.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Antisipasi Tebakan

Setiap orang memiliki kemampuan untuk menebak dan boleh menebak. Saya maupun Anda pasti sering menebak. Untuk menebak tidak ada persyaratan harus benar. Tebakan boleh benar, boleh salah. Boleh pakai ilmu boleh seenaknya. Memang ada ilmunya? Biasanya ilmu yang digunakan adalah ilmu statistika, atau kalau nenek moyang menamakan ilmu titen. Para penjudi apapun bentuknya juga sering mengadukan nasib dengan tebakan.

Namun kali ini saya tidak ingin membahas tentang ilmu tebakan. Hanya ingin berbagi pengalaman agar bisa mengantisipasi tebakan. Tebakan kok diantisipasi?

Langsung saja pada studi kasus yang pernah terjadi, bisa jadi ini juga pernah terjadi pada Anda.

Pernah suatu ketika ada kawan bertemu dengan seorang bapak-bapak dengan rambut yang sudah memutih. Bapak-bapak itu mengajak anak kecil. Kawan saya ingin membuka obrolan dengan melontarkan pertanyaan : “Cucunya ya, Pak”. “Oh, ini anak saya”. Nah lo, niatan awal mau basa basi malah jadi serba salah. Kawan saya ini merasa tidak enak karena salah tebak. Bapak ini juga mungkin tersinggung karena dianggap terlalu tua untuk memiliki anak.

Saya sendiri juga pernah mengalami korban salah tebak. Ramadhan kemarin saya membeli baju gamis yang panjangnya hingga lutut. Saya menggunakannya untuk tarawih di Maskam. Nah, di maskam ada pasar tiban. Ada banyak lapak dengan berbagai macam barang dagangannya. Mulai dari Al Quran, buku-buku, VCD ceramah, madu, herbal, peci, dll. Nah, ketika saya sedang melihat-lihat buku eh ada yang tanya pada saya: “Mas, ini harganya berapa”. Saya dikira pedagangnya, Bung! Saya katakan kalau saya bukan mas yang jaualan. Agak dongkol sih, tapi saya yakin orang yang salah sangka itu lebih merasa ga enak.

Jadi, dari pengalaman itu saya menyarankan Anda untuk mengantisipasi tebakan agar tidak menjadi ketidaknyaman antara pihak penebak maupun tertebak.

“Putranya, Pak ?”

“Bukan, ini cucu saya”.

Meski salah tebak, ini lebih nyaman bagi pihak tertebak. Wah, saya masih terlihat muda nih.

 

Ketika menyapa nenek-nenek, gunakan sapaan Bu.

“Bersih-bersih nih Bu!”.

Saya yakin, nenek-nenek itu akan lebih bersemangat menyapunya karena dikira awet muda.

 

“Maaf mas, pedagangnya mana ya?”

“Oh, saya sendiri”.

Salah tebak ini jauh lebih baik, dari pada seperti kasus yang saya alami.

 

Nah, intinya untuk menebak pun musti diantisipasi kalau tebakan kita salah. Mengantisipasi agar kalau salah tidak kemudian mengakibatkan ketidaknyamanan antara pihak penebak dan tertebak.

 

 

  

@kangridwan19

 Kutoarjo, 23 Ags 2012 

One comment on “Antisipasi Tebakan

  1. Tian
    24 Agustus 2012

    iya tu mas sering bgt kalo yang di contoh pict nya saya alami hehe….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 Agustus 2012 by in hikmah.
%d blogger menyukai ini: