sudah mandi. Segar, bersih, tidak bau, dan wangi.

“Lho, sepatu saya dimana?” batinku.

Saya merasa terakhir saya taruh di depan pintu. Kalaupun ada yang memindah ya di rak sepatu. Tapi saya research (baca: mencari lagi) kok tidak ada? Aneh. Tidak mungkin ada teman asrama yang mau menghosob (minjam tidak ngomong dulu) sepatu saya. Bahkan jika semisal tidak ada satupun sepatu tersisa kecuali sepatu saya, sudah pasti mereka lebih memilih nyeker, bertelanjang kaki daripada memakai sepatu saya.

 Pencuri ? ini juga imposible. Mana mungkin mengambil sepatu butut yang bentuknya tidak mirip sepatu sementara di tempat itu banyak sepatu yang lebih keren, lebih wangi (mungkin), lebih bagus, lebih kinclong dan lebih style.

Kemungkinan ketiga adalah sepatuku diambil fans saya. Mungkin dia paham betul dengan sepatu yang selalu saya pakai ini. Dia tahu kalau sepatu ini selalu saya pakai kemana saja. Ke kampus, ke masjid, hingga ke puncak gunung sekalipun. Tapi kemungkinan ini juga tidak mungkin. Lha memangnya ada yang mau menjadi fans saya ? Kalaupun ada, iseng banget sih ngambil sepatu saya. Mbok minta baik-baik, nanti pasti saya kasih plus tanda tangan saya di sepatu itu.

“Wah, sepatuku diambil setan nih!”

Saya mulai berprasangka pada makhluk yang tidak terlihat oleh mata. Beruntungnya saya tidak bisa melihat dan mendengar bagaimana reaksi setan mendengarkan tuduhan saya yang tidak ada bukti dan saksinya. Kalau bisa, mungkin si setan sudah misuh-misuh tidak karuan.

Saya kembali memeriksa rak sepatu, mencari kesana kemari. Sebenarnya saya tidak perlu terlalu khawatir karena masih ada dua pasang sepatu dengan warna, merk, dan ukuran yang sama. Bahkan sama-sama usangnya yang siap menjadi lapis kedua ketika memang sepatu utama hilang.

Berfikir dan berfikir. Mengingat dan mengingat. Saya melihat motor saya dalam keadaan tertutup jas hujan. Saya jadi teringat kalau kemarin sore ketika saya pulang ke asrama di tengah jalan hujan. Astaga ! Saya baru teringat bahwa kemarin itu saya melepas sepatu, memasukkan ke dalam kantong plastik dan saya gantungkan di motor.

“Astaghfirullahal’adzim”

Saya berlari ke motor itu dan menemukan sepatu saya dalam keadaan baik-baik saja sebagaimana biasanya. Saya jadi agak merasa bersalah sudah menuduh setan mengambil sepatu saya.

“Sory setan! saya salah sangka. Ternyata saya yang lupa, bukan kalian yang mengambil”

Sepatu yang baru saja ketemu ini mendadak menjadi terlihat bernilai tinggi. Memori-memori bersamanya membuat semacam ilusi. Terlihat lebih baru, lebih wangi, lebih nyaman dipakai. Sayangnya itu hanya ilusi. Namun, tetap saja sepatu ini telah menjadi sesuatu yang bernilai dalam hidup saya. Betapa beberapa saat yang lalu saya sempat merasa kehilangan. Padahal biasanya memang tidak pernah terlalu mempedulikannya.

Terkadang kita memang harus merasakan kehilangan terlebih dahulu, untuk bisa lebih menghargai keberadaan sesuatu. Sebagaimana kita akan lebih merasakan nikmatnya makan setelah sekian lama menahan lapar. Sebagaimana kita akan lebih merasakan indahnya perjumpaan setelah melakukan penantian yang panjang.

Jarum panjang di jam tangan saya sudah melewati angka 12. Ya ampun, sudah jam 8 lebih. Sepatu yang saya pengang itu kembali menjadi bagian dari jejak kehidupan saya. Seperti hari-hari biasa : sepatu saya ini kembali saya injak-injak dengan terhormat, tanpa aling-aling, langsung bersentuhan dengan telapak kaki saya.

 

Yogya, 14.6.12

Iklan

3 comments on “Sepatuku dicuri Setan

  1. aghie.yoedha
    14 Juni 2012

    sepatu ku ilang tenanan

    • kangridwan
      14 Juni 2012

      wis jaaan. sandalku balik neh setelah ngilang 2 bulan. Tunggu ae sp ngerti digosop.
      atau kemungkinan ke2 : diambil fans (anggep aja yg ngambil fans)
      atau yg ketiga : diambil setan, karena sepatumu klimis, style, dan (mungkin) wangii
      🙂

      .: tetep disyukuri, yg ilang sepatu. Bukan laptop, hape, ato motor.

  2. yourha
    14 Juni 2012

    akhirnya, nemu juga. saya juga suka lupa tu narok barang..jadinya sibuk sendiri.hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Juni 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: