.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ibu Saya Ga Boleh Gaptek

Zaman terus berputar. Teknologi terus berkembang. Yang tidak mau mengikuti perputaran zaman dan perkembangan teknologi sudah pasti akan tertinggal. Makin tertinggal makin tidak bisa mengikuti dan sulit mengejar. Jika tidak mau tertinggal, harus mau belajar. Begitu hukumnya.

Simbah saya akan sangat kesulitan ketika dijelaskan tentang laptop. Teknologi tertinggi mengenai mendengarkan lagu ya pakai VCD, itu sudah lebih baik daripada kaset pita. Tentang mp3 dan seterusnya sudah tertinggal jauh.

Bahkan ketika kemarin saya mengambil gambar menggunakan kamera digital, simbah saya minta klise nya (klise = film negatif yg belum dicuci, dipake di kamera jaman mbelek raenak). Internet yang didalamnya ada FB, email, twitter, google, dan seterusnya terlalu tinggi untuk dibayangkan. Dan itu tidak menjadi masalah bagi simbah saya. Sudah merasa tertinggal, ya sudah. Juga tidak membutuhkan. Kalaupun butuh, tinggal minta tolong cucunya.

Jangankan zamannya simbah, zaman saya saja bergerak begitu cepat.

Kata ibu saya, ketika saya lahir, listrik masih jarang. Ketika saya kecil (usia TK) yang punya TV tidak sembarang orang. Dulu saya nonton film “pasukan Turbo”, “Bicroser”, “Ninja Jirayya”, rame-rame sama teman-teman di rumah mbah Sahlan. Setelah saya kelas 1 SD, baru punya TV. Saya masih ingat, bapak saya membelinya pas ketika saya ulang tahun : “Itu hadiah ulang tahun buat kamu” Nah sekarang? Listrik sudah dimana-mana, TV bahkan serumah bisa punya tidak hanya 1. Tiap kamar ada kalau perlu.

Waktu saya SMP kelas 2, ada teman bawa Hape Nokia 3315. Hape yang anjing bakal lari ketakutan kalau melihatnya, kuatir dilempar (begitu jokenya). Tapi waktu itu hape jenis itu sudah sangat mewah. Saya boleh pinjam saja sudah sangat senang, meskipun gamenya ya hanya ular-ularan dan  tetris. Masih monoponik, belum berwarna. Tapi itu benar-benar membuat saya takjub.

“Nanti aku miskol kamu, ya!” kata teman saya pada teman lainnya yg sama-sama punya hape.

Miskol? Apa itu? Kata miskol itu setahu saya ya salah satu hafalan surat pendek : Miskoladzarrotin khoiroyyaroh. Baru beberapa saat setelah itu saya tahu apa maksud miskol, ternyata missed call.

Sekarang? Hape sudah bermacam-macam modelnya. Tidak hanya bisa untuk nelepon. Tapi juga kamera, mp3, ngrekam suara, ngrekam video, nyetel radio, GPS, internetan, nonton TV. Jangan-jangan besok bakal muncul Hape yang ada kulkasnya? Haha. Itu belum cukup, satu orang bahkan bisa punya hape lebih dari satu. Satu hape bisa dipasang 2 nomer. Jumlah hape orang Indonesia melebihi jumlah penduduk Indonesia itu sendiri.

Mbah saya? Pegang hape saja masih kesulitan. Sms itu sudah menjadi sesuatu yang merepotkan. Kalau menelepon bahkan kadang lupa dimatikan.

Nah, saya tidak ingin Orang tua saya tertinggal jauh dari teknologi. Kalaupun tertinggal tak apa-apa, asal jangan terlalu jauh. Wong saya sendiri saja keteteran mengikuti zaman.

Ibu saya tipe pembelajar yang baik. Karena ibu saya tekun, rajin. Wanita memang kebanyakan begitu. Beda dengan Bapak saya, yang tidak serajin ibu saya (bahasanya saya buat sehaluus mungkin). Bapak saya, sebagaimana lelaki pada umumnya, memiliki kelebihan lain yang tidak dimiliki kaum hawa. Ini pembenaran dengan alasan yang benar.

Zaman SMA kelas 3, bareng Ibu dan adik saya

Ketika saya SMA kelas 3, saya mengajari ibu saya menggunakan komputer. Mau tidak mau, ibu saya harus belajar. Kalau kelak saya sudah kuliah, meninggalkan rumah, saya tidak mungkin lagi membantu mengetikkan ini dan itu lagi.

“Wah, ibu bisa tidak ya? Kok kayaknya susah banget” Ibu saya sempat ragu, bisa atau tidak.

“Pasti bisa, Bu! Kalau mau belajar” Saya sok-sokan menyemangati ibu.

Akhirnya dengan sabar saya mengajari ibu saya mengoperasikan Word & Excel. Ibu saya telaten, setiap ada pelajaran baru, beliau mencatatnya. Ada kertas dan pulpen di samping komputer. Tiap kali ada teknik baru, beliau senang sekali. Semangat belajarnya begitu tinggi.

Tentunya kesabaran saya ini tidak pernah bisa dibandingkan dengan kesabaran Ibu saya ketika mengajari saya berbagai hal, waktu saya kecil dulu. Dan sekedar mengajari menggunakan komputer itu tidak apa-apanya dengan semua yang telah diajarkan ibu saya pada saya hingga saat ini.

Adik saya yang waktu itu masih SD juga ikut belajar. Dia lebih cepat menangkap dan memahami yang saya praktekkan. Kalau ibu saya lupa, sering bertanya kepada adik saya. Dan adik saya menjadi asisten saya dalam mengajari ibu komputer. Oo, ternyata adik saya lebih sabar dari saya. Sama-sama belajar biasanya lebih bersabar.

Singkat cerita, ibu saya semakin mahir menggunakan komputer. Maksud saya, word dan excel. Karena menguasai keduanya itu sudah lebih dari cukup bagi Guru SD. Di antara teman-teman se Sekolahan, ibu saya yang paling mahir. Makanya, berbagai administrasi sekolah (BOS, Lapor bulan, dll) ibu saya yang mengerjakannya. Jadi guru, sekaligus jadi TU. Dan itu membuat ibu saya semakin mahir.

“Bisa komputer malah jadi banyak kerjaan Bu!” begitu komentar bapak saya yang melihat ibu saya sering begadang di depan komputer, mengerjakan administrasi sekolah. Namun, ibu saya menikmatinya.

Hingga saat ini, guru-guru yang mengajar SD kebanyakan masih gaptek, kecuali mereka guru muda seusia saya. Mereka yang zaman sekolah & kuliah sudah mengenal Teknologi Informasi. Namun, jumlah guru yang seusia ibu saya masih banyak. Jadi, yang gaptek ya lebih banyak.

Ini belum selesai.

Agar Ibu saya bisa mengejar perkembangan zaman, saya memperkenalkan Internet. Koneksi di rumah memang lemot, tapi masih lumayan lah. Itung-itung belajar sabar. Googling merupakan teknik paling sederhana. Kemudian saya perkenalkan Facebook, email, terakhir twitter. Saya memperkenalkan teknologi layar sentuh hape Android yang saya beli dengan uang hasil tabungan. Memang saya tidak bisa menjamin, ibu saya bisa mengikuti atau tidak. Tapi setidaknya saya sudah memperkenalkan teknologi yang saya tahu.

Bapak saya? Ah, biarlah beliau belajar pada ibu saya. Itu kalau bapak saya mau.

Perlu kau tahu kawan, siapa yang paling berhak atas kesuksesanmu setelah dirimu sendiri? Mereka adalah orang tuamu. Berbagilah kebahagiaan dengan mereka, berbagilah ilmu pada mereka. Aku tahu, mereka tidak akan pernah menuntut ini itu, tapi ketika kau mau berbagi, orang tuamu akan merasa sangaaat bahagia. Begitu bahagia, melebihi jika menjadi terpilih menjadi presiden Amerika sekalipun!

Perlu kau tahu kawan, siapa yang paling berhak atas kesuksesanmu setelah dirimu sendiri? Mereka adalah orang tuamu.  

 

Jogja, 29 November 2012

di tengah keriweuhan ngurusin skripsi

H-1 Deadline pendaftaran ujian Pendadaran

2 comments on “Ibu Saya Ga Boleh Gaptek

  1. fajarbs
    29 November 2012

    hehe,, sama Wan,, ibuku yo belajar teknologi lebih canggih dari bapakku. Nek ngajari ibuku luwih gampang. Bapakku dibolan baleni bola-bali yo isih kangelan…

    • kangridwan
      29 November 2012

      🙂 Kita senasib, Bro!

      Besok2 lagi, kalo semisal diajari anak2 kita, kita kalo bisa jangan mengikuti jejak Bapak. Dalam hal ini, ikuti jejak ibu aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 29 November 2012 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: