.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ketika Saya Marah

Marah itu perlu disalurkan. Seperti kentut yang harus dikeluarkan. Kalau ditahan tidak asik.

Suatu ketika saya marah. Masalahnya sepele sih, saya mendengarkan orang “ngrasani” saya, entah itu ghibah atau fitnah. Saya mendengarnya langsung. Kok bisa? Jadi, habis telepon, dia lupa tidak mematikannya. Dalam kondisi telepon yang loadspeaker, saya sempat mendengar dia ngobrol dengan orang di sampingnya & ngrasani saya.

Sepele bukan? Sebenarnya mudah saja bagi saya untuk tidak marah, tapi berhubung waktu itu keadaannya ibarat kayu kering disiram bensin, lalu ada percikan api. Segeralah membesar api kemarahan itu. Ini menyangkut harga diri.

Namun ada yang saya syukuri. Ketika direndahkan & dihina, saya tersinggung. Itu menunjukkan bahwa sensor perasaan saya masih hidup, masih berfungsi. Alhamdulillah..

Kembali lagi ke marah saya. Apa yang saya lakukan? Saya menendang & memukul udara, dengan gaya taekwondo. Itu belum cukup, saya ngebut naik motor. Kawan yang membonceng saya begitu khawatir. Berkali-kali menyuruh istighfar.

“Kalo, pengin turun, turun saja sekarang! Ga usah bonceng!”

Kelincahan saya naik motor menjadi berlipat. Jalanan yang padat sore itu dengan cepatnya terlewati dengan berbagai manufer. Zig-zag, ngebut, ngerem mendadak, nglakson, nembak lampu sorot. Mirip pembalap amatiran, tapi lebih mirip orang kesetanan. Bisa jadi juga karena sore itu mendekati maghrib, yang kata orang2 di kampung saya, itu waktunya setan lewat.

Seusai mengantar teman saya ini, saya langsung ke masjid. Mengambil air wudhu. Masuk masjid. Kebetulan pas masuk waktu maghrib, saya azan. Di sini terasa sekali sensasi itu. Saya sering azan, tapi kali ini beda feel-nya.

Ketika melafadzkan “Allahu Akbar”, saya begitu merasakan bahwa saya begitu kecil, begitu lemah. Bahwa gemuruh kemarahan di dalam hati saya ini terlalu kecil, tak ada apa-apanya. Allah yang mahabesar. Ketika melafadzkan “Asyhaduanna muhammadarrosululloh”, saya teringat mengatakan Jangan marah hingga 3 kali. Ketika melafadzkan “Hayya ‘alal falah”, saya harus bisa memenangkan pertempuran antara saya dengan rasa marah saya. Saya menangis seusai adzan.

Hei, ternyata marah yang datang pun harus disyukuri. Syaratnya, kita harus bisa mengelolanya. Menyalurkan marah menendang udara, ngebut di jalanan itu ternyata efeknya hanya kepuasan sedikit. Api yang bergejolak itu tidak menjadi padam, justru semakin menjilat-jilat. Namun, jika dikedalikan dengan baik, itu bisa menghangatkan makanan yang biasa kita makan menjadi lebih enak. Buktinya, azan saya lebih nikmat rasanya.

Jadi, kalau kamu marah silahkan saja diekspresikan. Namun jangan sampai merugikan orang lain. Boleh ngebut di jalanan, tapi jangan nabrak orang. Boleh menendang atau memukul udara, tak ada yang jadi korban. Bisa membanting gelas, tapi kau harus kehilangan gelasmu & memungut pecahan-pecahannya. Sedikit merepotkan memang, bisa diganti dengan membanting kaos kaki. Kaos kakimu anti pecah, kan?

Namun yang paling penting adalah ketika kau mengekspresikannya, kau masih memegang kendali atas dirimu. Jangan sampai marah yang memegang kendali itu. Sulitnya di sini. Maka dari itu, mohonlah pada Dzat yang maha menguasai hati, agar kau diberi kemudahan mengendalikannya. Cara ini lebih cerdas !

Yogya, 19 November 2012

Iklan

2 comments on “Ketika Saya Marah

  1. aghie.yoedha
    19 November 2012

    🙂

  2. Yessy Nur Handayani
    21 November 2012

    Maafkan dan Lupakan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 19 November 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: