.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Maling

#Cuma Cerita Fiksi ajah.

 Udin kaget ketika mendapati seseorang pria asing ada di dalam kamarnya. Jangan-jangan maling? Kecurigaannya semakin kuat ketika dilihatnya pria itu sedang memegang laptop dan hape milik Udin.

 “Woi ! Ngapain kamu ?!”

Pria itu meletakkan laptop & hape yang ada di tangannya kemudian mendekati badan Udin. Meski usianya terlihat sebaya dengannya, Udin masih kalah kekar. Kerah baju Udin dicengkram kuat oleh si Maling.

“Jangan macem-macem kamu, kalau mau selamat”

Bugg !! Wajah Udin mendapat jatah dari kepalan tangan Maling.

Udin ketakutan. Jurus-jurus taekwondo yang ia pelajari lenyap. Nyalinya ciut.

Keselamatan memang tidak bisa dibeli. Sementara Laptop dan Hape bisa dibeli. Namun ini menyangkut harga diri. Harus melawannya! Ini merupakan kejahatan yang nyata. Apa kata orang kalau Udin yang sering menasehati untuk menegakkan kebenaran justru ketakutan dengan satu maling. Ini masih terlalu jauh jika dibanding pejuang di Palestina, atau siksaan di penjara Guantanamo. Sabar? Sabar tidak berarti diam. Pasrah? Belum saatnya.

Keberaniannya mulai mengumpul. Udin mengepalkan tangan kanannya. Berkelahi taka pa. Kalaupun mati, semoga terhitung syahid. Mulia. Maling berlari keluar, mencoba kabur, motornya sudah menyala. Baru saja moto masuk gigi 1 dan siap di gas, tiba-tiba ada tendangan yang menjatuhkan si maling beserta motornya.

Jadilah keduanya berkelahi di jalan depan kos Udin. Berguling guling. Cengkram sana cengkram sini. Warga yang melihat mulai mendekat, penasaran ada apa.

“Maling pak!! Ini maling!!” Teriakan udin agak terganggu karena mulutnya dam kondisi tercengkram tangan maling.

Warga semakin banyak dan semakin tersadar kalau pria berjaket hitam iyang sedang berkelahi dengan Udin itu orang asing. Maling berhasil ditangkap warga. Diamankan di rumah pak RT.

“Kalau saja ini bukan bulan puasa, udah bonyok tu maling”

“Lha kampung sini kan terkenal aman. Eh, ini mau bikin gara-gara. Gimana kalau disimpen dulu, buat buka puasa nanti sore?”

“Sekalian buat sahur aja, atau takjilan habis terawih”

Polisi datang. Warga yang mengerumuni rumah pak RT semakin banyak. Penasaran ingin lihat wajah si Maling. Siapa tahu juga bisa “nyicipin” ngasih satu bogem. Maling keluar, tangannya diborgol. Warga kecewa. Apa pasal? Si maling menggunakan helm standar, kaca tertutup. Standar SNI mungkin. Yang tadinya ingin “nyicipin” hanya bisa mencacinya saja.

***

Seminggu kemudian ..

“Gimana kabar malingnya, Din?” tanyaku.

“Pas aku ke sana, wajahnya bonyok-bonyok”  Udin mengekspresikan wajah bonyok.

“Lho, kok bisa?”

“Dibonyokin ama pak Polisi ternyata. Bonus pas diintrogasi mungkin. Hehe”

Udin mengeluarkan hapenya, ada sms masuk. Tapi ada yang aneh. Hapenya kok sama dengan punyaku? Sama-sama jadul. Hape canggih Udin yang baru itu dimana? Bukannya ga jadi kemalingan?

“Hape sama laptopku di kantor polisi. Jadi barang  bukti. Baru bisa diambil setelah sidang. Terpaksa beli hape murahan deh. Laptop sementara pinjem Dika, data-data di laptopku sudah aku kopi dulu.”

“Lah, sama aja kehilangan dong kalo gitu?  Lha emang kapan sidangnya?”

“Dua bulan lagi”

“Hah? dua bulan lagi? Gimana skripsimu? Trus, gimana kamu maen PES lagi?”

“Dua bulan lagi, itu saja paling cepet”

 “Paling cepet??!”

26.9.12

Iklan

One comment on “Maling

  1. aerodest
    26 September 2012

    fiksi? jangan2 pengalaman pribadi???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 September 2012 by in Cerita Fiksi.
%d blogger menyukai ini: