.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Tipeku, Tipemu, Tipenya

Saya punya teman, tampangnya serius. Alisnya seakan-akan pengin menyatu, membentuk huruf V dengan kening sedikit berkerut. Kata-kata yang keluar juga serius. Saya pun jadi agak sungkan untuk becanda, karena terlalu sering gagal. Tapi kalau bisa membuatnya tertawa, itu menjadi kepuasan tersendiri. Jangankan tertawa, senyumnya saja langka. Seperti oase di padang pasir. Kalaupun ketemu seringkali fatamorgana, senyum ketus seakan tidak tulus.

Itu pembawaan. Tak ada gunanya saya memprotesnya. Memintanya mengubah perangainya. Saya sampai berpikir, bertanya-tanya bagaimana kelak model istri yang cocok dengan dia ya?

Ada juga kawan saya yang suka becanda. Bahkan baru melihat wajahnya saja sudah mengundang tawa. Apalagi kalau sudah mulai bicara. Kehadirannya selalu saja mencairkan suasana. Kontras dengan yang pertama. Bahkan saya bertanya-tanya, ini orang bisa serius tidak sih ya?

Jenis berikutnya, dia wajahnya selalu ceria. Entah mengapa saya selalu merasa bahagia berada di dekatnya. Dia bisa serius. Bisa becanda. Kadang bercerita tentang kesedihannya, juga kebahagiaannya, tentang harapannya juga mimpi-mimpinya. Mengena! Tapi selalu saja wajahnya segera kembali seperti semula : ceria. Mungkin setipe Aisyah istri nabi. Atau Ali sepupu nabi.

Berikutnya perangai Marmos. Marai Emosi, bikin emosi. Bukan tampang serius, tampang becanda, atau tampang ceria. Tapi tampang congkak, tampang gumedhe, tampang seenak gue. Parahnya, tabiatnya melengkapi wajahnya. Bisa becanda, tapi untuk kemudian merendahkan. Bisa merendah tapi untuk kemudian meninggikan dirinya sendiri. Bisa memuji tapi untuk kemudian menjatuhkan. Tiap kali bertemu dengannya harus segera pasang kuda-kuda.

Masih ada yang berikutnya.

Dia tidak bisa marah. Wajahnya terlalu sering tersenyum. Akibatnya seringkali dia diremehkan oleh kawannya. Toh dia ga bakal marah. Pernah saya mencoba memarahi dia agar bisa akting marah. Memaksanya memasang wajah marah. Yang ada malah saya tertawa sendiri. Yang terbentuk bukan wajah marah, lebih mirip wajah orang menahan kentut.

Ada yang pendiam. Hemat kata-kata. Entah hemat, atau pelit. Kata-katanya begitu irit, sedikit, sak umprit. Ketika yang lain tertawa bahagia dia diam, paling hanya senyum. Bahkan untuk tertawa pun masih bisa ia simpan. Dalam kondisi marah, dia juga hanya diam. Ketika sedih juga diam. Misterius. Sampai-sampai sampai ada yang mengibaratkan, seandainya dia menginjak kotoran ayam sekalipun paling juga diam. Atau mungkin bicara dengan pelan dan cukup ia dengar sendiri, “E..e.. nginjek tai ayam”

Anomali juga ada. Maksudnya, dia aneh. Kok bisa aneh? Ketika orang-orang tertawa, dia diam, seakan tidak paham. Seringkali lebay untuk hal-hal sepele. “Seriuuus?” katanya dengan sangat serius. Padahal sebenarnya biasa saja. Ketika ada lawakan garing, dia malah tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan mendadak. Mengagetkan. Akhirnya semua ikut tertawa, bukan karena lawakan garing itu, tapi karena kaget dengan tertawanya si Anomali ini.

Ada si korban bully. Keberadaannya selalu diharapkan untuk dijadikan korban ejekan. Ejekan untuk penggembira suasana. Dia pun sudah kebal dengan semua jenis ejekan. Tiap kali diejek dia bersyukur karena saat itu doanya makbul. Dia tidak tersinggung, sudah jadi rahasia umum. Sudah ikhlas dari awal. Dia sampai hafal semua jenis ejekan yang akan dia terima. Terkadang malah dia ikut menggembirakan suasana dengan mengejek dirinya sendiri, mendahului orang lain.

Yang hebat tuh, yang bisa memainkan wajahnya. Tergantung sikon. Ketika berada bareng orang-orang serius, dia bisa serius. Ketika bersama orang-orang yang suka becanda, dia bisa mengikuti alur. Ketika saatnya marah, dia bisa membuat orang ciut nyalinya. Ini bukan plin plan atau bermuka banyak yang memiliki artian negatif. Ini justru kelebihan. Dia bisa berbicara dengan berbagai bahasa : bahasa serius, bahasa becanda, bahasa marah, bahkan bahasa diam. Semua mengena, semuanya tepat waktu, tepat suasana. Saya kagum dengan jenis yang ini. Jarang, tetapi ada. Ada, tetapi jarang.

Kau tipe yang mana?

Adakah di antara yang saya sebut di atas? Jika tidak, silahkan tulis sendiri untuk tipe berikutnya. Karena ini belum selesai. Masih ada banyak tipe-tipe berikutnya. Di sanalah letak kekuasaan Tuhan. Itulah perbedaan.

Bahkan jika kau rajin membaca sirah sahabat, orang-orang agung yang dididik langsung oleh Rasulullah, kau akan mengenal Abu Bakar yang lemah lembut, Umar yang keras mendekati kasar, Usman yang pemalu, Ali yang slengekan tapi cerdas. Jelas mereka berbeda. Tapi Nabi bisa menyatukan mereka dengan ukhuwah. Persaudaraan yang diikat dengan keimanan.

Bahwa perbedaan bisa menjadi rahmat jika kau piawai mengelolanya. Syaratnya, kau paham cara menyatukannya. Ilustrasi mudahnya : seperti gado-gado yang ada bumbu kacangnya. Bumbu kacang menyatukan perbedaan bentuk dan rasa dari komponen penyusunnya. Ketupat, kecambah, telor, tahu, kubis, menjadi nikmat dalam payung bersama bernama Gado-gado.

Masih sulit membayangkannya? Kalau begitu kau pasti termasuk tipe orang yang tidak suka membaca juga tipe yang tidak suka makan gado-gado.

Perpus JTMI FT UGM

Yogya, 27 Nov 2012

Iklan

9 comments on “Tipeku, Tipemu, Tipenya

  1. Afdil
    27 November 2012

    kayaknya saya ada di antara tipe di atas. hehe. salam kenal kang ridwan ..
    😀

    • kangridwan
      28 November 2012

      Salam kenal kak Afgan!

      Afgaaan !! Afgaaaan!!
      #histeris

      • Afdil
        28 November 2012

        hahahaa . jangan pingsan aja :D. mantab pisan tulisan-tulisannya bro..

  2. pramudyaarif
    27 November 2012

    tipenya yang kayak gimana ya??? *agak kode 😀

    eh ya,link ke blogku diupdate donk boi

    • kangridwan
      28 November 2012

      done, Boy!
      Salam Ganteng!

  3. Little Light
    27 November 2012

    seperti pelangi 😀

    • kangridwan
      28 November 2012

      pelukismu Agung, siapa gerangan?
      Pelangi pelangi ciptaan Tuhan

  4. aan
    13 Januari 2013

    hehe,..geli membacanya. apik kang…

  5. aerodest
    25 Oktober 2013

    ngakak bacanya!

    oya, yg tipe marmos, aku tiba2 inget ada temenku yg emang gitu banget! tapi kalo diinget2, lucu juga ya 😀 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 November 2012 by in hikmah.
%d blogger menyukai ini: