.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

“Maukah jadi suamiku?” : sebuah Keberanian & Kejujuran

#Cuma cerita fiksi

“Maaf, mas. Bolehkah aku memilihmu sebagai suamiku? Kalaupun mas tidak berkenan tidak apa-apa. Maaf jika aku lancang. Aku hanya tidak mau menyesal, berdiam diri menanti sebuah harapan.”

Aku sempat terkejut ketika tiba-tiba saja smsmu itu masuk di HaPeku. Beruntungnya aku bisa menguasai diri sehingga tidak begitu terlihat terekejut. Untungnya juga pakai sms, kau tak bisa melihat langsung ekspresi wajahku.

Sebuah keberanian yang luar biasa menurutku. Karena jarang-jarang perempuan mau mengungkapkan terlebih dahulu. Aku juga tahu, butuh keberanian yang luar biasa bagi seorang perempuan untuk duluan menyampaikan maksud dirinya menjadikan seorang lelaki sebagai pendamping hidupnya. Sebuah keberanian dan kejujuran yang jarang dimiliki oleh perempuan, dalam hal seperti ini.

Aku juga tahu, kau tidak main-main. Kau serius dengan apa yang kau katakan. Maka, akupun yang jarang serius ini menjawab smsmu dengan serius pula.

“Aku sangat menghargai keberanianmu, kejujuranmu. Aku sangat mengapresiasinya. Aku justru suka blak-blakan model gini. Terimakasih, kau mempercayaiku. Namun maaf, untu saat ini aku belum bisa memberi keputusan untuk memilih, siapapun dia. Ketika aku belum siap aku tidak berani untuk bermain-main”

Aku mengatakan sesuatu yang sejujurnya. Untuk saat ini kondisiku memang belum siap untuk memikul tanggung jawab besar itu. Sejak aku melepaskan subsidi dari orang tuaku, aku benar-benar merasakan kehidupan yang sebenarnya. Aku masih belajar meng-gebuk kehidupan yang keras ini. “Hidup ini keras, maka gebuklah !”, kata mas Prie GS.

Sengaja memang aku mengatakan tidak bisa memberi keputusan. Aku tak bisa mengatakan Ya, atau Tidak. Bukan berarti aku tidak tegas. Justru disitu letak ketegasanku. Jika aku bilang “ya”, sama saja aku menjanjikan sesuatu itu. Padahal aku belum bisa menyegerakan. Selain berpotensi menjadi dosa, tentunya ini akan mengganggu produktifitas kita. Namun,  jika aku bilang “tidak”, itu sama saja mengetok palu. Padahal semua perempuan –termasuk kau- masih berkesempatan.

Sekali lagi aku mengapresiasi keberanianmu dan kejujuranmu. Sedikitpun hal itu tidak menjadikan “aib” bagimu di mataku atau merendahkan harga dirimu dalam pandanganku. Tidak sedikitpun. Karena banyak kejadian diluar sana adanya penyesalan yang begitu mendalam gara-gara tidak memiliki keberanian dan kejujuran yang kau miliki. Kejadian yang begitu nyata ada di sekelilingku. Kasihan sekali mereka.

Bahkan ketika aku mencium gelagat perempuan yang “mendekatiku”, aku mengarahkan dia agar mengeluarkan keberanian dan kejujuran yang kau miliki : Mengungkapkan perasaan itu. Setelah jelas ada pernyataan maka jelas juga aku menanggapinya. Sama : aku tidak bisa memutuskan sekarang, karena untuk saat ini aku belum siap. Kuharap aku segera siap, sehingga aku bisa memberi jawaban lain : Ya atau Tidak.

Suatu ketika, dalam sebuah obrolan, kakak perempuanku bilang begini : nek cah lanang ditembak iso ngomong rung siap, nek cah wedok sing ditembak lanange mesti wis siap lahir batin, le nolak luwih bingung meneh. Kalau laki-laki di”tembak” dia bisa bilang belum siap. Tapi kalau perempuan yang di”tembak” si laki-lakinya pasti sudah siap lahir batin, menolaknya akan lebih membingungkan. Entah nyambung atau tidak, tiba-tiba saja aku teringat pernyataan itu.

Aku jadi teringat 3 prinsip perjodohan ala temannya temanku. Pertama, kalau memang jodoh tidak akan tertukar. Kedua, kalau ingin jodoh yang baik jadilah orang baik. Ketiga, kalau sudah mampu jangan dipersulit. Sampai saat ini aku memegang prinsip itu.


 

Yogya, 16.6.12
Thank’s 4 your braveness & honesty

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Juni 2012 by in Cerita Fiksi, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: