.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Isteri dengan ibu mertuanya

Pernikahan akbar tahun ini bagi para Aktivis Dakwah di UGM adalah pernikahan antara Nizam Zulfikar (Dai Muda ANTV) dengan Floweria. Saya menghadiri akad nikah yang diadakan di Maskam 7/7/2012 kemarin. Mbak Flow pernah menjadi kepala Sekolah CWC (Forum Lingkar Pena), sementara itu adiknya sekaligus wali nikahnya adalah Fallery, ketua BEM Teknik UGM 2011 yang hidup seatap dengan saya selama 2 tahun terakhir, sama-sama peserta PPSDMS.

Saya tidak akan menceritakan begitu “wow” nya acara pernikahan bahagia ini. Namun saya akan membahas salah satu isi nasehat pernikahan yang diberikan oleh Ustadz Didik Purwodarsono. Beliau spesialis dalam materi pernikahan & rumah tangga. Saya bahkan hampir-hampir sampai hafal isi materi yang beliau sampaikan di mana saja, termasuk di acara akad nikah kemarin. Ada yang menarik dari nasehat nikah tersebut dan akan sedikit saya ulas pada kesempatan ini.

“Salah satu wujud cinta adalah dengan mencintai apa yang dicintai oleh orang yang kita cintai. Jadi, besok mbaknya harus bisa mencintai Ibu Mertua Anda. Karena 95 % istri yang tinggal serumah dengan ibu mertua, itu tidak bisa akur. Termasuk istri saya” kata Pak Didik.

“Kalau tiap Ibu saya ke rumah saya, atau saya dengan istri saya ke rumah ibu saya kepala saya kiri kanan pusing. Ibu saya bilang, istri kamu itu kok bla bla bla. Kepala saya yang kiri pusing. Ketemu istri saya, istri saya bilang, Mas Ibu kok bla bla bla. Kepala saya  yang kanan pusing. Jadi komplet “ Saya ngakak mendengar cerita pak Didik.

##

Seingat saya, ada dua orang yang pernah disebut oleh Bapak saya, pandai memilih istri. Pertama adalah Bapak saya sendiri. “Wan, Bapak pinter kan milih istri yg jadi ibu buat kalian”. Untuk kepiawaian Bapak yang satu ini saya takjub dan musti belajar banyak. Bagaimana ibu saya bisa memainkan peran sebagai istri, ibu, menantu, dan Bu Hadak. Kapan-kapan saya akan menuliskannya untuk pembaca sekalian.

Kedua adalah Lek Paryadi (LP). Beliau masih terhitung saudara Bapak saya, saudara sepupu lebih tepatnya. Ibunya Lek Paryadi, mbah Tun, dikenal sebagai orang yang keras dan mudah emosi. Namun, istri Lek Paryadi begitu pandai ngemong mertuanya. Meski tinggal serumah tak jadi masalah. Bahkan Mbah Tun sering memuji menantunya itu. Hebatnya lagi, ketika Mbah Tun begitu nurut saja ketika diberi masukan oleh menantunya itu. “Mbok, bajunya sudah kotor. Ganti yang lebih bersih si!”. Ajaib. Mbah Tun kemudian ganti Baju.

Maka kali ini saya tambahkan kriteria istri ideal  yaitu : Bisa mengambil hati ibu mertua.

Sang menantu sebagai yang lebih muda haruslah mau mengalah, memberikan rasa hormat, melayani ibu mertua sebagaimana Ibunya sendiri karena dari rahimnya lah suaminya dilahirkan, kemudian dibesarkan, dididik. Ibu mertua sebagai yang lebih tua, lebih lama merasakan hidup di dunia, biasanya akan susah untuk mengalah dengan yang lebih muda apalagi masih dianggap orang asing. Namun, jika sang menantu memperlakukannya seperti ibu sendiri otomatis sang ibu mertua akan menganggapnya sebagai anak sendiri bahkan bisa jadi akan memujinya, membelanya ketika menantunya ada masalah suaminya.

Jangan lupa, menikah tidak bukan hanya urusan antara 2 insan manusia. Seorang yang menikah tidak hanya akan menjadi istri / suami, tetapi juga menjadi menantu, memiliki saudara-saudara baru, tetangga-tetangga baru, kawan-kawan baru, kebiasaan-kebiasaan baru, dan suasana baru. Itu yang musti diperhatikan, dipersiapkan. Minimal dipikirkan sejak sekarang.

#efek ikut acara Akad nikah
Bintaro, rumah Mas Roso & Mbak Dewi
12 Jul 2012

//

Iklan

7 comments on “Isteri dengan ibu mertuanya

  1. ukhtishalihah
    12 Juli 2012

    wow,masyaAllah.. izin share nggih akh 🙂
    sayang sekali kemarin saya ndak bisa hadir akad nikah sama walimah mba flo, membaca ini sedikit banyak bisa kasih gambaran 🙂

    • kangridwan
      30 Juli 2012

      monggo monggo, saya ini baru sebatas teori. Kalo antum sendiri yang nulis pasti lebih mangstab. Lha bener2 udah ngerasain jadi menantu.

      • ukhtishalihah
        31 Juli 2012

        ah ndak juga, tulisan tentang pernikahan itu kadang kalau yg nulis orang yg belum nikah justru malah lebih mengena bagi kami-kami yg udah nikah ini. semacam mengingat kembali saat-saat sebelum nikah dulu, jadi inget segala niatan dan harapan di awal. jadi bisa introspeksi lagi setelah bertahun-tahun menikah, adakah semua niatan baik itu masih sama seperti dulu 🙂

  2. Suantari Desi
    12 Juli 2012

    ijin share ya, Mas.. terima kasih ^^

    • kangridwan
      30 Juli 2012

      silakan silakan, makasih juga mbak

  3. kak ana
    14 Juli 2012

    hmm,,ridwan as always..

    • kangridwan
      30 Juli 2012

      as always or as usualy?
      🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Juli 2012 by in ngaji yuk, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: