.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ketika Laptop Saya Hilang

Suatu ketika saya mendengarkan cerita teman saya yang kehilangan Laptop. Malang sekali nasibnya, terlebih lagi data-datanya belum di-back-up dan yang melengkapi kemalangannya adalah data skripsi di laptop itu juga belum di-back-up. Saya merinding, membayangkan bagaimana hal itu jika terjadi pada saya. Semoga dia bisa ikhlas dan sabar menghadapinya, itu doa saya.

Sepuluh hari yang lalu, saya benar-benar merasakan sendiri apa yang pernah saya bayangkan itu. Laptop saya hilang ! Beserta seluruh data di dalamnya, termasuk data tugas akhir saya. Saya tidur jam 1 malam, jam 3 pagi saya terbangun dan “istri virtual” saya itu sudah raib. Saya merasa mendapatkan pukulan telak setelak-telaknya. Lemas. Sempat bingung sejenak, lalu menenangkan diri. Bagaimanapun, membayangkan tetaplah berbeda dengan merasakannya langsung.

Dini hari itu saya berlari keluar, keliling asrama. Siapa tahu, pencurinya sedang ngumpet. Akhirnya saya berhenti di masjid, ngadu sama yang maha kuasa. Sambil berjalan lesu dari masjid, saya menuju sawah dekat asrama saya. Sambil menunggu subuh, saya duduk sendiri tanpa alas di tepi sawah itu. Membayangkan data-data saya yang ikut hilang. Poto-poto dokumentasi, video, ide-ide saya, karya-karya saya, catatan harian saya, dan lainnya.

Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Kini saya benar-benar bisa memaknai kalimat itu. Bahwa yang hilang itu pada hakikatnya bukan milik saya. Mau tidak mau akan diambil pemiliknya, kapanpun. Kebetulan laptop saya jatah diambilnya malam itu. Saya menelpon ibu saya, sekedar ingin menenangkan diri saja. Kami ngobrol tentang banyak hal, ketika menjelang azan subuh saya mengakhiri telepon, baru dengan memberi kabar tentang berita kehilangan laptop saya. Betapapun berharganya laptop, ternyata masih bisa berbicara dengan ibu dan bapak itu jauh lebih berharga.

Mengikhlaskan sesuatu yang dicintai membutuhkan proses, membutuhkan waktu. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk mengikhlaskan laptop. Tapi untuk data-data di dalamnya, saya membutuhkan waktu yang cukup lama. Bahkan saya baru bisa menguatkan hati untuk menulis note ini setelah 10 hari.

Sesering-seringnya saya menasehati orang lain, tetap saja saya membutuhkan nasehat orang lain. Maka saya mengirim sms pada beberapa kawan saya : Minta dinasehati untuk sabar. Saya tidak cerita tentang musibah ini, saya khawatir mereka ikut merasakan kesedihan. Yang saya butuhkan saat itu adalah nasehat untuk bersabar. Saya jadi paham mengapa 4 perkeculian orang yg tidak merugi dalam surat Al’asr (Demi Masa) adalah mereka yang saling menasehati dalam kesabaran. Beberapa nasehat meraka, klik di sini.

Selalu ada hikmah di seluruh kejadian yang menimpa kita. Saya bisa merasakan kasih sayang orang-orang terdekat saya. Saya bisa merasakan ketulusan mereka, melalui nasehat mereka, melalui empati mereka. Bahkan Dosen Pembimbing Skripsi saya juga meng-sms  saya. Ada juga yang memberi hadiah buku tentang sabar sekaligus cokelat. Beberapa bahkan menawarkan meminjami laptop. Di antara tawaran itu saya memilih tawaran pertama dari kakak saya, saya dipinjami laptopnya.

Ulang tahun tidaklah selalu mendapatkan hadiah pemberian, tetapi juga kehilangan. Dua hari setelah kejadian itu, saya tidak hanya merasakan kehilangan laptop. Ternyata saya juga telah kehilangan jatah hidup saya. Dan semua kehidupan ini akan selalu indah jika kita mau ikhlas, bersabar, juga bersyukur.

Begitu Maha Penyayangnya Allah, saya hingga berfikir bahwa hilangnya laptop saya adalah salah satu bentuk kasih sayang-Nya. Kemudian saya mencermati lagi lebih luas, meng- zoom out berbagai nikmat yang saya rasakan. Ternyata laptop itu hanya setetes dari samudera nikmat yang telah dikaruniakan kepada saya.

Seakan-akan saya sedang ditantang, tanpa laptop tetapkah besemangat merampungkan skripsi?  Tanpa punya laptop masihkah menulis? Tanpa laptop masihkah bisa bertahan? Yang jelas, saya bersyukur masih punya orang-orang terdekat saya yang selalu mendukung saya untuk memenuhi tantangan itu.

Biarlah Bob Marley menyanyikan “No Woman No Cry”, saya ingin mengatakan “No Laptop No Cry”

 

Yogya, 26-6-12
Sendirian di Orange Dorm
Masa Peralihan penghuni Asrama

9 comments on “Ketika Laptop Saya Hilang

  1. Dewwi Puzpita Sarri
    26 Juni 2012

    semoga Alloh meninggikan derajatmu lewat ujian ini.
    amin,..

  2. anak ugm
    26 Juni 2012

    sabar mas… T.T

  3. Muizzatul Ainiyah
    26 Juni 2012

    sekedar menasehati itu mudah, yang susah ketika menjalani sendiri dan tau bagaimana rasanya.
    tapi membaca note ini, serasa ikut merasakan bagaimana susahnya, hingga saya tak berani menasehati dalam kesabaran.

    • kangridwan
      2 Oktober 2012

      menasihatilah, karena Allah memerintahkannya
      🙂

  4. yourha
    28 Juni 2012

    Sama dg kisah k2k teman saya, yg laptopnya kcurian jga. dlamnya jga skirpsi, ya wisuda yg dhrapkan ssuai trget gagal. Mungkin ini yg terbaik..

    makanya, kita diajurkan tuk sling mnshti..hehe
    chayooo..hehe

    • kangridwan
      10 Juli 2012

      chayoo !!!

  5. maisyarahpradhitasari
    30 Juni 2012

    no laptop no cry… SEMANGAT mas.. cobaanya, pasti ada balasan dibaliknya.. semoga skripsinya lekas selesai dngan hasil terbaik

    • kangridwan
      10 Juli 2012

      amin.. doanya ya!

  6. seriesoflirik
    14 Juli 2012

    Hmm . . Canggih lah kata2 nha . . ;D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Juni 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: