.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

KECELAKAAN DI QURTEK 1430 (2)

Cerita sebelumnya, klik disini

luka di sana-sini

Orang di Negara Saya

Ring road sore itu menjadi ramai. Lumayan membuat jalan sedikit macet. Seperti biasa, kecelakaan menjadi tontonan yang cukup menarik bagi orang-orang di negara saya. Banyak yang ingin menolong semampunya, meminggirkan motor, menenangkan korban kecelakaan, menghubungi pak Polisi. Namun tidak sedikit juga yang just want to know, tontonan gratis gitu.

Saya shock berat. Dibawa ke warung pinggir jalan. Ditanya tidak menjawab. Ketika polisi meminta SIM dan STNK hanya berikan begitu saja. Diam tanpa menjawab pertanyaannya.

“Dianya sedang shock, Pak” Adi menjelaskan pada Pak Polisi.

Motor yang saya kendarai dibawa pak Polisi, begitu Mio yang tak berbentuk Mio itu. Maghrib tiba, dan saya tidak bisa mengembalikan motor mas Dimas tepat waktu, malah motor itu jadi dipinjam pak Polisi.

Saya shalat maghrib di warung itu. Pemilik warung sangat ramah, sebagaimana kebanyakan orang-orang di negara saya. Saya di beri air minum, dipinjami sajadah untuk shalat maghrib.

Seusai shalat maghrib saya bimbang, apakah akan menelpon rumah (baca: Bapak Ibu). Saya tidak ingin merepoti orang rumah selama saya bisa mengatasinya. Tapi berhubung ini menyangkut motor Mio, yang harganya belasan juta. Ini menyangkut Uang. Mau tidak mau saya menghubungi rumah.

“Bagaimana? Bapak perlu ke Jogja sekarang apa? Butuh uang berapa” Orang tua saya menenangkan saya.

“Tidak usah, Bu. Nanti kalau memang butuh bantuan saya kabari secepatnya. Insya Allah urusannya bisa saya beresi.”

Ada orang baik yang menawari saya untuk kembali ke kos saya, diantar menggunakan mobilnya. Lagi-lagi, di negara saya memang banyak orang yang suka menolong dengan ikhlas. Masnya bercerita kalau tadi ketika saya baru saja terjatuh ada orang yang beniat mau mengambil dompet saya. Masnya melihat dan akhirnya orang itu tidak jadi melakukan aksinya. Begitulah, di negara saya juga tidak sedikit orang yang mencari kesempatan dalam kesempitan.

Malam itu, saya dan Adi ke GMC (puskesmasnya UGM). Meski sudah tutup tetapi penjaganya baik hati. Dia membukakan pintu, lalu mengeluarkan obat luka yang ada. Membantu mengobati sebisanya. Luka saya tidak cukup parah, hanya lecet di sana sini. Celana, Jaket, dan tas sedikit terkoyak. Hanya sedikit terasa sesak di dada karena benturan. Namun itu tidak lama.

 

Diplomasi di Pos Polisi

Rasa sakit tidak selalu terasa just in time, terkadang baru terasa beberapa saat setelahnya. Besoknya ketika bangun tidur, badan terasa sakit di sana sini. Kepala pusing. Menjadi lebih pusing lagi ketika teringat tanggung jawab saya sebagai ketua Qurtek, dan kepikiran tentang motor Mas Dimas yang masih di kantor polisi.

Di tengah kepeningan itu, ada telepon masuk.

“Dengan saudara Ridwan? “

“Ya saya sendiri”

“Harap segera ke pos Polisi, sekarang juga! Agar urusan segera selesai. Sudah ditunggu oleh pihak pengendara Mio dan Pengemudi Tronton”

“I.. iya, Pak. Saya segera ke sana”

Meminjam motor kawan, saya menuju pos polisi dalam keadaan luka yang belum diperiksa oleh pihak medis. Saya mengajak Adi yang kemarin membonceng saya. Setidaknya dia bisa menjadi saksi.

Saya & Adi beberapa menit sebelum kecelakaan

Selama perjalanan menuju pos polisi, saya berfikir menyiapkan argumentasi, siapa tahu nanti diintrograsi, seperti di tivi-tivi, sembari berdoa pada Ilahi Robbi : Rabbisrahli amri, wahlul’uqdatan min lisani, yaf qouhu qouli. Ya Allah mudahkanlah urusanku, dan lancarkanlah lisanku untuk mengutarakan apa yang aku maksudkan. Kurang lebih artinya begitu. Doa yang diucapkan Musa ketika akan menghadapi Fir’aun.

Bukan berarti saya menyamakan pak Polisi dengan Fir’aun. Mana bisa. Fir’aun di Mesir, sementara pak Polisi di Indonesia.

Saya tiba di Pos polisi sekitar jam 10 pagi. Banyak motor-motor bekas kecelakaan terjejer rapi. Di antaranya ada motor mas Dimas yang mau saya ambil. Ada juga motor yang sudah tidak berbentuk motor. Tepat sekali, mio malang itu.

Di dalam pos polisi itu ada Pengemudi Tronton, seorang Bapak-bapak berkumis dari pihak Mio (yang selidik punya selidik, Bapak itu juga seorang polisi meski berpakaian biasa saja). Pak polisi yang masih muda dan wajahnya menyenangkan itu menyambut kedatangan saya. Mempersilahkan bermusyawarah.

“Jadi adek udah lihat sendiri kondisi motor keponakan saya. Ya, bantu berapa gitu lah!” kata Pak Kumis to the poin.

Saya menghela nafas, menenangkan diri, memantabkan suara.

“Begini Pak, saya sudah melihat kondisi motor keponakan Bapak. Bapak mengalami kerugian karena kejadian ini. Nah, saya juga Pak. Motor yang saya pakai itu juga rusak. Perlu diperbaiki. Saya juga luka-luka, bisa bapak lihat sendiri ini. Belum lagi dada saya agak sesak, belum saya periksa ke dokter. Saya mahasiswa Pak, anak kos. Itu motor saja pinjam og.”

Bagaimanapun, yang membuat Mio malang itu remuk adalah karena terinjak tronton, bukan terinjak motor yang saya kendarai. Masuknya Mio malang itu ke kolong tronton lah yang melibatkan saya. Namun, tetap saja dia yang salah, karena tidak menyalakan lampu sent. Pak Kumis tetap tidak bisa banyak berargumen, dia hanya mewakili korban kecelakaan, bukan korbannya langsung.

Jadi, urusan remuknya Mio itu adalah kasus kecelakaan antara Mio dengan tronton.

Suasana terdiam, tidak ada yang mengeluarkan suara. Tiba-tiba pak Polisi muda menengahi.

“Begini Pak, maksud masnya ini bayar kerugian sendiri-sendiri”

“Tepat sekali ! Maksud saya begitu !” hamper-hampir saya berteriak.

“Ya sudah”

Akhirnya saya membuat surat pernyataan damai di atas materai. Ditanda tangani saya dan pak Kumis. Setelah itu saya diberi kunci dan surat-surat saya. Saya pamit mengambil motor Mas Dimas. Hebatnya, Pak Polisi Muda itu tidak meminta semacam uang pada saya. Padahal, biasanya tidak begitu. Diminta mengisi uang kas atau apa istilahnya.

“Bagaimanapun kondisinya, Show must go on Wan !” Kata Mas Wahyu menyemangatiku agar Qurtek tetap berjalan.

Alhamdulillah, Qurban Teknik 1430 memberi saya pelajaran sebagaimana yang dialami nabi Ibrahim, yaitu tentang kesabaran, keikhlasan, kesungguhan, dan keberanian. Qurtek 1430 berjalan lancer. Teman-teman panitia tidak banyak orang yang tahu tentang kejadian ini.

Semoga, pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita saya ini.

Bintaro, setelah mbolang di Ibu Kota

10 Jul 2012

Iklan

3 comments on “KECELAKAAN DI QURTEK 1430 (2)

  1. Ping-balik: KECELAKAAN DI QURTEK 1430 (1) | .: Petualang Kehidupan :.

  2. hamid
    10 Juli 2012

    banyak hikmah kang di balik setiap kejadian 🙂 , thanks uda berbagi

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      semoga kita bisa mengambil hikmah yang tercecer itu, Mid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Juli 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: