.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Sariawan Batin

Adakah di antara kalian yang belum pernah sekalipun merasakan “nikmatnya” sariawan. Kalau ada, boleh berhenti membaca tulisan ini. Lanjutin baca juga tidak apa-apa ding. Tapi kalau memang bener-benar ada yang belum pernah sekalipun sariawan (hebat bener ya?) pasti pernah melihat orang yang menderita sariawan.

“Woi, ndomblong wae! Gantengmu jadi mlorot tuh !”

“Maklum Jo, lagi sariawan nih” habis itu, pamer sariawan.

Saya sering mengalami percakapan seperti itu dan posisi saya sebagai si pendomblong alias si penderita sariawan. Rasanya tersiksa, apalagi ketika yang terjadi adalah tetralogy sariawan, satu di ujung lidah, satu di ujung tenggorokan, satu di pipi dalam sebelah kanan, satu di pipi dalam sebelah kiri. Komplit!

Acara makan menjadi penuh siksaan. Makan ga banyak, cepet-cepet kalau bisa segera selesai secepat mungkin. Ga peduli itu Fried Chicken (ayam goreng) atau Fried know (tahu goreng), Fried rice (nasi goreng) atau light rice (nasi padang) rasanya tetap saja ga enak. Kalau saja boleh memilih, mending tidak usah makan. Namun berhubung makan itu merupakan kebutuhan badan, mau tidak mau ya harus makan, meski dengan tersiksa. Jadilah aras-arasen : meninggalkannya enggak, serius juga enggak.

Jadi, untuk merasakan nikmatnya makanan, minimal ada dua variabel yang harus dipenuhi. Pertama adalah makanan yang memang nikmat, meski ini relatif. Ya minimal tidak basi lah. Kedua adalah sehatnya kondisi organ yang terlibat dalam proses memakan makanan yang nikmat itu. Ketidaknormalan itu bisa berupa sariawan, gigi gorowong, perut yang mual, pancingen (sakit buat menelan), dll.

Oh, ternyata itu berlaku tidak hanya untuk makanan. Makanan itu kan kebutuhan dzohir, ternyata itu juga berlaku pada makanan untuk batin kita.

Coba deh, dicek lagi. Cek sholat dan puasa kamu. Silakan jawab pertanyaan ini dengan jujur. Ketika menjalankannya, apakah merasa tersiksa? Apakah pengin segera selesai secepat mungkin? Apakah kamu merasakan nikmatnya sholat dan puasa?. Kalau boleh milih, milih imam shalat yang bacaannya panjang atau pendek? Apakah sholatmu model aras-arasen?

Begitupula, ketika sedekah apa yang dirasa? Berat penuh siksaan atau ringan penuh kenikmatan? Ketika mendengar adzan, pengin bersegera karen ingin memperoleh kenikmatan atau menunda-nunda memenuhi panggilan shalat itu? Ketika tadarus Al Quran menikmati tiap-tiap huruf? Atau hanya kejar target yang penting sehari satu juz !?

Ibadah-ibadah itu sudah jelas merupakan sebuah kenikmatan. Jika ketika melakukannya tetapi yang terasa adalah sebuah siksaan, itu berarti ada masalah pada “organ batin”, jangan-jangan sedang sariawan. Kalau organ batinnya sehat, maka sholat, puasa, sedekah, tadarus Al Quran, berjlibab, dsb merupakan menu yang sangat menggiurkan untuk disantap karena saking begitu nikmatnya.

Jangan terheran mengapa Rasulullah SAW shalat malam sampai kaki beliau bengkak. Jangan terheran ketika Ali r.a minta dicabut panah yang menancap pada tubuhnya justru ketika shalat. Jangan terheran jika ada orang yang hobinya sedekah kesana kemari. Jangan terheran ketika ada orang yang sebelum subuh sudah tadarus 1 juz dan mentadaburinya. Jangan heran melihat orang bisa menyantap kenikmatan beribadah, karena ia sedang tidak “sariawan”.

Jika organ batin sedang tidak sehat, atau dalam bahasa al Quran : Fi qulubihm marodhun, dalam hati mereka ada penyakit. Harus segera diperiksa, lalu diobati. Jangan sampai gara-gara dibiarkan, kemudian fazaadahumullahu maradha, maka Allah menambah penyakit itu. Jika sakit dzohir, mulai dari jerawat sampe stroke, saja dibela-belain segera disembuhkan. Bahkan sampai rela jual ini itu, hutang sana sini. Masak penyakit batin dibiarkan, tidak diperhatikan.

Yang jelas, saat ini makin banyak orang yang kehilangan nikmatnya ibadah, justru makin banyak yang merasakan nikmatnya maksiat. Semoga kita terhindar dari keduanya.

Terakhir, saya doakan semoga kita tidak sariawan dan sariawan batin. Doa sudah dipanjatkan, tinggal diiringi dengan ikhtiar.

 

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit itu, dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta (Q.S Al Baqarah :10)

 

 

Jogja, 18 Okt 2012

Habis ngumbahi pagi hari, di musim hujan

One comment on “Sariawan Batin

  1. Legend Wannabe
    2 Desember 2013

    fried know, light rice, haha apik mas istilahmu😛
    tombo ati ono limo perkorone, yuk kita jalankan😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 Oktober 2012 by in hikmah, ngaji yuk.
%d blogger menyukai ini: