.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Saya dan Masjid

Sejak kecil hingga sekarang, saya ditakdirkan tinggal tidak jauh dari Masjid. Saya ceritakan dulu masjid-masjid itu.

Masjid Jami’ Istiqomah seberang jalan rumah saya, hanya berjarak sekitar  100 meter dari depan rumah. Tempat saya mengaji bersama teman-teman, 12 tahun yang lalu. Antri dengan mengantrikan peci di bawah pagar teras masjid. Seusai ngaji (ba’da Asar) kami bermain sepak bola, boyboyan, gempyaran, dan berbagai macam permainan anak zaman itu.

Saking semangatnya, saya ngaji lagi setelah maghrib sampai-sampai pak Kyai menegur : “Tadi kan sudah ngaji?”. Gara-garanya, waktu itu yg ngaji banyak. Sekarang sudah sepi tidak seperti  waktu itu. Dulu saya juga sempat jadi penerbang dengan kawan-kawan saya. Penerbang :  penabuh terbang / rebana.

Jadi Penerbang (Penabuh terbang)

Masih ingat juga, saya menjadi jamaah shalat subuh paling kecil di jumlah jamaah yang juga kecil itu. Sekitar 5 orang. Saya rutin dibangunkan ibu saya untuk pergi ke masjid. Suatu ketika jalan setapak yang biasa saya lewati ke masjid dipagar. Harus lewat jalur yang lebih jauh sedikit. Saya panjat pagar itu, kadang ketahuan penjual sayur yang berangkat ke pasar. Oya, saya mudah menghafal surat Sabbihis karena surat itulah yang selalu dibaca pak Kyiai ketika mengimami sholat subuh.

Ketika SMP, saya juga akrab dengan mushola SMP. Sering mampir kesitu. Entah untuk shalat dhuha atau shalat zuhur. Ya Ampun, saya baru ingat kalau waktu SMP saya sudah shalat dhuha, meski teramat jarang. Pulang sekolah (naik sepeda 3km) juga sering mampir ke Masjid Agung Kutoarjo. Pak Satpam sampai hafal saya. Saya sampai hafal letak sarung (SMP celananya pendek) di kantor Masjid itu dan tinggal meminjamnya tanpa perlu ngomong dulu ke pak Satpam.

Di SMA, saya lebih sering ke Masjid SMA, Masjid Baitul Hikmah (kali ini bukan mushola). Ketika istirahat pertama, masjid SMA saya dipenuhi oleh siswa-siswi yg shalat dhuha. Sudah menjadi hal yang biasa di SMA saya. Kebetulan juga (bukan kebetulan sebenarnya) saya jadi anak Rohis (jadi anggota abal-abal) yang markasnya di Masjid.

Kuliah di Jogja, 2 tahun pertama saya tinggal di Pogung Dalangan. Jarak MPD (Masjid Pogung Dalangan) hanya sekitar 15 meter dari kos. Corong pengeras masjid mengarah ke kos saya. Jadilah saya, tiap mendengar iqomat (bukan adzan) langsung ke masjid dan tidak tertinggal rakaat. MPR (Masjid Pogung Raya) juga tidak jauh dari kos saya. Tinggal milih MPD atau MPR.

Dua tahun berikutnya saya tinggal di asrama PPSDMS di Jalan Kaliurang km 8. Jarak masjid sekitar 300 meter. Tidak jauh. Kejadian lompat pagar juga sering saya lakukan. Ketika pagar asrama terkunci dan keburu tertinggal shalat subuh. Masjid HI (Hidayatul Islam). Di masjid ini anak-anak asrama (termasuk saya) sering diminta menjadi imam. Di masjid HI pula lah sejarah saya tertoreh : Pertama kali menjadi Khotib Jumat. Aktifitas ngajar TPA juga berawal dari masjid ini.

Mushola Teknik FT UGM

Di Kampus ada Mustek (Masjid Fakultas) tempat biasa syuro’ rutin, tempat ngadem sebelum / sesudah kuliah. Maskam (Masjid Kampus) yang selalu ada pasar tiban setiap selesai shalat Jumat, yang kalau shalat tarawih pembicaranya tokoh2 nasional. Musjur (Musola Jurusan) tempat shalat terdekat dengan ruang kuliah, tempat syuro SKI. Mushola Apung Pasca Sarjana, tempat yang keren panoramanya, biasa konsolidas & AAI di sini. Juga Masjid Mardiyah (selatan RS Sardjito) tempat ngaji KRPH (Kajian Rutin Pagi Hari).

Dua bulan KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Paitan-Kemiri dan sebulan KP (Kerja Praktek) di Bandung lagi-lagi tidak jauh dari Masjid. Juga lagi-lagi ngajar TPA, dekat dengan adik-adik yang membuat bahagia.

Saat ini, tinggal di Karanggayam juga bukan kebetulan berada di jarak 30 meter dari masjid Istiqomah. Lagi-lagi, corong pengeras masjid tepat mengarah ke kamar saya. Namun, kali ini saya tidak menunggu iqomat baru berangkat tapi ingin jadi yang adzan –meski sering kalah cepat dengan simbah-simbah yang lebih rajin itu-. Jarak ke masjid Nurul Ashri yang ada Rumah Tahfidz nya Yusuf Mansyur itu juga tidak jauh.

Alhamdulillah, kedekatan saya dengan masjid merupakan suatu nikmat yang tidak semua orang dikaruniai nikmat ini. Saya mensyukurinya.

**

Sodaraku,

Bisa jadi saya ditakdirkan dekat dengan masjid karena jika sampai letak masjid jauh dari saya akan membuat saya merasa berat berangkat ke masjid. Saya masih lemah, jadi diberi keringanan berupa letak masjid yang dekat dari hidup saya. Mungkin jika untuk ke masjid harus melewati jarak lebih dari 1 kilometer saja saya sudah angkat tangan. Mending gelar sajadah di rumah.

Tidak ada yang spesial juga, ketika kemudian seseorang rajin ke masjid karena rumahnya dekat masjid. Apalagi masih sehat. Lha kan sudah sewajarnya begitu ?  Jika ada orang yang rajin ke masjid padahal rumahnya jauh, dia sudah tua, atau keadaannya tidak sehat : Itu baru luar biasa !!

Namun bagi orang yang rumahnya dekat masjid, masih sehat tapi tidak ke masjid itu juga bisa menjadi suatu keluarbiasaan. Luar Biasa Kebangeten !!

Jadi, sangat tidak pantas jika kemudian saya membanggakan diri sering ke masjid. Itu mah biasa-biasa saja. Tidak ada yang spesial. Saya juga tidak bisa menjamin masa depan saya apakah masih ditakdirkan Allah untuk tinggal tidak jauh Masjid. Saya berdoa semoga saya, juga pembaca sekalian tidak hanya dikaruniai dekat secara fisik saja, tetapi juga dikarunian hati yang dekat dengan masjid. Hati yang terkait dengan masjid. Karena ketika hati sudah dekat dengan masjid, seberapa jauh jarak masjid akan menjadi dekat.

“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi di bawah naungan-Nya pada suatu hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (yaitu) : Pemimpin yang adil | Pemuda yang tumbuh dalam keadaan (selalu) beribadah kepada Allah | Seseorang yang hatinya terikat dengan masjid | Dua orang yang saling mencintai karena Allah, bersatu dan berpisah karena Allah |  Seorang lelaki yang diajak seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan(untuk berzina) akan tetapi ia berkata, “Sesungguhnya aku takut Allah. “ | Seseorang yang bersedekah kemudian merahasiakannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan tangan kanannya | Seseorang yang berdzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian sehingga meneteslah air mata dari kedua matanya. ” (HR. Bukhari )

Yogya, 18-9-12
30 meter dari Masjid Istiqomah Karanggayam

 

 

 

Iklan

4 comments on “Saya dan Masjid

  1. Hanief
    18 September 2012

    Betul. Kalo baca cerita temen2 yang jadi minoritas di luar negeri, betapa sulitnya mencari masjid. Semoga antum istiqomah seperti nama masjid yang sekarang, akh. 🙂

    • kangridwan
      1 Oktober 2012

      Amin..
      Doanya mas..

  2. aerodest
    19 September 2012

    terdengar sepele, namun sebenarnya kedekatan dengan masjid adalah sebuah prinsip. Saat KKN saya merasakan sendiri betapa masjid teramat jauh dari pondokan kami, namun toh kami tetep konsisten ke masjid. terutama para cowok2, 5 waktu mereka sholat di masjid.
    sedangkan saat KP ini, masjid teramat dekat dengan tempat yang kami tinggali. Tapi boro-boro 5 waktu ke masjid, magrib-isya (dimana biasanya masjid lagi rame2nya), cowok2 itu tidak beranjak samasekali ke masjid.

  3. kangridwan
    1 Oktober 2012

    So, memang tidak semua orang dikaruniai nikmat itu.
    ya kan??
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 September 2012 by in hikmah.
%d blogger menyukai ini: