.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ngapain sih Naik Gunung ?

“Apaan si enaknya naik gunung? Cuma jalan-jalan begitu. Capek. Mau-maunya repot-repot. Kurang kerjaan aja”

Itu yang ada dalam pikiran saya dari dulu, sebelum akhirnya memutuskan untuk naik gunung untuk pertama kalinya. Saya diajak teman-teman SKI JTMI untuk muncak ke Sindoro. Ya, Sindoro adalah gunung pertama yang saya taklukkan. Menaklukkan gunung, maksudnya menginjak puncaknya. Setahun kemudian, naik ke Lawu. Menaklukkannya. Terakhir, menaklukkan Merbabu.

Ketika naik Sindoro, saya tidak minta izin orang tua. Sudah pasti tidak boleh. Rencananya mau langsung ngasih liat foto-foto di puncak gunung. Akhirnya sepulang dari Sindoro, waktu ngobrol dengan ibu di rumah, saya nyalakan laptop. Bersiap memamerkan penaklukan Sindoro.

“Bu, kalo Iwan naik gunung gimana? (panggilan rumah saya : Iwan)

“Ga usah neko-neko. Bahaya. Banyak yang jadi korban tuh di tipi-tipi. Kurang kerjaan saja”

Laptop sudah nyala. Saya tidak jadi memamerkan poto-poto penaklukan Sindoro. Waktunya tidak tepat. Seharusnya saya tidak perlu menanyakan hal itu dulu. Langsung saja pamerin foto. Baru beberapa bulan berikutnya saya melakukannya.

“Ini lho Bu, waktu itu Iwan naek gunung. Keren kan, potonya. Buktinya Iwan selamat kok”

Setelah saya jelaskan banyak hal. Akhirnya tidak ada larangan lagi naik gunung. Sebelumnya, ibu mengira kalau naik gunung itu macam panjat tebing. Lagi-lagi seperti yang ada di tipi-tipi.

“Jadi, sudah ada jalannya, Bu. Ga ada pake tali-tali begitu. Juga banyak temannya. Insya Allah aman”

Pendakian berikutnya, saya selalu minta izin orang tua. Dan diizinkan. Meski kata-kata itu tetap saja terlontar : “Apaan si enaknya naik gunung? Cuma jalan-jalan begitu. Capek. Mau-maunya repot-repot. Kurang kerjaan aja”

***

Karpet hijau keemasan, menyelimuti bukit menuju Puncak Merbabu

Nah, kali ini saya akan menceritakan enaknnya naik gunung. Yang bisa menceritakan pastilah ia yang pernah merasakannya sendiri. Jadi, wajarlah ibu saya dan saya dulu memandang remeh naik gunung. Secara logika memang begitu : Mau-maunya repot-repot. Kurang kerjaan aja.

Ada banyak hal. Nanti bisa kau tambahkan jika kurang.

Pertama, Refreshing. Ketika beban di kepala terasa berat memikirkan berbagai urusan, maka perlu hiburan untuk menguraikan ikatan kepenatan itu. Boleh jadi fisik memang capek bin tepar. Tapi ada suatu kepuasan tersendiri ketika kau melihat pemandangan indah dari atas gunung. Pemandangan di bawah sana, dimana rumah-rumah terlihat kecil, sungai terlihat seperti benang putih. Pemandangan di langit, dimana awan terlihat begitu dekat, bahkan kau berada di atas awan. Dan terakhir adalah pemandangan di gunung itu sendiri, pepohonan dan berbagai tumbuhan terlihat seperti hamparan karpet hijau yang menyelimuti bukit dan gunung. Belum lagi bunga eidelwis yang mempesona itu.

Kedua, karakterisasi. Wah jadi seperti judul skripsi saya nih. Hehe. Maksud saya, selama perjalanan di gunung kita akan dengan mudah mengenal karakter kawan seperjalanan kita. Watak aslinya akan keluar. Terlihat dengan jelas. Topeng-topeng yang  selama ini dipakai atau yang kita pakaikan terbuka. Ada perjalanan bersama, bermalam bersama, juga urusan materi. Komplet sudah, sesuai pesan nabi jika kau ingin mengenal tentang seseorang, lakukan 3 hal itu. Jadi, jika kau ingin menyelidiki seseorang -bisa untuk dijadikan sahabat, atau bahkan jadi pasangan hidup- untuk orang lain atau untukmu sendiri, maka salah satu caranya adalah dengan mengajaknya naik gunung.

Ketiga, kontemplasi. Selama naik gunung, saya sering merenungkan berbagai hal tentang kehidupan. Kadang hanya berada di alam pikiran, tidak jarang saya mengatakannya dengan lisan. Mengajak rekan perjalanan ikut merenungi apa yang saya pikirkan.

“Hei kawan, kau lihat itu. Rumah-rumah besar, gedung mewah yang selalu dibanggakan orang dari sini nampak begitu kecil. Tak ada apa-apanya. Tak ada harganya”

“Beginilah kehidupan, kalau tidak ada cahaya kita bisa terperosok dalam jurang kebinasaan, atau tersesat tanpa tujuan (naiknya malam hari,). Namun, ada cahayapun belum cukup. Kau musti tetap berlelah-lelah demi mencapai tujuan. Karena sampai puncak sana, lelahmu akan terbayar. Begitu juga di surga kelak”

Begitulah, saya sering ngelantur ngomong sendiri. Syukur didengar kawan saya. Tidak juga gapapa. Karena sejatinya saya sedang ngomong dengan diri saya sendiri.

Keempat, koleksi. Banyak hal yang bisa dikoleksi sepulang naik gunung. Tidak hanya koleksi foto-foto yang bertambah. Tapi juga koleksi pengalaman, koleksi cerita dari kawan, koleksi petualangan, juga koleksi tulisan. Karena tidak semua orang memiliki koleksi itu. Suatu saat kelak bisa jadi bahan untuk bercerita pada anak cucumu. Keren bukan?

Kelima, dzikir. Mengingat Tuhan. Menghubungkan semuanya dengan kebesaran Tuhan. Allahu Akbar. Meski di urutan kelima, justru inilah yang paling penting. Bahwa gunung yang perkasa ini hanyalah sesuatu yang kecil. Allahlah yang Mahaperkasa. Jika Dia berkehendak, bisa saja kau terjatuh, kaki patah. Sedangkan rumah sakit begitu jauh, untuk turunpun susah. Kalau saja tersesat, itu sudah disebut bencana. Makanan dan air terbatas. Maka saat naik gunung, kepasrahan kepada Tuhan benar-benar terasa. Berdzikir dengan cara ini bahkan lebih dahsyat dibanding dengan sekedar duduk di masjid sambil memegang tasbih mengucapkan kalimat dzikir.

Sepertinya lima hal itu sudah cukup, ada yang mau menambahkan?

Ingat juga, bahwa jika diniatkan untuk ibadah, Insya Allah akan mendapatkan pahala yang setimpal dengan kelelahan. Asam laktat yang terkumpul di otot-otot sehingga menyebabkan pegal-pegal, kelak akan menjadi saksi. Tempurung lutut yang serasa hampir lepas, juga akan menjadi saksi. Saksi bahwa pemiliknya melakukan Iqra’. Membaca kebesaran Tuhannya, mendaki gunung untuk beribadah.

Saya tutup tulisan ini dengan salah satu hasil perenungan saya:

Setinggi apapun gunung yang kau daki, sehingga membuatmu lelah tapi begitu bangga bisa menaklukkannya, Ada gunung yang harus kau taklukkan, ini lebih sulit. Gunung itu ada di dalam hatimu. Berupa gunung kesombongan. Menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Gunung itu yang harus kau taklukkan, meski begitu berat.

 

menuju 3265 MDPL

 

Yogya, 15 November 2012
1 Muharram 1433

Iklan

15 comments on “Ngapain sih Naik Gunung ?

  1. izzatyzone
    16 November 2012

    naik gunung itu sensasi ,pak 😀
    ketika berhasil menaklukkan 1 gunung, maka pasti ada perasaan ingin menaklukkan yang lain 🙂 uwaaaaaahhhh pengen muncaaaaaaaaaakkkk \o/
    ajak2 dong pak, kalo mau ndaki lg hehe

    • kangridwan
      16 Januari 2013

      Serius nih, pengin diajak? Oke2! Kapan2 kalo mau naek gunung, semoga ga lupa buat ngajak.

      ntar kirim nomer Hape yak! (via PM FB)

  2. ichigoyo
    16 November 2012

    hmm..mantap!
    Buatku,,,koleksinya juga nambah koleksi teman… 😀

    • kangridwan
      16 Januari 2013

      kemarin udah aku tambahin tuh koleksimu, Chi!
      koleksi poto, juga koleksi teman.
      hehe

      🙂

  3. wibisono
    16 November 2012

    alhamdulillah.. pas suro kemarin habis dari merapi lagi.. 😀

  4. hidatte
    18 November 2012

    oowh..ga kayak di tipi2 itu to bro?
    padahal pengen yang panjat2 pake tali XD

    • kangridwan
      16 Januari 2013

      Mau pake tali juga boleh, diiket di leher temenmu suruh narik, trus kamu bilang “mbeeeek”.
      gitu juga ga papa, dik

      • hidatte
        16 Januari 2013

        -,-
        aku bilangnya kan “panjat2 pake tali”
        pie, dah nyampe jawa? oia jare ndekmben kae meh nawari gawean 😛

  5. imam luthfi
    16 Januari 2013

    iya ya, ngpain sih naik gunung,? kalo ada yang nanya itu lagi, kasih aja blog nya om ridwan ini dah, hatur nuhun

    • kangridwan
      16 Januari 2013

      sip lah!

  6. Ping-balik: Naik Slamet, Turun Slamet | .: Petualang Kehidupan :.

  7. herlambang satrio
    24 September 2013

    afwan, sekedar mengingatkan akh, gunung bukan utk ditaklukan tetapi untuk ditafakuri, yg harus ditaklukan itu ego dari diri sendiri 🙂

  8. pramudyaarif
    20 Oktober 2013

    suk nek aku wis ora jomblo,munggah gunung bareng yo.hahahaha

  9. rishajasmine
    27 Maret 2014

    Reblogged this on Pāramitā and commented:
    Buat apa naik gunung, ndhuk?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 15 November 2012 by in hikmah, opini, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: