.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Analogi … Sehat

 

Saya masih ingat, pada suatu ketika (mungkin sekitar 10 tahun yang lalu) saya diajak Bapak saya ke Bandung naik kereta api. Seperti biasa, kereta api ekonomi. Kereta favorit Bapak saya karena murahnya, dan lama-lama juga menjadi kereta favorit saya hingga saat ini.

Perlu diketahui juga, dulu kondisi kereta ekonomi tidak senyaman seperti belakangan ini. Dulu pedangan asongan seperti tak ada habisnya berlalu lalang. Penumpang bergeletekan dimana-mana. Maksud saya, bergeletakan tidur di bawah karena kursinya sudah penuh.

Hal yang paling membuat jengkel adalah ketika kamar mandi tidak bisa digunakan. Alasan utamanya bukan karena rusak krannya tidak keluar air. Itu masih bisa diakali dengan membawa air sendiri. Lha ini, kamar mandi tidak bisa dibuka karena isinya sudah penuh dengan barang bawaan penumpang yang keterlaluan. Pernah juga malah kamar mandi isinya ayam-ayam dagangan. Serius ini.

Maka dari itu, Bapak saya memberi nasehat :

“Di perjalanan tidak usah minum, nanti biar tidak repot kebelet pipis!. Tidak usah pula makan cemilan karena itu akan bikin haus dan akhirnya banyak minum. Selain beresiko kebelet pipis juga kebelet yang lain, BAB. Itu lebih merepotkan lagi”

Singkat cerita, sampailah saya ke Cimahi, tempat saudara saya. Akhirnya ketemu kamar kecil juga. Bisa pipis. Namun bukan lega rasanya, melainkan tersiksa. Tersiksa karena kandung kemih terasa sangat sakit  yang bukan main. Air seninya keruh, kuning mendekati jingga. Keluarnya sedikit tapi sangat menyiksa. Hingga 15 menit berikutnya, rasanya seakan kandung kemih pada lecet-lecet.

Saya yakin, ini karena kekurangan air minum selama perjalanan. Dari analisa saya itu kemudian saya minum air putih sebanyak-banyaknya dan butuh waktu sekitar 3 jam dan air sekian gelas untuk kembali menormalkan kandung kemih. Pelajaran pertama, Tubuh itu butuh air. Maka, kebutuhan itu harus dicukupi. Kalau tidak, kau akan tersiksa.

Itu tadi cerita pertama. Cerita berikutnya adalah saya yang sedang sariawan dan bibir pecah-pecah di hari lebaran yang banyak makanan ini. Orang bilang, penyebab sariawan itu selain karena kekurangan vitamin C juga karena kekurangan air minum. Akhirnya saya minum air putih dalam jumlah yang banyak. Sedikit-sedikit minum segelas air putih dan begitu seterusnya. Saya sendiri sampai lupa berapa gelas yang saya minum hari ini.

Hasilnya: Saya juga sedikit-sedikit kebelet pipis. Ke rumah kawanpun, setelah salam langsung nanyain kamar kecil. Mau shalat maghrib di musola yang pertama dicari bukan tempat wudhu, tapi kamar kecil. Sedikit repot memang, karena tiap kebelet harus segera dikeluarkan, kalau ditahan bisa menjadi penyakit. Namun ada kelegaan setelah selesai pipis. Tidak seperti ketika di Cimahi waktu itu, tersiksa hingga seperempat jam setelah pipis. Kali ini, warna air seninya jernih, ini menandakan sehat. Semakin jernih itu semakin sehat, semakin berwarna pekat itu tanda ga sehat. Pelajaran kedua, kalau banyak minum harus diimbangi dengan banyak pipis.

Dan pelajaran hari ini adalah :

Kalau kau banyak minum, harus banyak pipis. Kalau ditahan bisa jadi penyakit. Banyak masuk berarti harus banyak keluar. Kalau kau jadi orang kaya (banyak harta), musti banyak sedekah. Kalau ditahan tidak baik, bisa jadi penyakit. Kalau kau punya banyak Ilmu, jangan ditahan, bagilah ilmu itu pada orang lain.

Namun, bukan berarti sedikit minum itu lebih baik. Justru itu selain menyiksa juga bisa jadi penyakit. Harus cukup, minimal sesuai kebutuhan. Begitu pula harta & ilmu. Kemiskinan itu dekat dengan kekufuran.

Menganalogikan pipis dengan sedekah mungkin kurang nyaman dibayangkan. Tapi, kata teman saya dari ITB, itu adalah analogi yang sehat.

🙂

 

Kutoarjo, 4 Syawal 1433 H
* Seharian pipis uncountable

5 comments on “Analogi … Sehat

  1. aerodest
    6 September 2012

    tahukah,sy lagi ada d meeting room PGE (Kamojang) dan seharusnya menyelesaikan tugas2 yg diberikan pembimbing. iseng2 bentar buka blog, baca tulisanmu ini. eeeeeh..sumpah bikin ketawa ngikik-ngikik.. sampe orang2 OJT pada ngeliatin semua “kamu teh kenapa neng?”

    sukaaa deh ama tulisannya. mantabs!
    *nannggung malu gara2 ketawa2 sendiri*

    • kangridwan
      6 September 2012

      Hehe, ngebayangin jadi ikut ketawa
      😀

  2. aerodest
    6 September 2012

    sumpah deh, malu2in tenan kok😀
    akhirnya tak tunjukkan k mereka apa yg bikin aku ketawa😄

  3. Bentar Cucu
    11 September 2012

    haha sepakat dengan dek desti *sok tua banget* :))))) bagus mas, selalu bagus tulisanmu!

    tapi mas lebih sakit lagi kalo pengen pipis, tapi ga ada yang dipipisin. itu mas sakit banget.
    suer! lama lagi itu sakitnya. beberapa jam gitu aja udah sengsara banget.

    mungkin sama kayak mau sedekah, tapi ga ada yang disedekahin. imbasnya harus banyak cari pemasukan buat di sedekahkan (?)

    haha

    lanjutkan mas ridwan, tetangga pemandu :)))

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      Hahay!
      😀

      Jos banget tuh, analogimu Bentar! tetangga pemandu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 Agustus 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: