.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Haris & Equation Hidup

Saya memiliki seorang teman dekat. Sebenarnya saya tidak perlu menyamarkan namanya. Karena menurut saya ini bukan aib. Bukan sebuah kejelekan. Namun, sepertinya lebih baik saya menyebutnya tidak menggunakan nama asli. Jadi, sebut saja namanya Haris.

Haris, bagi saya orang yang keren. Dia pernah menjadi ketua BEM di kampusnya. Seperti kakak saya, Haris memiliki 2 ijazah : D3 dan S1 di kampus yang sama. Bedanya dengan kakak saya, si Haris IPK nya Cumlaude. Orangnya supel, mudah bergaul, asyik diajak ngobrol, sering tertawa juga tersenyum : Smile. Begitu dekatnya saya dengannya, sudah jadi barang biasa saling nraktir antara kami.

Haris sudah lulus. Dia memiliki keinginan menjadi pengusaha, tapi berhubung Ibunya memintanya jadi pegawai maka dia ikuti kata ibunya. Keinginannya dipending dulu.

“Kalau sudah jadi pegawai, gajian, ga ada alasan bagi calon mertua untuk menolak kita, Wan!, haha” Begitu candanya, ketika kami sedang makan batagor di pinggir Jalan Kaliurang pada suatu malam. Maklum, tema seperti ini memang seringkali menjadi obrolan favorit anak muda.

Sudah lebih dari setengah tahun, Haris memiliki gelar sarjana. Selama itu pula berbagai tes perusahaan sudah ia jalani. Sekitar 15 perusahaan lah. Berbagai tahapan pula sudah ia tembus. Tes psikotes dan wawancara sudah berkali-kali ia lakukan. Kemarin tes ini, Sekarang tes itu, besok wawancara ini, lusa wawancara itu.

“Sampai-sampai, saya hafal tuh Wan, yang namanya soal-soal psikotes. Lha pernah malah, mbaknya yang jaga tuh yang kemarin juga jaga di psikotes sebelumnya !” Saya ikut tertawa dibuatnya.

Wawancara juga sudah sampai tingkat user. Itu pun juga tidak hanya sekali. Haris merasa jawabannya ketika wawancara memuaskan si user. Yakin keterima. Tinggal nunggu panggilan.

Namun, nah ini. Panggilan itu tak kunjung tiba. Dari semua perusahaan yang pernah ia daftari, belum ada yang deal dengannya. Ada yang konfirmasi, ada yang tidak memberi kabar. Pekerjaannya sekarang adalah menunggu sms atau email surprise itu. Ini bukan aib, ini nasib. Sudah pasti ada hikmah di balik ini semua. Ada rahasia yang belum terkuak. Kejutan itu belum kelihatan.

Haris sudah berusaha dengan maksimal. Nah urusan hasil itu urusan Tuhan.

Makin lelah perjalanan, makin terasa nikmat ketika sampai tujuan. Makin lapar menahan makan ketika puasa, makin terasa nikmat ketika saat berbuka puasa tiba. Saya yakin, hal ini juga akan membuat makin terasa nikmat bagi Haris di ujung perjuangannya.

**

 

Ada sebuah equation atau semacam rumus dalam hidup ini. Jika ingin ini maka harus begini. Jika ingin itu harus begitu. Jika ingin selamat di jalan raya, ya harus hati-hati. Jika ingin sehat harus rajin olah raga, makan bergizi, istirahat cukup. Itu hukum alam. Hukum kausalitas, sebab akibat. Secara logika, bisa diterima manusia.

Namun, sebab akibat yang diterima logika manusia itu masih berada di bawah hukum lain, yaitu takdir. Kehendak Tuhan seringkali tidak bisa diprediksi manusia dengan logika-logika yang dimiliki. Orang yang sudah hati-hati di jalan raya, bisa saja tetap celaka. Orang yang sudah menjaga kesehatan bisa saja sakit.

Secara logika, sulit diterima seorang Tukul bisa menjadi artis populer yang kaya raya. Tidak ada yang menyangka supir omprengan itu menjadi setenar sekarang. Tukul sendiri bahkan dulu tidak membayangkan menjadi sesukses sekarang. Itu baru Tukul. Siapa menyangka, Yusuf Mansur yang pernah masuk penjara gara-gara terlilit hutang, bisa sesukses seperti sekarang.

Masih ada banyak kisah orang-orang sukses lainnya yang dulu secara logika susah diterima untuk menjadi sukses seperti saat ini. Rumusnya tidak linear, grafiknya tidak selalu lurus. Tak terduga sebelumnya.

Mereka kan bekerja keras? Itu secara logika bisa diterima dong. Iya, saya sepakat. Namun, tanpa adanya kehendak Tuhan, jalan kesuksesan itu tidak akan pernah ketemu meski bekerja sekeras apapun. Buktinya, tidak semua supir omprengan atau orang yang terlilit hutang bisa menjadi seperti Tukul & Yusuf Mansur. Bukan karena mereka tidak bekerja keras, tapi karena memang jalannya Beda.

Saya tidak mengingkari hukum sebab akibat dengan logika-logikanya. Itu hukum alam, sunatullah.Hanya saja, kita tidak bisa hanya mengandalkan logika kita hingga lupa bahwa Allah lah yang menentukan. Ia yang mahakuasa. Keduanya berlaku. Jangan hanya mengandalkan logika, juga jangan mengandalkan takdir tanpa berusaha sedikitpun.

Itulah mengapa selain berusaha juga harus berdoa. Selain berdoa juga harus berusaha.

Secara logika, Haris kawan saya ini, harusnya sudah diterima oleh perusahaan-perusahaan yang dilamarnya. IPK nya cumlaude, hardskill memadai. Softskill tak diragukan, pernah jadi ketua BEM. Apa lagi coba?

Untungnya, Haris ini sepaham dengan saya. Makanya dia tidak stress. Ia bersiap dengan kejutan yang telah disiapkan Tuhan. Bersiap dengan equation yang linear juga yang eksponensial.

 

Jogja, 7 Nov 2012

kamar luas yg dihuni Haris selama kuliah

Iklan

2 comments on “Haris & Equation Hidup

  1. mbahsuroso
    7 November 2012

    Bersiap dengan yang terbaik menurut Allah, bukan menurut kita. Dia Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya. Tawakkaltu ‘alallah

  2. ELy Prasetyani Wulandari
    7 November 2012

    IPK enggak cumlaude, belum pernah jadi ketua BEM juga –> kudu lebih bersabar menunggu sms surprise 😀
    kuadratkan usaha dan do’a..
    #refleksifreshgraduate

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 November 2012 by in opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: