.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Dunia – Akhirat Seimbang? Salah Besar !

Suatu ketika Paijo yang sedang di Jakarta mendapat kabar bahwa ia harus segera kembali ke Jogja. Darurat. Sayangnya, tiket pesawat sudah habis. Di bulan puasa yang mendekati lebaran ini tiket kereta juga sudah habis. Paijo ke terminal, juga tidak kebagian bus. Ke pelabuhan? Aje gilee !

Sore itu Paijo ke masjid, eh ketemu orang-orang shalih dan dianjurkan untuk ke terminal besok pagi setelah subuh. Paijo mengikuti saran itu dan sesampai terminal ada kabar gembira : ia ketemu orang yang senasib dengannya. Lebih gembira lagi, jumlahnya tidak hanya satu. Ada 5 orang. Bahkan melihat orang susah pun bisa menjadi kebahagiaan ketika itu bisa menjadi kawan senasib.

Akhirnya mereka berenam menyewa mobil untuk mengantar sampai Yogya. Bagaimanapun keadaannya ketika tidak sendirian, ketika bersama-sama, ternyata bisa meringankan beban satu sama lain.

Paijo duduk di depan, samping pak sopir. Pak sopir itu suka sekali bercerita dan akhirnya Paijo menjadi pendengar yang baik.

“Sebelum jadi sopir, saya 5 tahun bekerja di Batam”

“Oya?”

“Nah, kalau di Batam, suasananya selalu saja pengin nge-Sex terus Mas”

Paijo sedikit terperanjat. Kaget. Posisi duduknya sedikit berubah. Baginya, pembicaraan ini bakal menjadi hal yang menarik.

“Wah, berarti.. berarti Bapak pernah nyobain gituan dong Pak?” Paijo benar-benar penasaran.

“Ya sudah dong. Mulai dari orang Cina, orang Malaysia, orang Singapura, sudah saya cicipi semua tuh”

Astaghfirullah, batin Paijo.

“Ga takut dosa Pak?”

“Nah, meskipun begitu saya tetap menyeimbangkannya dengan sering-sering sedekah, juga rajin solat jumat. Dunia dan Akhirat biar seimbang gitu” ujar Pak Sopir dengan santainya.

Gubrakk

 –##–

Sering kali kita mendengar atau bahkan kita sendiri yang mengatakan kalau urusan dunia dan akhirat itu harus seimbang. Ternyata itu suatu kesalahan. Pernyataan itu saya dapat ketika mengikuti ceramah sebelum shalat tarawih. Awalnya saya tidak sepakat, hampir saya memberontak. Tapi kemudian saya mencoba open mind, mendengarkan dulu penjelasannya dan akhirnya saya sepakat.

Manusia yang terlanjur hidup sesungguhnya akan abadi. Kalaupun ada kematian, sebenarnya itu hanyalah berpindah alam saja, menuju alam akhirat. Mampir dulu di alam kubur sambil menunggu hari kiamat / hari perhitungan. Setelah itu baru masuk surga atau neraka. Pilihannya hanya 2 : surga atau neraka, itu saja. Ada yang langsung masuk surga, ada yang mampir dulu ke neraka (bisa sebentar, bisa lama), ada juga yang di neraka selamanya. Akhirat inilah alam yang kekal.

Makanya di ayat terakhir surat An-Naba’ disebutkan bahwa orang kafir berkata: ya laitani kuntu turoba, “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah” Mending jadi tanah saja, tidak usah jadi manusia.

Coba kau baca surat Al-A’la (Sabbihis) ayat 17: walal akhirotu khoirotuw wa abqo, Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.

Masih ada lagi, surat Al Mu’min ayat 39 :

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

Kok jago amat sih? Bisa tahu ayat-ayat di Al Quran. Hehe, gampang kok. Tinggal buka Al Quran Digital, lalu searching menggunakan keyword yang kita pengin, langsung ketemu. Alhamdulillah, kita udah di zaman digital. Teknologi juga membantu kita untuk mengkaji Al Quran.

Bagaimana kita mau menyamakan urusan dunia dengan urusan akhirat? Padahal yang satu sementara satunya kekal. Secara ilmu managemen pun prioritas akhirat jauh lebih tinggi dibanding dunia. Bukan seimbang, tapi adil. Adil itu memperlakukan sesuatu sesuai dengan porsinya, sesuai dengan sifatnya. Bapak yang adil tidak akan memberi uang yang sama besarnya antara anaknya yang masih SD dengan yang sudah mahasiswa. Kalau sama, justru itu tidak adil.

Perlu kita sadari pula bahwa hidup di dunia ini sebenarnya saatnya mempersiapkan bekal menuju ke kampung akhirat. Bekal itu harus cukup. Hidup di dunia ini saatnya menanam, yang panennya ketika sudah di akhirat kelak. Seharusnya, semua aktivitas yang kita lakukan memiliki orientasi akhirat. Apakah yang kita kerjakan itu menambah ilmu? Menambah iman? Menambah amal? Jika tidak, mending tinggalkan saja.

Seorang pedagang yang memiliki orientasi akhirat akan berdagang dengan jujur, tidak mengurangi takaran, tidak lupa berzakat, tidak pula aktivitas berdagangnya melalaikan shalat. Dia niatkan berdagang sebagai ibadah, sebagai investasi akhirat. Begitu pula seorang guru, polisi, mahasiswa, dokter, hakim, pengacara, tukang ojek, atau yang lainnya, ketika melakukan semua aktivitasnya dengan orientasi akhirat maka sebenarnnya yang dia lakukan tidak hanya urusan dunia tapi juga urusan akhirat.

Bahkan di doa sapu jagad yang kita hafal itu, Robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhiroti khasana waqina ‘adzabannar, doa untuk dunia 1, doa untuk akhirat 2. Porsinya beda. Ga seimbang kan ? 

🙂

 

Yogya, 1 Agustus 2012

Iklan

One comment on “Dunia – Akhirat Seimbang? Salah Besar !

  1. roso
    2 Agustus 2012

    soalnya banyak doa yang ane gak paham artinye kang..baca quran macem baca mantra 🙂
    Alhamdulillah, tetep dapet pahala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 Agustus 2012 by in hikmah, ngaji yuk.
%d blogger menyukai ini: