.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Paijo :“Gusur kami sekarang dong!”

Paijo sudah tinggal di kampung Koplak sejak lahir. Bahkan bapak dan ibunya juga asli kelahiran kampung Koplak, maklum peknggo, pek tonggo (dapet tetangga). Hingga pada suatu ketika pemerintah menyatakan bahwa tanah itu sebenarnnya adalah milik pemerintah. Surat-surat yang dimiliki oleh warga kampung Koplak ternyata Palsu. Warga kampung Koplak akan digusur !!

Namun, pemerintah sangat baik hati. Warga yang akan digusur telah disediakan lahan untuk pindah. Tidak hanya lahan tetapi juga rumah. Rumahnya pun tidak tanggung-tanggung. Rumah mewah seharga 5 miliyar untuk mengganti tiap keluarga. Untuk bisa tinggal di rumah itu pun, warga cukup membayar 100 juta. Meski 100 juta, itu bisa dibilang murah jika dibanding dengan 5 miliyar. Semua warga menyambutnya dengan gembira, termasuk Paijo.

Penggusuran akan dilakukan 5 tahun yang yang akan datang. Dalam jangka itu, warga diminta mulai membayar berapapun uang yang dimiliki, untuk mencicil 100 juta. Boleh mulai dari 1 juta, 200 ribu, bahkan 5 ribu rupiah. Petugas selalu siap mencatatnya dengan rapi.

Paijo dan warga kampung koplak bekerja keras dan sungguh-sunggu mencari uang dan dengan senang hati setor ke petugas setiap hari, berapapun besarnya. Tidak ada lagi warga yang memiliki uang 5 juta kemudian menggunakannya untuk memugar rumahnya kecuali jika memang dibutuhkan semisal atap bocor. Ngapain memugar rumah? Rugi, karena 5 tahun lagi akan digusur. Mending digunakan untuk membayar cicilan 100 juta.

Saking begitu semangatnya, tanpa disangka ternyata Paijo dalam 3 tahun sudah lunas 100 juta. Paijo dipersilahkan untuk melihat rumah 5 miliyar yang akan dihuni kelak. Bersama istrinya, ia mendatangi rumah itu.

Rumahnya besar. Di halamannya yang luas terdapat taman yang indah dengan beraneka bunga dan air mancur. Ruang tamunya tidak kalah indah. Bersih. Begitu juga kamar-kamarnya. Semua sudah tersedia mulai dari kursi, meja, lemari, AC, televisi, dan sebagainya. Di belakang rumah terdapat kolam renang yang jernih. Di dalam garasi sudah terdapat mobil yang juga menjadi miliknya. Semua itu adalah milik Paijo karena sudah lunas 100 juta. Hanya saja untuk menempatinya harus menunggu 2 tahun lagi.

Paijo dan istrinya kembali ke kampung Koplak. Kembali lagi di rumahnya yang selama ini ditinggali. Kira-kira apa yang dirasakannya? Tepat sekali. Paijo buru-buru pengin segera datang waktu penggusuran itu. Ia sudah tidak sabar ingin menempati rumah megahnya. Kalau boleh malah ia ingin minta pada petugas. “Gusur kami sekarang dong!”

-##-

Saudaraku,

Kampung Koplak yang akan digusur itu persis dengan kampung dunia yang sedang kita tinggali ini. Bedanya, jika Paijo diberi waktu 5 tahun kita tidak tahu berapa tahun lagi akan digusur. Namun yang pasti, di dunia ini kita juga akan mengalami penggusuran itu.

Bagi Paijo, membayar 100 juta sangatlah mahal. Namun jika dibanding dengan rumah seharga 5 Miliyar, itu sangat kecil. Rumah megah nan mewah itu adalah surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang mau membelinya. Butuh perjuangan untuk memperoleh surga, berat memang godaannya. Namun menjadi sangat ringan jika dibandingkan dengan semua kenikmatan yang ada di surga.

Sangatlah rugi, mereka yang sibuk dengan kampung dunia hingga melupakan kampung akhirat. Padahal di kampung dunia sudah pasti akan kena gusur. Para perindu surga akan bekerja sebanyak-banyaknya di dunia untuk kemuliaan di akhirat. Hartanya, tiap detik waktunya, aktivitasnya, ilmunya, semua bernilai akhirat.

Lalu, bagaimana caranya agar kita tahu kalau sudah lunas seperti si Paijo itu?

Cobalah datang ke rumah masa depan, maksudnya kuburan terdekat. Dekatilah. Apa yang ada dalam pikiranmu? Takut mati? Itu berarti tandanya belum lunas. Karena bagi orang yang sudah lunas yang terpikir justru dia pengin segera digusur. Persis seperti apa yang dikatakan Paijo, “Gusur kami sekarang dong!”

Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’
(HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy)

Yogya, 2 Agustus 2012

Iklan

6 comments on “Paijo :“Gusur kami sekarang dong!”

  1. roso
    3 Agustus 2012

    makin cinta dunia, makin takut mati sodara, maka dapat kita rumuskan:
    y = -x
    dimana y dunia, x akhirat

  2. simbah
    3 Agustus 2012

    jika kau cinta dunia, maka takut mati
    maka kita dapatkan persamaan:
    y = – x
    dimana y adalah dunia, x adalah mati

  3. Paijo
    3 Agustus 2012

    seperti seorang pembeli yang hanya membawa uang Rp. 5,- pergi ke dealer Ferarry untuk membeli mobil, dan anehnya sang penjual dengan senang hari melepaskan mobilnya, ditukar dengan 5 Gelo, sang penjual sambil tersenyum menyerahkan mobilnya disertai ucapan terima kasih. . .apapun yang kita lakukan, amalan kita di dunia ini tidak akan mampu membawa kita ke surga, terlalu kecil, dibandingkan dengan apa yang ada dalam surga. yang bisa membuat kita masuk, adalah RahmatNya. . . .

  4. Angsana Kuning
    16 Agustus 2012

    udh lama g berkunjung ke sini. analogi yg keren 😀

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      oleh2 kajian sebelum tarawih

  5. Pakde Kaconk
    13 September 2012

    subhanallah..luar biasa…
    salam kenal dari pakde 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 2 Agustus 2012 by in hikmah.
%d blogger menyukai ini: