.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Bu Hadak dan Ibu-ibu di Kampung Saya

Disengaja atau tidak, dirancang atau tidak suatu sistem dalam bermasyarakat pasti akan terbentuk. Setidaknya jika tidak ada yang merencanakan, sistem itu akan terbentuk dengan sendirinya. Saya mengambil contoh jarkom yang berlaku dalam komunitas ibu-ibu se RT atau tetangga sekeliling saya. Mereka terlihat begitu kompak. Ketika ada yang salah satu warga yang sakit, secara rapi dan terorganisir untuk menjenguk ramai-ramai.

Ada yang bertugas menjadi penerima informasi, Bu Sis. Darinya lah semua informasi diterima. Ibu-ibu memang unik, suatu berita entah gosip atau fakta akan begitu mudahnya menyebar dengan begitu cepatnya, seperti panas yang cepat merambat pada benda berkonduktivitas tinggi. Bu Sis adalah semacam recivier-nya.

Dalam logika pemrogman, atau dalam teori komunikasi, atau dalam sistem apa saja, ada 3 langkah utama yang terjadi : input – process – output.

Nah setelah input yang perannya dipegang oleh Bu Sis selanjutnya masuk pada tahap processing. Bu Sis akan melanjutkan informasi itu ke Bu Hadak. Bu Hadak inilah yang menjadi mainboardnya.  Dari Bu Hadak, info itu di-sms-kan ke beberapa delegasi sudah diolah dalam bentuk rencana nyata, misal : “Nanti jam 7 malam kumpul di rumah pak Amak, berangkat ke PKU”

Bu Parno setelah mendapatkan info dari Bu Hadak akan bekeliling ke puluhan rumah, baru setelah selesai akan membalas sms : Lapor info sudah tersebar ! Begitu juga Bu Ambar akan berkeliling ke beberapa rumah sekitarnya. Ada juga yang mengurus transportasi, yang mengurus iuran, dan lainnya.

Wargapun akan mengiyakan perintah itu jika ada jaminan : Kata Bu Hadak. Dan outputnya adalah warga yang beramai-ramai menjenguk salah satu warga lain yang sedang dirawat di rumah sakit.

Suatu ketika Bu Parno ditanya oleh warga lain kapan mau njenguk pak X yang sedang dirawat di Rumah Sakit. “Waduh, saya belum dapat sms dari Bu Hadak je” jawab bu Parno. Begitu juga meski sebenarnya Bu Sis yang mendapat informasi awal itu bisa saja langsung memobilisasi warga, akan agak sulit jika tidak menggunakan nama Bu Hadak. Ya, sistem itu sudah terbentuk dengan sendirinya, dengan perannya masing-masing.

Suatu ketika ada warga yang sakit dan tidak ada yang mengabarkan ke Bu Sis. Entah kenapa, tumben juga kabar itu tidak sampai di telinga Bu Sis. Padahal Bu Sis seakan memiliki telinga di mana-mana. Wal hasil, warga yang sakit itu tidak dijenguk oleh tetangganya sampai sehat lagi.

Lalu siapakah Bu Hadak? Bu RW kah? Bagaimana bisa dipercaya oleh warga kampung kami? Secara structural, Bu Hadak bukanlah bu RT atau Bu RW. Pernah dulu selama satu periode menjadi bu RW padahal beliau adalah pendatang. Namun karena keberadaannya memberi banyak perubahan pada masyarakat akhirnya wargapun memberikan trust / kepercayaan nya pada beliau meski kini sudah tidak menjadi RW lagi.

Beberapa perubahan yang dibawanya antara lain adalah : Menghidupkan PKK, menggerakkan dasawisma, menghidupkan pengajian di Musola, ringan tangan ketika ada yang butuh pertolongan, membentuk grup rebana yang mana ibu-ibu di kampong sangat menggemarinya, terlebih dengan adanya ini ibu-ibu itu jadi memiliki seragam yang bisa digunakan tidak hanya waktu show, tp juga bisa digunakaan untuk laden (menerima tamu di acara pernikahan). Tidak lupa acara favorit ibu-ibu juga dihidupkan: Arisan.

Tentunya peran bu Hadak ini tidak akan pernah ada tanpa keberadaan Pak Hadak. Karena sejatinya mereka adalah pasangan yang saling melengkapi, saling menguatkan. Saya sendiri banyak belajar secara langsung atau pengamatan bagaimana pola bersosial yang mereka lakukan. Bagaimana keluarga ini bisa menjadi semacam cahaya di tengah malam yang mati lampu.

Itu baru sisi dari Bu Hadak, sisi kemasyarakatan. Belum lagi jika ditinjau dari sisi lain. Bagaimana beliau menjalankan perannya sebagai istri menyeimbangi karakter suaminya, bagaimana mendidik anak-anaknya, bagaimana memperlakukan orang tua, mertua, saudara-saudaranya, ponakan-ponaka, bagaimana menjadi Kepala Sekolah, dan lainnya . Semoga di lain kesempatan bisa saya kupas satu persatu.

Dari semua sisi itu, tidak salah jika saya menjadi fans berat Bu Hadak. Sedikit banyak, karakter yang ada pada diri saya seperti apa yang ada diri beliau. Saya akan selalu menghormati beliau, Bu Hadak. Wanita tangguh, yang dari rahimnya lah saya pertama kali menatap dunia ini.

Love U, my Mom

Yogya, 24 Juni 2012
22 tahun lebih 4 hari setelah kau melahirkanku

11 comments on “Bu Hadak dan Ibu-ibu di Kampung Saya

  1. Dhian Nurma
    24 Juni 2012

    Kalau pulang besok, kalau sempat inshaAllah mbak pingin sowan bapak ibuk dek. Semoga bisa🙂

    • kangridwan
      26 Juni 2012

      Yoi

  2. Dewwi Puzpita Sarri
    25 Juni 2012

    like this,…
    semoga bisa meniru ummi kita tercinta..

    • kangridwan
      26 Juni 2012

      amin..

      dan juga Bapak kita
      🙂

  3. Amrih Mahanani
    25 Juni 2012

    Tiap lewat depan rumah Pak Hadak dan Bu Hadak, kok pintunya selalu tutup ya Kang Rid?? hehe

    • kangridwan
      26 Juni 2012

      Anda belum beruntung berarti, Mrih🙂

      • Amrih Mahanani
        26 Juni 2012

        Hohoho,,,
        Jarang mulih pa Kang?

      • kangridwan
        26 Juni 2012

        Hehe, kadang jarang kadang sering.
        Kalo lewat depan rumah, mampir aja. Insya Allah mereka kenal Amrin / minimal tahu, Amrih Mahanani -Majir-

  4. Amrih Mahanani
    27 Juni 2012

    Insya Allah kang, semoga diberi kesempatan sowan sama Pak n Bu Hadak,,,
    Bukan Amrin, tp Amrih,hehehe

    • kangridwan
      6 Oktober 2012

      iya sory mbak, salah ketik og

  5. Ping-balik: Isteri dengan ibu mertuanya | .: Petualang Kehidupan :.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 Juni 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: