.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Lapar Saya

Lapar itu kata sifat, sebagaimana kata berani. Untuk menjadikannya kata benda, “berani” cukup diberi awalan ke- dan akhiran –an : Keberanian. Namun, jika lapar dijadikan “kelaparan” maknanya beda. Kelaparan bisa diartikan sebagai kata benda, tapi bisa juga diartikan lapar yang berlebihan.

Maka secara tata bahasa, judul tulisan ini salah. Harusnya “kelaparan saya”. Namun saya khawatir pembaca akan menduga kalau saya sedang menderita kelaparan. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya : saya menikmati rasa lapar.

Jadi begini,

Sejak masuk bulan Juni hingga saat ini, Alhamdulillah saya belum merasakan kenyang sekalipun. Saya menahan diri untuk makan sekedar menghilangkan rasa lapar. Lapar adalah biasa, tidak lapar adalah hadiah, kenyang adalah dorprise, kekenyangan adalah berlebihan.

Pertanyaannya yang timbul kemudian adalah Mengapa?

Pertama, saya ingin menjalankan perintah nabi untuk makan setelah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Kedua, Weteng ingkang luwe (perut yang lapar) adalah salah satu obat hati, saya merasa memiliki banyak penyakit yang musti diobati. Ketiga, saya tidak akan terlalu merasa berat untuk berpuasa meskipun tanpa sahur karena sudah akrab dengan rasa lapar. Keempat, kini saya tidak mudah merasakan lemas meski perut lapar padahal dulu sedikit saja saya lapar rasanya lemas. Ternyata saya terlalu manja dengan perut.

Imam Syafi’i pernah berkata : “Aku tidak pernah kenyang selama 16 tahun, kerana kekenyangan itu memberatkan tubuh, mengesatkan hati, menghilangkan cerdik, menarikan tidur dan melemahkan orang yang kenyang itu daripada beribadah.”

Meski baru 3 minggu saya menjalankannya namun setidaknya saya bisa merasakan apa yang dimaksud oleh beliau Imam Syafi’i. Menahan diri memang berat. Melawan diri sendiri tidaklah mudah. Bahkan perang Badar yang begitu dahsyat itu masih dianggap kecil jika dibandingkan melawan hawa nafsu, melawan diri sendiri.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat undangan seminar kewirausahaan yang diadakan oleh USID (kedutaan Amerika). Seusai seminar ada makan siang : Prasmanan. Ambil sepuasnya & Gratis !! Semua menu terlihat ueenak. Aneka es tinggal ngambil, hingga capocino yang kalau di Café-café harganya sampai 40 ribuan disini gratis. Godaan yang berat bagi saya. Saya mengambil nasi sedikit, lauk sedikit tapi merata. Semua saya ambil.

Seusai makan, saya melihat kawan saya mengambil makan dengan porsi “kuli”. Wow. Dia menawari saya untuk nambah, mumpung enak & gratis. Saya berfikir-fikir beberapa saat. Lalu saya putuskan ! Untuk pulang duluan. Saya memaksa diri untuk meninggalkan pesta itu. Memaksa kaki untuk segera keluar dari gedung itu.

Beberapa hari yang lalu saya mencoba donor darah karena memang sudah saatnya melakukan donor darah (saya rutin mendonorkan darah, 3 bulan sekali). Sudah antri dan menunggu cukup lama ternyata saya tidak bisa mendonorkan karena tekanan darah saya rendah. Ha? Saya darah rendah? Mungkinkah karena kebiasaan baru saya ini? Esoknya lagi saya saya mendonorkan darah ternyata bisa. Saya menyimpulkan penyebab saya darah rendah bukan karena kebiasaan baru saya ini, tapi karena memang waktu itu kondisi saya sedang kecapekan.

Ibu saya bahkan mengkhawatirkan saya. “Makannya yang teratur, terjadwal, dan bergizi Biar kesehatannya terjaga”. Saya hanya tersenyum sambil menenangkan beliau. Insya Allah putranya ini juga tidak akan mendzolimi diri sendiri. Ketika perut sudah minta diisi, akan segera saya isi. Rasa lapar telah menjadi kawan dekat saya. Saya dan lapar sudah akrab.

So, saya mohon maaf jika ketika suatu saat saya menolak diajak makan. Bisa jadi waktu itu saya belum merasa lapar atau memang sedang menikmati rasa lapar.

 

21 Juni 2012
Yogya, hari2 terakhir di OrangeDorm
Makasi Harya, atas pinjaman laptopnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 Juni 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: