.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Kesepelean Nikmat

Jadwal kereta prameks jam 5.30 tidak lagi beroperasi. Ini jelas musibah. Prameks baru berangkat dari Kutoarjo jam 8.15. Itu berarti paling cepat jam setengah 10 baru bisa sampai kampus. Sebenarnya bisa naik kereta Progo jam 6 yang sudah pasti longgar. Tapi dengan sistem yang berlaku di Stasiun saat ini, itu repot.

Akhirnya saya berangkat ke Jogja jam 5 pagi naik bus. Ini kali pertama saya berangkat dari Kutoarjo ke Jogja naik bus sepanjang sejarah saya ngampus di UGM. Aneh, tapi nyata. Boleh jadi jadwal baru prameks itu musibah. Namun bagi pihak lain itu sungguh merupakan nikmat : bagi supir Bus.

Bus jelas beda dengan kereta api. Kutoarjo-Jogja dengan Prameks cukup 1 jam. Dengan bus memakan 3 jam sudah termasuk ngetem2nya. Kereta jalannya lurus dan semua kendaraan mengalah untuk datangnya kereta. Sementara bus jalannya belak belok dan harus saling mengalah dengan kendaraan lain.

Asap rokok di dalam bus makin menyiksa. Tapi itu belum seberapa. Masih ada siksaan berikutnya yang lebih membuat menderita. Minimal ada 2 sebab : Saya berangkat terlalu pagi dan di dalam bus tidak ada kamar kecil. Ritual rutin pagi hari yang belum terlaksana tidak bisa disalurkan.

Itu siksaan yang nyata! Menahan gejolak perut. Hajat yang tak tertunaikan.

Jadilah saya musti bersabar ekstra sambil sekuat tenaga menahan bendungan pertahanan dalam waktu yang tidak sebentar.

Sungguh saya selalu bersyukur setiap pagi hari ketika “nikmat itu” datang. Dan kejadian pagi ini sudah pasti akan membuat rasa syukur saya semakin besar di hari-hari kemudian. Tapi tidak untuk pagi di bus derita ini.

Dalam penantian itu, hanya sabar yang bisa menguatkan. Singkat cerita (meski sebenarnya sulit untuk disingkat, karena massa penantian itu jelas tidak singkat) saya sampai kos. Saya berlari pontang panting menuju satu tujuan. Para penghuni lain pun dengan mudah menebak apa yang terjadi. Pasti itu soal serangan fajar!

Dan ketika akhir penantian itu tiba, yang ada adalah kenikmatan yang berlipat-lipat. Seperti bertemunya Adam yang terpisah dengan Hawa selama ratusan tahun, begitu membahagiakan. Seperti bersin yang berhasil setelah berkali-kali gagal, begitu melegakan. Bahagia dan lega jadi satu.

Kenikmatan yang berlipat itu musti disyukuri. Ritual pagi yang seringkali dianggap sepele menjadi sesuatu yang begitu berharga ketika saya paham betul bahwa tidak ada nikmat yang sepele. Semua nikmat harus disyukuri.

Maka begitu keluar dari WC, saya ucapkan : Alhamdulillah…

 

Jogja 9 11 12

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 November 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: