.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Surat Untuk Kakak Saya, 1 Oktober 2011

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih yang tak pilih kasih

Dengan nama Allah yang Maha Penyayang yang tak putus sayangNya

Semoga keselamatan tercurah pada Baginda kekasih hati, Muhammad SAW.

 

Dua puluh empat tahun. Yah hampir, seperempat abad kau telah menghirup dunia ini. Tepat tiga windu yang lalu, wanita yang paling kucintai melahirkanmu. Kau telah dinanti oleh Bapak, Ibu, Simbah, dan orang-orang yang menyayangi mereka berdua.

Maka, pertama aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun ke-24. Semoga keberkahan dari Allah selalu mengiringi tiap desah nafasmu, tiap detak jantungmu. Semoga cintamu pada Nya dan pada Rosulnya selalu terjaga. Semoga cintamu pada Orang tua kita terjaga. Semoga cintamu pada saudara-saudaramu terjaga. Semoga cintamu pada orang-orang yang mencintaimu terjaga. Semoga cinta itu membawa pertemuan di surga.

Dua puluh empat tahun yang lalu, Bapak ibu menangis bahagia karena kedatanganmu. Aku waktu itu belum ada. Tentu tak bisa ikut bersama mereka. Tahun ini, sepertinya mereka (dan aku kini bisa ikut) juga akan menangis bahagia. Mereka akan melepasmu, menyerahkanmu pada pria yang beruntung mendapat amanah menjagamu. Tangis bahagia yang mungkin bercampur dengan rasa lain.

Selisih usia kita yang hanya 3 tahun, menjadikan kedekatan kita terlahir secara alami. Aku sering mengikutimu, aku belajar darimu, aku mendengarkan ceritamu. Masih sangat teringat berbagai kisah di waktu kecil dulu.

Waktu terus berlalu, aku merasa kau menjadi sosok pendidik bagiku, selain Bapak & Ibu. Dan akupun sebagai lelaki merasa menjadi pelindung bagimu. Selama bersama di rumah, mungkin aku kurang begitu menyadari pentingnya sosok dirimu. Namun setelah berpisah, kau ke Jogja hingga aku menyusulmu di Jogja, aku menyadari & aku lebih merasakan : betapa beruntungnya begitu.

Aku coba putar sedikit memori di Jogja, beberapa tahun belakangan ini. Waktu itu, satu motor masih kita gunakan bersama. Aku jadi sering menjemputmu di stasiun, begitu pula sebaliknya. Kita juga sering makan bersama, di Emha, Visita, dan juga soto lamongan. Hingga tiap kali aku sakit, kau membawakan bakso Emha. Tidak jarang kau menemaniku, merawatku hingga suatu ketika kau panggil ibu untuk menjemputku. Ah, tak kuasa aku menahan air mata menuliskan paragraf ini.

Aku ingin katakan bahwa dirimu sedikit banyak telah memberikan warna pada diriku. Aku mungkin tidak melihat diriku sebagai diriku saat ini, jika aku tak memiliki seorang kakak sepertimu. Aku ingin mengucapkan beribu bahkan berjuta terimakasih padamu.

Selamat ya, tulisan-tulisan di dinding : Target tahun 2011, hampir semua tercapai. Ngajar? Sudah. Wisuda? Alhamdulillah. Menikah? Tinggal menunggu hari H. Sekali lagi: Selamat ya…

Aku begitu gembira ketika mendengar kabar bahwa Pria yang cocok dg mu meminangmu. Terlebih Pria itu cocok juga dengan yang Ayah ibu inginkan. Aku begitu gembira, aku sujud syukur mendengar berita itu. Aku langsung menelponmu, ingin mendengarnya langsung darimu.

Aku tidak ada lagi halangan berupa melangkahi kakak ketika ingin menikah, meski entah kapan. Tapi bukan itu alasan utamaku gembira. Aku gembira karena kau akan menjadi wanita seutuhnya. Menjadi istri. Usiamu telah menuntutmu untuk segera menyempurnakan agama. Terlebih aku dengar sang Pria adalah seorang yang sholeh.

Namun, beberapa hari kemudian aku berfikir dan aku tersadar. Bahwa aku akan kehilangan sosok pendidik bagiku, sosok yang aku lindungi. Aku akan kehilangan teman bertukar pikiran, teman curhat. Meski aku yakin, kau akan tetap bersedia mendengarkanku ketika aku minta. Namun, kau akan segera mendapatkan tanggung jawab sebagai istri. Kau akan bertemu dengan petualangan di bahtera rumah tangga. Tentu akan berbeda dengan ketika kau belum berstatus menikah.

Ahay, tak apa lah. Aku yakin akan ada ganti yang lain. Teman curhat, teman berdiskusi. Semoga.

Maaf, kalau selama ini sering membuat jengkel, sering bikin mangkel, sering melakukkan kesalahan-kesalahan. Semoga ga terulang lagi.

Yogya, 1 Oktober 2011
kamar widhi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Juli 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: