.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Salah Sangka dan Kegembiraan

Ini adalah cerita tetangga saya, panggil saja Pak Mamat.

Pak Mamat punya hajat, menikahkan anak perempuannya. Akad nikah telah dilaksanakan, lancar. Usai itu digelar acara walimahan di gedung yang telah disewa. Gedungnya besar. Aneka jenis makanan membuat tamu undangan bebas memilih makanan kesukaan. Sate, soto, siomay, bakso, empek-empek, es krim, es cendol, minuman bersoda, hingga makan besar prasmanan.

Kebebasan memang seringkali memunculkan kebingungan. Saya saja bingung mau mengambil apa saja. Andai saja perut saya punya stok ruangan yang cukup, semua pasti rata. Tidak ada makanan yang cemburu karena tidak saya ambil.

Belum cukup sampai disini. Beberapa tetangga dan sanak saudara yang menerima tamu juga dirias. Ya, bagi kampung saya, tetangga itu bukan siapa-siapa lagi. Tetangga itu ya saudara. Bapak saya dipakaikan pakaian adat jawa. beskap, blangkon, komplit dengan kerisnya. Begitu juga ibu saya dengan kebaya dan komplitannya. Kalau mereka dipoto berdua, bisa salah sangka dikira merekalah pengantinnya.

Pak Mamat dan Bu Mamat mendampingi mempelai pengantin di atas pelaminan. Tentunya juga dengan sang besan. Mempelai wanita adalah anak Pak Mamat. Pak Mamat otomatis adalah sang wali. Dan hajatan ini sejatinya adalah hajatan Pak Mamat dong.

Tamu dan handai tolan memasuki gedung. Mengisi buku tamu, mengisi kotak mirip kotak amal di masjid. Bedanya ukurannya lebih besar dan bentuknya lebih nyeni. Kemudian memilih makanan sambil menikmati hiburan. Ngobrol dengan sesama tamu, terakhir menyalami pengantin dan orang tua sang pengantin. Tentunya salaman dengan pak Mamat itu yang terpenting.

Pak Mamat menangis melihat semua yang ada di gedung itu. Tidak terlalu terlihat memang, tapi Bu Mamat yang berdiri di sebelahnya tahu betul kalau suaminya menangis.

Jika pun ada orang yang melihatnya, pastilah akan mengatakan itu hal yang wajar. Pernikahan itu menyerahkan tanggung jawab ayah atas anak perempuannya kepada laki-laki lain. Setelah membesarkan, merawat, dan mendidik hingga dewasa, akhirnya ada proses serah terima (ijab qabul) itu. Pasti jenis tangis Pak Mamat adalah tangis haru, tangis bahagia. Begitu yang ada di pikiran para tamu yang melihat.

Hingga akhirnya belakangan baru tahu dari cerita Bu Mamat apa yang sebenarnya menjadi alasan Pak Mamat menangis.

“Tiap kali melihat orang-orang berdatangan memasuki gedung pernikahan, Bapak kepikiran : Kok tamunya banyak banget ya? Hiks.. Entar bisa bayar hutang tidak nih, hikss…” ujar Bu Mamat dengan nada becanda. Pak Mamat di sebelahnya ikut tertawa. Kami semua tertawa.

Kok tamunya banyak banget ya? Hiks.. Entar bisa bayar hutang tidak nih, hikss…

Ngekek saya dibuatnya.

Jadi teringat cerita Bapak saya. Entah ini nyata atau hanya guyonan saja. Ketika mendengar khotbah, ada seseorang yang menangis sesenggukan. Sang khotib yang melihatnya merinding. Ia sendiri tidak menyangka kalau khotbahnya bisa membuat orang sampai menangis. Hebat juga aku, batin si khotib.

Saking penasarannya, seusai shalat Jumat, ia dekati jamaah yang menangis tadi. Ia tanyai kenapa kok sampai menangis ketika ia khotbah.

“Saya tadi memang menangis ketika melihat Bapak khotbah. Saya teringat kambing saya yang hilang kemarin. Jenggot Bapak mirip banget, membuat saya teringat lagi dengan kambing kesayangan saya.”

“Wooo, sontoloyo! Semprul”

Menilai orang lain memang sangat mudah. Sayangnya penilaian itu tidak selamanya benar. Seringkali kita dibuatnya ikut sedih, Ge eR, terbahak-bahak, terharu dan sebagainya. Padahal ternyata itu salah. Kita tertipu oleh penilaian kita sendiri. Salah sangka.

Anehnya, salah sangka ini seringkali jika dilihat dari luar akan memunculkan rasa humor, memicu tertawa. Meski sebenarnya ada pihak yang jengkel di situ. Pihak itu bisa jadi yang disalah sangkai atau si pelaku salah sangka.

Ada orang yang menganggap serius hal ini. Menyinggungnya bisa membuat si pihak jengkel menjadi marah tak terkira. Namun ada juga yang tidak mau jengkelnya berlipat. Ia memilih melihatnya dari luar, ikut tertawa. Lebih tepatnya menertawai diri sendiri.

Tidak mungkin Pak Mamat atau si khotib GR yang sedang sial itu rela ceritanya dikonsumsi orang lain jika ia tidak ikut menertawainya. Namun ingat, jika kita ingin tertawa cobalah lihat-lihat situasi. Jika kita orang yang melihat dan bukan pelaku, pastikan tawa kita tidak menyinggung si salah sangka atau tersalah sangka.

Jadi, untuk memperoleh kegembiraan itu sebenarnya sederhana. Caranya? Ya bikin saja hatimu gembira. Wong itu hati, hatimu sendiri kok. 

Jogja, habis nyapu latar kosan
24 Okt 2012, 05.40

Iklan

One comment on “Salah Sangka dan Kegembiraan

  1. upik92
    13 Februari 2013

    😀 nyengir baca2 tulisannya..
    salam kenal ya..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 Oktober 2012 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: