.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Marni, Salman dan si Perantara

Ini adalah kisah nyata. Bisa jadi kau juga pernah menemukan kisah semacam ini. Dengan tokoh yang berbeda, alur yang sedikit berbeda, tapi intinya sama.

Aku memiliki saudara, tidak terlalu jauh tidak pula terlalu dekat. Namun jika dirunut dengan seksama, aku memanggilnya Kakek karena memang beliau berada 2 generasi di atas saya. Biar lebih keren, kita panggil Kakek saya ini dengan nama Jony.

 ***

Jony muda jatuh cinta dengan Marni. Perlu kau tahu, zaman itu belum ada hape untuk sms atau telepon. Jangan tanya Facebook, Twitter, atau Skype. Yang menemukannya saja mungkin belum lahir. Untuk memperlancar komunikasi masih menggunakan surat. Maka diperlukan seorang yang siap dimintai bantuan untuk berperan sebagai “konduktor” surat itu. Terpilihlah si Wati, yang tidak lain adalah adik kandung Marni.

Wati dengan senang hati mengantar surat dari Jony untuk kakaknya. Juga sebaliknya, mengantar surat untuk Jony. Tugasnya kini tidak hanya sekedar mengantar surat, tapi juga penggali informasi. Seringkali Jony bertanya pada Wati mengenai Marni. Wati juga dengan senang hati mendengarkan ketika Marni bercerita banyak tentang kekasihnya itu. 

Waktu terus berjalan. Wati jadi tahu sosok Jony yang mengagumkan itu. Diam-diam dia juga jatuh hati pada kekasih kakaknya itu, sesuatu yang seharusnya tidak boleh terjadi. Mana mungkin ia merebut kebahagiaan kakaknya yang ia cintai.

Suatu ketika terjadilah percekcokan antara Jony dengan Marni, sesuatu yang wajar terjadi bagi setiap hubungan dua insan manusia. Namun sayangnya Jony memutuskan hubungannya dengan Marni. Marni sakit hati karena sebenarnya dia masih sayang Jony.

Sakit hati Marni semakin perih, seperti luka yang disiram air garam, ketika kemudian justru Jony menjalin hubungan dengan Wati. Mereka jadian! Ya Ampun. Kau tahu bagaimana perasaan Marni saat itu? Ah, aku bahkan sulit menggambarkannya.

Bagaimana mungkin Wati tega terhadap kakaknya sendiri? Ah, dalam kondisi tertentu cinta memang tidak peduli dengan persaan orang lain, sekalipun itu kakak kandungnya sendiri. Wati pun memiliki pembelaan. Dia tidak merebut Jony karena saat itu memang Jony sudah putus dengan Marni. Selain itu juga Jony sendiri yang meminta Wati menjadi pengganti pengganti Marni. 

Jony menikah dengan Wati hingga beranak cucu. Pernikahan mereka berdua bahagia. Namun kontras dengan keadaan sosok yang menjadi jalan bagi perkenalan mereka berdua, Marni. Marni yang tinggal hanya beberapa rumah dari yang ditinggali keluarga Jony mengalami stress. Stress hingga tua. Kasian sekali..

Cerita selesai.

 ***

Kau pernah mendengar kisah semacam ini kah? Seringkali mak comblang justru yang kemudian jadi dengan pihak tercomblang. Pihak perantara yang awalnya bertugas menjadi fasilitator justru kemudian menikmati fasilitasnya sebagai fasilitator kemudian mem-follow up-i trus mengeksekusi.

Ada beberapa pelajaran dari kisah ini untukmu. Pertama, hati-hatilah memilih fasilitator, tempat curhat, makcomblang, perantara, dan semacamnya. Pilihlah yang bisa dipercaya, yang memiliki kemungkinan kecil –sangat kecil- justru kemudian menjadi pihak kompetitor.

Kedua, jika kau diamanahi menjadi fasilitator, tempat curhat, makcomblang, perantara, dan semacamnya, junjunglah tinggi profesionalisme. Jika kau tak mampu, ya jangan maksa. Ini urusan perasaan manusia. 

Ketiga, jangan kau berikan cintamu seutuhnya pada pihak yang belum benar-benar berhak mendapatkan cinta utuhmu. Sayangnya Marni telah memberikannya kepada Jony. Jadilah ia stress hingga  sisa usianya. Jika memang sudah mantab dan yakin, segerakanlah ! Seperti lirik sebuah lagu dangdut : Jangan tunggu lama-lama nanti lama-lama diambil oran.

Landasi niat karena Allah, untuk menadpatkan Ridho-Nya. Ada kisah sahabat Nabi yang mirip dengan ini. Namun berakhir indah, mengharukan, dan so sweet. Kedua pihak itu bersaudara. Persaudaraan keduanya diikat dengan iman. Kisah Salman Al Farisi dengan Abu Darda’. Bisa kau baca di buku karya Salim A. Fillah.

Suatu ketika Salman meminta ditemani Abu Darda’ untuk menikahi seorang gadis di Madinah. Orang tua gadis itu menyerahkan keputusan pada anaknya. Olala, ternyata si gadis tidak mau dengan Salman, tapi maunya dengan Abu Darda’. Jika kau menjadi Salman pasti akan befikir, “Kesalahan fatal nih, gue ngajak Abu Darda’. Sial! Apes bener!”

Namun apa yang diucapkan Salman? Inilah yang aku maksud dengan indah, mengharukan dan so sweet itu.

“Allahu Akbar ! Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’ dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian” Reaksi yang cepat dan mengejutkan, serta didasari keikhlasan yang luar biasa.

Jadi, kau paham dengan yang aku ceritakan kan?

Jika memang suatu ketika kisah ini terjadi padamu kau bias memilih. Mau seperti Marni atau seperti Salman Al Farisi.

 

 

Yogya, 9.9.12, jam 9 

-disela ngotak-atik spesimen penelitian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 September 2012 by in hikmah.
%d blogger menyukai ini: