.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

KECELAKAAN DI QURTEK 1430 (1)

Qurban Teknik 2009

Ini adalah cerita nyata yang pernah saya alami dan tidak akan pernah saya lupakan karena memang tidak bisa dilupakan. Entah berapa kali saya pernah menceritakan pada kawan-kawan saya. Dan selalu saja menceritakannya dengan penuh semangat. Mau tau ceritanya? Langsung saja ke KTP! Eh, salah, TKP  !

Karena ceritanya cukup panjang, saya bagi menjadi 2 cerita bersambung. Cerita yang terlalu panjang seringkali membuat bosan.

 

6 Dzulhijjah 1430 / 24 November 2009

Saya waktu itu menjadi ketua Panitia Qurban Teknik. Tahun-tahun sebelumnya, SKI (Sentra Kerohanian Islam) di teknik mengadakan rangkaian acara Idul Adha sendiri-sendiri. Tahun ini ada gagasan untuk mensinergikannya, membuat kepanitiaan se Teknik dengan payung FUT (Forum Ukhuwah Teknik)

Lokasi yang dipilih adalah Temuwuh Lor, Temuwuh Kidul, dan Watulangka. Ketiganya berada di daerah sekitar Ambar Ketawang, tidak jauh dari Gamping. Yang Jelas harus keluar dari Ring Road yang melingkari Yogyakarta.

Beberapa kali kami mengadakan survey dan berkunjung ke lokasi sebelum acara hari H untuk intens berkomunikasi dengan warga. Sampai tiba di hari itu…

 

Motor Butut Pinjaman

Sore itu survey terakhir. Saya berangkat bersama Adi Mulyana. Boncengan. Motornya pinjam mas Dimas Budi. Waktu itu saya belum ada motor, motor di Yogya ada tapi dipakai oleh Kakak saya.

Jangan bayangkan motor Mas Dimas itu versi keluaran terbaru. Suaranya bisa terdengar dari jarak yang cukup jauh, berisik. Setiap kali nyalip orang, orang tersebut akan batuk-batuk. Stangnya agak miring sedikit. Mungkin motor keluaran pertengahan 90an

“Usahakan maghrib sudah dikembalikan. Mau saya pakai”, begitu pesannya.

 

Mio tak berbentuk Mio

Butuh waktu 45 menit dari kampus menuju ke lokasi. Setelah selesai survey saya dan Adi pulang duluan, agar magrhib sudah sampai kampus. Motor butut ini lumayan bisa ngebut, apalagi di Ring Road.

Seperti kita tahu, Di ring road ada jalur lambat yang digunakan para pengendara sepeda motor. Dalam jarak beberapa ratus meter ada putusan jalan yang dipakai untuk pindah jalur menuju jalur utama. Biasanya yang melewatinya adalah mobil, atau siapapun yang mau berbalik arah.

Kecepatan 80 km/jam bisa dibilang ngebut, untuk motor Mas Dimas. Di depan saya ada Motor Mio yang mau saya dahului. Yang namanya mendahului harusnya lewat sebelah kanannya, kecuali jika yang didahului itu mau belok kanan.

Tiba-tiba saja, tanpa menyalakan lampu sent, mio itu minggir ke kanan, ke arah putusan jalan. Saya kaget, padahal kecepatan lumayan tinggi karena mau mendahuluinya. Saya rem sekuat tenaga. Sialnya, rem belakang kurang berfungsi. Untungnya rem depan masih berfungsi baik.

Cuiiitttttt (gimana sih suara ngerem?)

Namun yang namanya berkecepatan tinggi, untuk melambatkan kecepatan tetaplah membutuhkan waktu. Sementara itu, mio di depan saya juga ngerem karena mau pindah jalur. Motor saya sudah mengalami perlambatan, tapi jarak dengan mio di depan saya terlalu dekat. Roda depan motor yang saya kendarai menabrak mio. Waktu yang diperlukan tidak cukup.

Brakk !!

Suaranya cukup keras.

Saya dan Adi terlempar ke arah kiri jalan terseret beberapa meter. Saya berhenti tepat dalam jarak beberapa cm dari pohon besar. Untung saja tidak membentur pohon. Motor yang saya kendarai jaraknya beberapa meter dari saya.

Apa yang terjadi dengan Mio di depan saya?

Mio itu juga terlempar, tapi ke arah kanan, masuk di jalur utama. Malangnya, Mio itu masuk ke bawah kolong truk tronton besar. Mio itu tidak berbentuk motor lagi. Remuk. Peot di sana sini.

Bagaimana dengan pengendaranya?

Anak muda yang mengendarai mio itu terlihat seperti orang setres. Meratapi mio yang remuk dan tak berbentuk mio itu sambil berteriak-teriak histeris. “Mioku !! Mioku !!”

Demi melihat pengendara di depan saya masih selamat, saya bersyukur. Sangat bersyukur. Kata pertama yang saya ucapkan setelah terjatuh dan melihat pengendara mio itu masih sehat : “Alhamdulillah”

Mio tak berbentuk Mio

Betapa mudahnya Allah membalikkan kondisi dalam waktu begitu cepatnya.

Beberapa menit sebelum kecelakaan, Mio itu terlihat keren, gagah. Sementara motor yang saya pakai begitu butut. Begitu kontras dengan Mio. Namun dalam hitungan menit, bahkan detik. Mio itu tidak berbentuk Motor, sementara itu motor Mas Dimas meski juga rusak, masih mending. Bisa dibilang “ini motor”

Beberapa menit sebelum kecelakaan, pengendara Mio tersenyum gembira dengan Mio kerennya. Saya begitu gembira, hari H Qurtek semakin dekat. Namun dalam hitungan menit, bahkan detik. Pengendara Mio itu setress, berteriak histeris dan saya shock berat.

Apa saja begitu mudah bagiNya, jika yang Maha Kuasa berkehendak.

[bersambung… klik di sini ]

Kutoarjo, 9/7/12

One comment on “KECELAKAAN DI QURTEK 1430 (1)

  1. Ping-balik: KECELAKAAN DI QURTEK 1430 (2) | .: Petualang Kehidupan :.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Juli 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: