.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Hati-Hati dengan Cletukan

Pernahkah kamu mengalami hal seperti ini? Ketika kamu ngobrol dengan teman kamu, ada cletukan dari temanmu yang kemudian selalu kamu ingat sampai sekarang. Cletukan itu bisa jadi hal yang menyakitkan, hal yang lucu, menyenangkan, menyemangati, atau mengharukan. Bahkan ketika teringat nama temanmu itu kemudian yang teringat adalah cletukannya itu. Pernah mengalaminya?

Malam itu saya curhat pada teman sekamar saya. Inti dari curhatan itu adalah sebuah keluhan. Saya mengeluh tentang kondisi saya saat itu, juga mengeluhkan tentang masa depan. Maklum, saat itu saya agak merasa minder karena berada di lingkungan orang-orang yang berprestasi. Sementara saya terlalu cupu jika dibanding dengan orang-orang keren itu.

Kenapa saya curhat dengan dia? Karena saya tahu, nasib dia tidak jauh beda dari saya. Sepertinya kami senasib. Jadi selain untuk mencari orang yang mau mendengarkan, sebenarnya curhat saya waktu itu adalah lebih karena ingin mencari kawan senasib. Seperti itulah di Indonesia, siap miskin asal tidak miskin sendirian. Bisa bertahan dalam kesengsaraan asal ada temannya.

Beberapa hari kemudian saya curhat lagi. Teman saya masih bisa menjadi pendengar yang baik. Sesekali dia juga menceritakan nasibnya. Yes! Saya tidak sendirian. Namun, teman saya itu ternyata tidak mau berdiam diri. Diam-diam dia melakukan berbagai upaya agar nasibnya berubah.

Hingga pada beberapa malam berikutnya ketika saya curhat dengan curhatan yang sama, dia nyletuk. Ya, saya tahu yang dia katakan adalah sebuah cletukan. Dia mengatakannya sambil mengambil guling dan bersiap tidur di kasurnya. Tidak menatap wajah saya. Nadanya juga datar, biasa saja.

“Waaan wan, Jadi orang kok sukanya mengeluh terus”

Jleb.. Kata-katanya sangat menusuk.

Bisa saja saya waktu itu marah. Orang  lagi curhat kok malah dibilangin begitu. Mbok ya membesarkan hati saya. Mbok ya jadi pendengar yang baik. Kalaupun tidak mendengarkan mbok ya diam saja. Yang saya inginkan tuh bukan kata-kata itu.

Namun yang terjadi saya tidak marah. Tapi tertusuk, tertampar, tergilas, ter (apa lagi ya?). Ibarat main badminton, umpan lambung (umpan lambung tuh ada di maen sepak bola ya?) saya di-smash dengan kecepatan super. Dan kock itu kena pas di jidat saya. Tak diduga sebelumnya. Ah, maaf kalau analoginya kurang nyambung. Intinya, cletukan temen saya itu begitu MJJ (Mak Jleb-Jleb)

Sejak saat itu saya tidak pernah lagi curhat dengan teman saya itu yang berisi keluhan. Saya tersadar kalau ternyata selama ini saya terlalu banyak mengeluh. Mengeluh itu bisa menurunkan motivasi. Saya tersadar akan hal itu dari cletukan “Jadi orang kok sukanya mengeluh terus”.

Terbukti bahwa sebuah cletukan bisa mengubah seseorang. Yang saya ceritakan di atas cletukan yang menyemangati, kemudian berefek positif. Jangan salah, karena ada juga cletukan yang bersifat sebaliknya. Tidak membangun, tapi merusak. Tidak membuat optimis, tapi pesimis.

Waktu SD kelas 3 dulu kalau tersenyum, saya selalu memperlihatkan gigi saya, apalagi kalau tertawa. Nah, ketika sedang dengan PeDenya tertawa sambil mringis, ada teman yang nyeltuk “Haha, ompong kok nyengir!”. Waktu itu memang gigi seri saya ompong, sangat terlihat. Gara-gara cletukan itu, saya tidak PeDe kalau senyum, apalgi ketawa. Untung saja ompongnya gigi saya tidak permanen sehingga masalah itu tidak berlangsung lama, meski tetap saja membutuhkan waktu.

Jadi, hati-hatilah nyletuk. Usahakan untuk memilih kata-kata cletukan yang baik. Begitupula ketika bercanda, meski sekedar bercanda mesti dipikirkan juga apakah itu kalimat yang baik atau tidak.

Jika untuk sekedar cletukan saja harus melakukan pemilihan kata dengan baik, apalagi dalam berbicara yang sesungguhnya. Sangat tepatlah pesan nabi : Berkatalah yang baik, atau diam.

So, Nyletuklah yang berkualitas!

 

Yogya, 7 Okt 2012

Iklan

5 comments on “Hati-Hati dengan Cletukan

  1. Abu Jalil
    8 Oktober 2012

    Sebagai orang yang di-cletuki, siap2 berpositif thinking aja. Baik buruk tergantung kita yang menerjemahkan. Boleh jadi, orang yg berceletuk blm mampu membuat kata2 positif/ motivasi, tapi sebenarnya kebaikan yang ia inginkan untuk kita.
    Sebagai calon pen-celetuk, wajib pilah-pilh kata, Oke

    • kangridwan
      8 Oktober 2012

      Mau make teori “Blink” -> seperti percikan api yg bisa mengakibatkan kebakaran besar. Tapi akunya sendiri belum begitu paham.
      Intinya kadang justru kata2 sederhana yg tidak kita anggap serius justru bisa berdampak serius ke orang lain.

      Intinya ya itu mas : Sebagai calon pen-celetuk, wajib pilah-pilh kata.

      🙂

  2. Siti Lutfiyah Azizah
    8 Oktober 2012

    suka banget rid ma tulisan ini. seriusan oke dah 🙂

    • kangridwan
      8 Oktober 2012

      Makasih kakak 😀
      Semoga bermanfaat.

      • Siti Lutfiyah Azizah
        8 Oktober 2012

        soalnya kadang aku suka ga sengaja keceplosan dan kadang juga sakit hati gara-gara celetukan orang, haha. Tapi emang belajar banyak banget sih buat berhati-hati urusan lisan ini. Intinya sih perbaiki komunikasi, biar ga ada sakit hati karena celetukan, entah sengaja atau tidak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 Oktober 2012 by in opini.
%d blogger menyukai ini: