.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Progo, Pengasong, dan Pelayanan

Kereta progo yang saya naiki ini berhenti di stasiun Gombong. Kereta berhenti di stasiun itu sudah biasa, kalau berhenti di terminal itu baru aneh. Memang sih, sebelumnya kereta ini sudah mampir di beberapa stasiun. Wates , Jenar, Kutoarjo sudah disinggahi. Tapi kali ini beda. Makanya mau saya ceritakan. Sampai-sampai saya menulis tulisan ini di dalam kereta.

Ada Razia !!

Pedagang Asongan Dilarang Berjualan di dalam kereta

Razia pedagang asongan. Mereka disuruh turun dari kereta. Saya yang di gerbong AC (karena kehabisan tiket non AC) sebenarnya tidak terganggu dengan pedagang asongan. Ternyata di gerbong non AC masih ada pedagang asongan yang nekat jualan meskipun dilarang. Stasiun gombong rame. Saya nekad turun dari gerbong mau lihat langsung. Banyak polisi, juga terlihat blitz kamera wartawan yang menyala-nyala.

“Razia pedagang asongan” kata pak Kondektur ketika saya tanya ada apa.

“Kirain nurunin penumpang gelap”

“Sekarang sudah tertib mas. Ga ada penumpang gelap”

“Masuk stasiun aja susah” timpal yang lain

Oo, saya jadi tahu kalau PT KAI benar-benar serius untuk memperbaiki pelayanan. Sebelumnya hanya tahu kalau pemesanan tiket yang lebih profesional, bahkan bisa dibeli minimarket. Ternyata tidak hanya itu.

Kereta jalan lagi.

Saya kepikir bagaimana ya nasib pedagang asongan dengan penertiban ini. Kalau dibiarkan mengganggu, kalau dilarang nanti mereka bagaimana? Ah, saya yakin ada solusi jitu meski untuk saat ini mungkin belum ketemu.Yang pasti, Sang Maha Pemberi Rizki pasti lebih tahu. Apalagi, orang Indonesia terkenal pekerja keras, pantang menyerah.

Terbukti !!

Di stasiun Kroya, ada pedagang asongan naik, mau masuk gerbong saya, tapi ada petugas keamanan yang berjaga. Dengan logat ngapak, pengasong itu marah-marah pada pak petugas kemanan.

Iki inyong golek duwit! (Saya ini cari uang) !

“Kalau mau nantang ayo turun !! Kita berkelahi di bawah!”

“Pengin cari mati apa!”

Petugas keamanan hanya diam dan menjaga agar Gerbong tidak kebobolan. Saya dan penumpang lain menengok adegan yang berlangsung di ujung gerbong itu. Entah paham atau tidak dengan bahasa yang digunakan pedagang asongan untuk marah-marah itu.

Penumpang pada menonton adegan pengasong yang marah2 di ujung Gerbong

Kereta jalan lagi

Berhenti di stasiun Purwokerto, tiba-tiba ada serangan suara,

“Gethuk goreng, gethuk goreng!!”

“Kopi-kopi !!”

Teriakan itu memasuki gerbong. Satu pedagang berhasil masuk, tapi hanya di ujung gerbong. Yang lain hanya sampai di sambungan gerbong. Jadilah teriakan itu bersahut-sahutan dari ujung ke ujung. Nah saya yang duduk di ujung gerbong merasakan “nikmat” itu. Teriakan itu pas di telinga saya. Tapi yang jelas tak ada lagi pedagang yang sliwar-sliwer melintasi badan gerbong sampai nyodok kepala penumpang. Mereka hanya di ujung saja.

Ini tentu beda dengan kondisi kereta Progo setahun yang lalu. Seperti yang sering saya ceritakan sebelumnya (klik disini, disini). Pelayanan memang nomer satu. Bahkan ada penumpang merokok pun juga disamperin petugas keamanan.

Setiap penyelesaian masalah, menimbulkan masalah baru. Itulah perubahan. Perubahan tidaklah semudah bim salabim. Butuh proses, butuh pejuangan dan kesabaran. Disitu tantangannya.

Pelayanan sudah baik. Memuaskan. Lalu apa masalahnya? Tiket jadi mahal. Kereta ekonomi andalan wong cilik ini tentu akan menyulitkan bagi yang tidak cukup uang. Bagaimana coba kemudian nasib Pak yang jualan ayam (ditaruh di bawah kursi, bahkan di kamar mandi) di Jatinegara, yg dulu pernah kenalan dengan saya.

Pedagang asongan tentu banyak yang kecewa. Disini juga ada tantangan. Kok tantangan? Ya, setiap masalah adalah tantangan. Bisakah kita menyelesaikan masalah? Itu !

Saya yakin dengan keadaan kepepet ini, mereka tidak akan putus asa. Justru akan memicu kreativitas mereka. Orang Indonesia itu kreatif-kreatif. Dengan kata lain, bisa-bisa mereka terpaksa menjadi wirausaha baru! Tentunya PT KAI harus mau bertanggung jawab, setidaknya membantu permodalan. Lha ceruk uang yang biasa dinikmati pengasong kini diambil PT KAI. Asongan tidak ada, otomatis penumpang yang lapar (apalagi ada ACnya) akan membeli makanan dari restoKA.

Oke, sementara ini saya baru bisa penonton dan komentator. Usaha saya mungkin baru bisa sebatas berdoa. Semoga kelak bisa membantu member solusi berupa aksi nyata. Siapa tahu kelak saya jadi orang kaya ? Bisa bantu modal mereka, atau menyerap tenaga kerja. Siapa tahu saya kelak jadi pihak pengambil kebijakan? Tentu bisa lebih mudah turun tangan karena masuk dalam sistem.

Mohon doanya..

 

KA Ekspres Progo

Perbatasan Jateng-Jabar

20.45

 

 

 

Iklan

4 comments on “Progo, Pengasong, dan Pelayanan

  1. bunda rifa
    25 Oktober 2012

    fii amanillah, Ridwan.. semoga perjalanan spt yang digambarkan memberi banyak hikmah ya :). Oya, sukses buat FIM-nya, anyway.. (mba tiwi)

  2. Just Novi
    26 Oktober 2012

    Reblogged this on Just Novi !!.

  3. jalil
    26 Oktober 2012

    ana ana bae kiye bocah
    bisa liat nanti laporan keuangan KAI, pre dan post reformasi, alokasi keuntungan ke mana aja
    saya berharap tidak hanya untuk kenaikan gaji pegawainya, tapi juga mikirin gaji Pak asongan, kalo tidak mau dianggap mendholimi.

  4. fir
    1 November 2012

    kali ini aku rela komen dengan wajah super jelek begini (bisa ganti wajah nggak sih? how?).
    “jadi teringat pilem alangkah lucunya negeri ini, temenku sampek nangis – nangis pas di akhir. kata perubahan kenapa jadi sedikit menyeramkan? ah tidak, jauh lebih menyeramkan dari foto pocongmu yang sempat kau jadikan pp”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 Oktober 2012 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: