.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pemulung dan Bangsa yang Lemah

 

“Terimakasih mas” ujar pemulung yang sedang mengorek-orek tempat sampah kos saya tapi kemudian saya beri botol air mineral kosong padanya. Wow, barang yang tadinya sampah tiba-tiba menjadi bernilai ketika berpindah tangan.

Di Karanggayam, sekitar kos saya yang sekarang, saya lebih sering melihat pemulung dibanding ketika di Pogung atau di Ngabean. Jumlah mereka lumayan banyak, pria wanita, tua muda, ada semua. Sepertinya jalan dekat kos saya ini merupakan jalur lalu lintas utama para pemulung .

Saya sendiri lebih respect pada pemulung dibanding pengemis sebagaimana Rasulullah pernah berkata bahwa orang yang mencari kayu bakar, mengumpulkannya, lalu menjualnya itu lebih baik daripada meminta-minta. Nah, di kota kan jarang ada kayu bakar dan sekarang jamannya menggunakan gas, tidak kayu bakar. Kayu bakar bisa dianalogikan barang yang tak berguna tapi bisa dijual. Itulah pemulung.

Namun akhir-akhir ini sepertinya kita sering menemui tulisan “Pemulung Dilarang Masuk!” di berbagai mulut gang di sekitar kita. Iya kan? Kenapa bisa demikian? Seakan-akan masyarakat memiliki keseragaman sikap dalam menghadapi keberadaan pemulung.

Bahkan di salah satu gang yang sering saya lewati ada tulisan yang lebih sangar : “Pemulung dilarang masuk. Anda Mencuri, Bersiaplah Untuk Mati !”. Sesuatu yang menarik bagi saya sekaligus membuat saya emosi !

Apa gerangan dasar dari pelarangan ini? Oo, ternyata oleh kejengkelan semata.Ternyata terkadang pemulung tidak hanya mengambil barang-barang di tempat sampah saja, tapi juga panci atau jemuran. Ternyata terkadang karung yang dibawanya tidak hanya berisi sampah pilihan, tetapi juga sandal atau sepatu di teras rumah. Ternyata tidak hanya sebagai pemulung, tapi juga penilep.

Pemulung itu ibarat bakteri pengurai. Memang terkadang kurang membuat nyaman, tapi sejatinya keberadaannya dibutuhkan. Dunia ini mungkin sudah penuh andai saja tidak ada bakteri pengurai. Sampah bisa menjadi urusan besar jika tidak ada yang mau mengurusnya. Kasus ini sering kita lihat di televisi diman masyarakat menolak keberadaan TPA di sekitarnya. Sampahnya bahkan hingga menggunung.

Kita sendiri pernahkah berfikiran sampai sejauh itu? Memang benar, “buanglah sampah pada tempat sampah”. Nah, kalau tempat sampahnya sudah penuh sampahnya mau dikemanakan? Untuk membiasakan membuang sampah di tempatnya saja masyarakat kita masih perlu diingatkan. Sudah peringatan diipasang dimana-mana saja masih banyak yang melanggarnya. Jadi, sepertinya tidak sampai terfikir sampai mengelola sampah.

Jika ada polisi yang malak, disebut Oknum Polisi. Jika ada TNI yang ngamuk sambil mainin senapannya disebut oknum TNI. Jika ada Pengacara yang main perkara, disebut oknum pengacara. Jika ada hakim yang main sogok, disebut oknum hakim. Jika ada guru yang asusila pada muridnya, disebut oknum guru. Lha ini, kenapa penilep itu tidak disebut Oknum pemulung ? Bukankah tidak semua pemulung itu penilep. Bukankah pemulung dengan pencuri itu beda? Mengapa kita mudah sekali menyamaratakannya?

Jelas ini tidak adil. Dan ketidakadilan ini pasti karena ketakutan kita pada yang kuat dan keangkuhan kita di hadapan yang lemah. Padahal, hanya berani pada yang lemah adalah ciri-ciri manusia yang lemah. Maka gawat sekali keadaannya kalau begitu. Dari pelarangan terhadap pemulung ini watak kita sebagai bangsa yang lemah mudah sekali tertebak.

Karanggayam -Yogya-
27 Jul 2012

One comment on “Pemulung dan Bangsa yang Lemah

  1. Didot
    23 Februari 2015

    Faktanya banyak pemulung merangkap jadi pencuri, terutama yang beroperasinya pagi2 sekali (subuh).

    Baru tadi subuh tutup bak sampah depan rumah saya yang terbuat dari plat besi dijebol dan dibawa pemulung.

    Tahun lalu besi penutup selokan rumah tetangga juga dijebol dan diambil pemulung, sampai mobinya tidak bisa keluar rumah rumah.

    Pemulung sudah sepatutnya dilarang masuk ke perkampungan atau perumahan, karena kerap membuat jengkel. Kalau tidak mencuri biasanya mengacak-acak sampah terutama sampah yang dimasukkan ke dalam kresek.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 Juli 2012 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: