.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ketika Saya Menjadi Peserta Terbaik

Peserta terbaik PPSDMS Regional 3 Yogyakarta

Wisma Makara UI dipenuhi oleh sekitar 300an mahasiswa – mahasiswi dari kampus terbaik di Indonesia. Mereka berasal dari  5 regional yaitu : Jakarta (UI), Bandung (ITB dan  Unpad) , Bogor (IPB), Yogyakarta (UGM), dan Surabaya ( ITS dan Unair). Hari ini (15/7) menjadi hari yang bersejarah bagi PPSDMS. National Leadership Camp (NLC) sekaligus peringatan 10 tahun PPSDMS. Di usianya yang mencapai satu dasawarsa, pembinaan untuk membentuk pemimpin masa depan terus berkembang. Angkatan V yang telah dibina selama 2 tahun akan menjadi alumni, sedangkan angkatan VI akan dilantik sebagai peserta.

Jati diri peserta PPSDMS ada 4, yaitu : Aktivis Islam, Aktivis Pergerakan, Mahasiswa Berprestasi, dan menjunjung tinggi kebersamaan. Jati diri itulah yang seharusnya ada pada diri peserta PPSDMS. Maka sudah tidak menjadi hal baru ketika peserta PPSDMS menjadi ketua BEM, ketua LDK, ketua lembaga mahasiswa lainnya, memenangi lomba di tingkat nasional maupun internasional, mengikuti program pertukaran pelajar atau conference di luar negeri, dengan tetap menunjukkan identitas keislamannya.

Proses pelantikan Alumni di lakukan secara simbolis kepada satu perserta perwakilan dari masing-masing regional. Peserta yang mewakili adalah peserta terbaik regional selama masa pembinaan.

Saya merasa biasa saja, wong secara logika saja, saya tidak pantas menerimanya. Terlalu banyak alasan untuk tidak menjadikan saya sebagai peserta terbaik. Terlalu banyak kawan-kawan saya yang lebih keren dan jauh lebih keren dari saya. Intinya, probabilitas saya menjadi peserta terbaik sangatlah kecil, sangat kecil, mendekati nol. Jadi, saya tidak mengalami keringat dingin atau dag dig dug, atau semacamnya.

Untuk melihat tingkat kekerenan, tinggal cocokkan dengan 4 Jati diri peserta PPSDMS. Andalan saya sebagai aktivis islam paling-paling ngajar TPA, andalan sebagai mahasiswa berprestasi hanya satu : Juara emas Pimnas, meski IP pas-pasan. Di dunia pergerakan, baru sebagai penggembira, terlalu jauh jika disebut aktivis. Menjunjung tinggi kebersamaan, saya hanya bisa melakukan apa yang saya bisa.

Sementara itu, di sebelah saya ada kawan saya, Zaki, orang yang super keren. Opin-opininya berkali-kali dimuat di media cetak nasional, essaynya dipresentasikan di berbagai konfrens. Kemampuan debatnya terbukti dalam berbagai lomba yang dimenanginya. Menjadi menteri pada 2 periode kepengurusan BEM KM UGM, jatidiri aktivis pergerakaan tidak diragukan lagi. Sering menjadi pembicara bahkan di kampus lain. Keren abis lah, jika dibanding saya.

Maka kembangkan senyum, sambil menyalami Zaki.

“Siap-siap maju, Zak. Rambutnya disisir dulu nih” canda saya sambil ketawa.

Sampai tiba giliran regional saya.

“Peserta terbaik PPSDMS Regional 3 Yogyakarta jatuh kepada …”

Teretet tetet

“Ridwan Kharis”

Saya melongo. Tidak salah dengar nih? Kanan kiri saya menyalami saya dan menyuruh saya segera maju sementara saya masih tidak percaya dan kembali bertanya-tanya : Ini tidak salah nih?

berama sang guru, ustadz Musholli

Hingga saya naik ke panggung bersama 5 peserta dari regional lainnya, kemudian banyak mata memandang saya, pak Musholli mendatangi dan menyalami saya, sampai-sampai seusai acara saya diceburkan ke kolam renang oleh kawan-kawan dari Surabaya, saya masih bertanya-tanya : Ini tidak salah nih?

Kemudian saya berandai-andai, bermain asumsi. Jangan-jangan yang dipilih menjadi peserta terbaik adalah yang datang hari ini -agar tidak perlu diwakilkan- sementara itu dari 27 peserta regional Yogya, yang datang hanya 5 orang karena yang lain sedang KKN.

Atau bisa jadi sebenarnya 5 orang yang datang ini adalah 5 peringkat terbawah dari peserta Jogja, saya peringkat 23. Karena itu peringkat terbaik maka saya yang maju. Sebenarnya ada 22 peserta yang sebenarnya lebih berhak dari saya.

Atau jangan-jangan pemilihannya menggunakan sistem lempar koin, seperti yang pernah saya lakukan di FIM ketika sulit menentukkan 2 kandidat yang sama kuat, padahal yang diambil satu orang. Namun, ini segera terbantahkan karena syarat minimalnya saya harus masuk peringkat 2 teratas. Padahal itu juga sesuatu yang menurut saya tidak mungkin.

Di tengah keraguan saya, tiba-tiba saya teringat bahwa PPSDMS itu institusi yang menjunjung tinggi profesionalitas. Tanpa adanya itu, PPSDMS tidak akan bisa dipercaya oleh mitra-mitranya. Dengan silogisme itu, saya simpulkan bahwa pemilihan peserta terbaik juga dilakukan secara professional. Tidak ada alasan : yang dipilih adalah yang datang, ataupun menggunakan lempar koin.

Selama masa pembinaan, hampir setiap bulan newsletter PPSDMS terbit. Disitu diumumkan peserta terbaik regional dengan berbagai prestasinya. Selama itu pula saya sekalipun belum pernah nongol menjadi peserta terbaik regional. Namun tiba-tiba saja saya menjadi peserta terbaik regional bukan perbulan atau persemester tetapi selama periode pembinaan.

Saya menyadari hal baru. Bahwa ternyata standar kriteria baik yang dibuat oleh manusia bisa saja berubah. Hukum relatifitas berlaku di sini, bahwa apa yang saya pikirkan tidak selalu sama dengan yang orang lain pikirkan. Saya yang sering mengatakan “Anda adalah yang paling tahu tentang diri Anda sendiri” , seringkali tidak menyadari tentang diri saya sendiri. Makanya saya butuh orang lain sebagai cermin.

Innamal a’malu binniyat. Dulu saya sering melakukan sesuatu niatnya ingin mengejar poin prestasi agar bisa menjadi peserta terbaik dan saya tidak pernah mendapatkannya. Keikhlasan saya terkontaminasi. Saya terus berusaha memurnikan niat saya, berusaha membuang kotoran hati, agar apa yang saya lakukan tidak sia-sia. Begitu nasehat Ustadz Musholli yang tidak sekedar ingin saya dengarkan saja.

Maka, saya membuang keinginan saya untuk bertanya kepada pengurus pusat yang tentunya memilih peserta terbaik dengan bermusyawarah itu. Keinginan untuk melakukan PK (Peninjuauan Kembali). Saya buang jauh-jauh. Jangan-jangan tebakan awal saya bahwa sebenarnya penghargaan peserta regional terbaik itu salah alamat itu adalah benar. Bisa berabe !

Saya merasa belum bisa menjadi yang terbaik meski mendapatkan penghargaan itu. Maka saya memaknainnya bahwa menjadi peserta terbaik itu sesungguhnya adalah nasihat : Berusahalah menjadi yang terbaik ! Liyabluwakum Ayyukum Ahsanu ‘Amala

Buru-buru saya saya sms Ibu Bapak saya kalau anak mereka tadi naik panggung menjadi peserta terbaik regional. Meski mereka tidak bisa menyaksikan langsung, saya yakin sms saya menjadi sebuah kado spesial yang membahagiakan mereka. Dan kau mau tahu bagaimana balasan sms itu ?

“Alhamdulillah. Selamat !! Bapak Ibu bangga, meski hanya bisa membayangkan dari rumah”

Seakan-akan saya merasakan apa yang Bapak Ibu saya rasakan.

.. dan saat itu saya menitikkan air mata, diwaktu yang tepat.

 

 

Pondok Ranji, Jakarta Coret
16 Juli 2012
Status : Alumni PPSDMS

Iklan

8 comments on “Ketika Saya Menjadi Peserta Terbaik

  1. pramudyaarif
    16 Juli 2012

    keep calm,boi.bisa jadi,itu semesta untukmu

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      amin..

  2. wahyu awaludin
    16 Juli 2012

    kau memang hebat kok, brooow..
    🙂

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      ente jauh lebih keren dari ane kok, Brow
      😀

  3. Nunik
    16 Juli 2012

    hehehe,,sepeti biasanya, tulisanmu lucu…
    kalo ternyata beneran cuma ambil dari yang hadir aja, gimana, wkwkwkw…

    enggak kok wan, becanda. 😀
    kamu layak mendapat kannya kok.. bener deh..
    semangaaat 🙂

    barakallah ya wan…

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      Amin..

      😀

      Makasi suportnya, Bu Menteri!

  4. Little Light
    18 Juli 2012

    Congratulations.. 🙂

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      tengkyu mbaknya
      🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 16 Juli 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: