.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ada Surga di Dapur Rumah Saya

Sore ini sebenarnya saya ingin segera kembali ke Jogja. Ada beberapa urusan yang harus saya selesaikan. Rencana di rumah hanya sehari sudah mundur menjadi dua hari. Rumah memang memiliki daya tarik tersendiri.

Namun ada kejutan, Uki pulang. Adik saya itu meski masih SMP sudah pisah dengan orang tua, dia nyantri di Kebumen. Jarang-jarang dia pulang. Kebetulan juga, mbak saya yang sedang hamil tua sedang di rumah. Komplit 3 bersaudara di rumah. Ini makin jarang. Lengkap sudah, tinggal mas saya yang belum datang karena sedang ada acara diluar.

Saat itu pula, saya putuskan untuk menunda ke Jogja. Saya pending lagi.

“Sekarang kita kerja bakti, semua ke dapur! Kita masak untuk berbuka puasa!” ajak ibu saya dengan semangat.

Hari ini hari As-Syuro, 10 Muharram. Hari yang disunnahkan untuk berpuasa. Saya puasa, ibu puasa, Uki juga puasa. Kebetulan juga, tanggal 10 Muharram ini hari kelahiran adik saya, 13 tahun yang lalu.

Akhirnya, kami berkemas, lalu menyerbu dapur.

Mbak saya motongin sayur, ngulek bumbu. Bapak saya marut kelapa sekaligus memeras santen. Ibu saya bolak balik di depan kompor. Saya mengupas, memotong pepaya lalu bikin teh. So sweat banget deh.

Di dapur ini sambil pada lesehan dan blepotan, kami saling berbagi. Berbagi cerita, berbagi kebahagiaan. Diselingi canda dan tawa. Itu di dapur. Bahkan dapurpun menjadi tempat istimewa, meski lantainya hanya semen.

“Wah, tiga tahun lagi di dapur ini bakal nambah yang bantu nih” saya mulai mancing. Semua paham maksud saya.

“Ga cuma ada yang bantu, tapi juga ada yang ngeganggu” sahut mbak saya. Semua juga paham maksud mbak saya ini.

“Eits, jangan salah. Orang sekarang saja sudah ada yang nawarin pengin bantu masak” kelakar Bapak saya.

Semua tertawa

Saya terbayang 25 tahun yang lalu. Ketika itu pasti di dapur hanya berdua. Bapak dan ibu saya. Dari dulu hingga sekarang memang Bapak saya sering ikut bantu ibu di dapur. Namun sore ini pasti kebahagiaan Bapak dan ibu saya membuncah. Ditambah lagi di dapur itu juga ikut calon keluarga baru, cucu pertama yang masih di dalam kandungan mbak saya. Sempurna. Ada surga di dapur rumah saya, sore ini.

Makanan sudah siap, semua telah tersaji di ruang keluarga. Di atas karpet berukuran 2×2,5m kami duduk melingkar. Kali ini lebih komplet, mas saya sudah tiba di rumah. Menu makannya sederhana : nasi, sayur kangkung, tempe, tahu, telor, sambel trasi, pepaya, dan teh hangat. Namun yang sederhana itu menjadi spesial. Bukan hanya karena kami makan lengkap bersama-sama, tapi juga karena makanan itu dimasak bersama-sama bumbu spesial : Cinta.

Sambel terasi yang masih di atas leyeh itu habis.

“Ini kalo leyehnya ga tebal, udah bolong nih gara-gara dikeruk terus” canda saya sambil mengeruk sambel yang masih tersisa. “ini jadi enak karena sambalnya sedikit nih”

“Bukan, jadi enak karena kita makan rame-rame. Kalau sendirian pasti ga habis” balas Bapak saya.

“Bukan, jadi enak karena kita semua lapar!” cletuk adik saya.

Semua tertawa.

Dari dapur menjalar ke ruang keluarga, lalu memenuhi seisi rumah, semua terasa menjadi surga.

 

Semawung, Baiti Jannati

10 Muharram 1434 H

24 Nov 2012

Iklan

2 comments on “Ada Surga di Dapur Rumah Saya

  1. perindumalam
    29 November 2012

    hatiku gerimis baca ini

    • kangridwan
      1 Desember 2012

      hatiku bergemuruh nulis ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 November 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: