.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Desakralisasi Ujian Skripsi

Alhamdulillah setelah sembilan bulan tepat, akhirnya proses pengerjaan skripsi selesai juga. Tanggal 13 Desember 2012 saya ujian skripsi. Saya ingin bercerita tentang ujian skripsi saya. Sayang jika tidak dituliskan. Dengan dituliskan, bisa menjadi dokumentasi bagi saya. Syukur kalau jadi bermanfaat bagi para pembaca.

Sembilan Bulan

Masih ingat tulisan ini : kebelet ee’ & hamil ?

Skripsi saya berjudul “Studi Karakterisasi Material Scaling di Lapangan Geothermal Dieng”. Bagi yang heran, saya kasih tau kalau Teknik Mesin itu sebenarnya Mechanical Engineering, bukan Machine Engineering. Ada beberapa konsentrasi di sini : Ilmu Bahan, Manufaktur, Fluida, Energi, dan lainnya. Nah, saya mengambil konsentrasi Ilmu Bahan.

Yang saya lakukan selama 9 bulan itu ya macem-macem. Nguji AAS di lab MIPA, nguji XRD di Lab Geologi, mengkalsinasi bahan di Lab Kramik Teknik Kimia (furnace di lab Bahan jurusan saya rusak). Uji SEM di lab ITB. Kemudian membuat spesimen uji, ini yang lama. Melakukan uniaxial pressing menggunakan dongkrak. Saya bawa alat-alat penelitian saya di kos, sepulang terawih (waktu Ramadhan) bermain dongkrak & serbuk silika di kamar kos sampai tengah malam. Siangnya ke Lab bahan, ngayak hingga 140 Mesh (ini juga makan waktu lama) dan seterusnya.

Nge-press membuat spesimen tidak semudah yang dibayangkan. Membuat satu spesimen butuh waktu sekitar 15 menit, padahal yang saya buat ada sekitar 70 buah. Untuk membuatnya memerlukan keterampilan khusus. Sering gagal. Pas proses pengeluaran dari dies/cetakan eh sudah patah duluan. Atau, hasilnya bagus tapi pas giliran dipegang pakai tangan langsung hancur. Hampir stress, ini bagaimana caranya? Setelah latihan berhari-hari akhirnya baru menemukan tekniknya.

Baru kemudian dikalsinasi pada berbagai suhu, antara 1000°C – 1400°C. Itu juga butuh waktu lama karena ngantri. Sambil nyambi ini dan itu. Spesimen siap diuji, uji densitas, uji impack, uji bending, uji kekerasan. Untuk pengujian ini saya lakukan sendiri. Pada pengujian densitas sempat berdiskusi panjang dengan pak Waziz (dosen pembimbing saya) mengenai metode yang saya gunakan.

Data hasil pengujian pun jauh dari predikisi, secara teori dan logika sulit diterima. Grafik yang seharusnya naik, masih mending kalau datar, lha ini malah turun drastis. Ini terjadi pada beberapa pengujian. Saya makin pusing.

“Kalau sampai disuruh ngulang lagi, mulai dari bikin spesimen, mending selesai aja deh” Saya sempat berfikir begitu. Saya bisa memahami perkataan kawan saya dulu, kalo banyak orang yang IP nya bagus tapi ga selesai kuliah gara-gara stress dengan skripsi. Na’udzubillah.

“Lha gimana lagi, Pak. Datanya memang begitu je. Kan, ga mungkin saya memanipulasi data” kata saya ke Pak Waziz. Akhirnya dengan data-data pengujian lain, dihubung2kan, dicari korelasinya, yang penting bisa dilogika dan menjelaskannya menggunakan data.

Untuk mengurus pendaftaran ujian skripsi juga cukup panjang prosesnya. Minta tanda tangan bebas lab (ada 10 lab). Ngurus surat bebas pinjam perpustakaan. Bayar ini, ngumpulin itu, revisi naskah akhir, dll.

 

Desakralisasi Ujian Skripsi

Ada perasaan lega ketika semua berkas beres. Makin lega lagi ketika melihat jadwal ujian keluar, lega campur deg-degan. Ada empat kawan seangkatan saya yang ujian / sidang skripsi bulan ini, segelombang dengan saya. Ujian masih pekan depan, tapi mereka sudah persiapan. Latihan presentasi di depan kawan-kawannya, dibantai kawan-kawannya sendiri. Saya ikut melihat kawan saya latihan presentasi, juga ikut bertanya.

“Habis ini aku dulu yang presentasi ya, nanti kamu setelah aku” Lukito bersiap presentasi di depan saya dan kawan-kawan.

“Aku ga ikut presentasi, Luk. Bikin aja belum. Masih pengin menikmati masa tenang” jawab saya santai.

Saya ingin menghadapi ujian skripsi dengan biasa-biasa saja. Tidak ingin menganggapnya sesuatu yang wow! Susah memang, tapi sebisa mungkin saya melakukannya.

Di media sosial (FB & Twitter) saya tidak memberi pengumuman. Atau ucapan : mohon doanya, saya mau ujian skripsi tanggal sekian. Atau : 36 jam lagi mau ujian nih. Tidak. Biasa saja. Saya hanya ingin mempublish jika sudah selesai keluar dari ruang ujian.

Ada kawan yang bertanya, “kapan sidang?”, saya jawab dengan santai “aah, nanti juga waktunya sudah tiba”. Kelak dia kaget ketika tahu-tahu saya sudah pendadaran. “Woo, kamuflase. Bikin shock aja”

Ada juga kawan yang ngobrol dengan saya ketika saya sedang menunggu di depan ruang Dosen pembimbing untuk konsultasi terakhir, H-1. Dia tanya, “kamu udah selesai nulisnya belum”. Saya jawab “nikmatin saja prosesnya, Bro”. Besoknya dia agak misuh-misuh kaget. “Asyem, aku diapusi. Padahal sore hari sebelum sidang ketemu aku, eh bilangnya masih lama” “eits, aku ga bilang gitu lho!”

Saya butuh semangat, maka dari itu saya ngasih semangat orang lain. Itu cara efektif menyemangati diri sendiri. Ngetwit pun juga begitu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menebak kalau tweet saya itu sedang ngasih tahu kalau saya hampir ujian skripsi.

Malam sebelum ujian skrpisi saya tidak membuka naskah skripsi saya, atau membaca-baca buku referensi. Saya malah tidur di tempat adik saya, Widhi. Jam 1 ujian, jam 11 masih menyelesaikan slide presentasi. Agak nekat memang.

kangridwan

Tidak Se-Ngeri yang Diduga Sebelumnya

Membaca doanya nabi musa, doa agar dilapangkan dada, dimudahkan urusan, dan dilancarkan mulut untuk berkata, (Robbishrahli amri …)

Empat dosen di dalam ruang itu adalah Pak Waziz (Dosen pembimbing), Pak Priyo (Dosen yang dulu saya sering jadi tukang poto kopi di kelas beliau), Pak Urip (pernah ngajar Matematika 3), Pak Ryan (Dosen muda, saya memanggilnya mas Ryan)

Saya berusaha sebisa mungkin untuk mengusir ketegangan dan menikmati proses “pembantaian”. Baru slide kedua, Pak Urip sudah mulai angkat bicara, lalu bertanya.

“Anda ini kok kurang nyambung ya, antara judul, latar belakang, lalu tujuan. Jadi harusnya begini, bla bla bla. Anda punya data ini ga?”

“Tidak pak” Beliau bicara panjang, saya jawab seperlunya saja.

Suasananya tidak tegang kok. Malah jadi semacam diskusi yang menarik. Beberapa kali malah ketawa bareng-bareng. Entah itu ketawa mengenai diskusi, atau ketawa tentang jawaban saya yang cupu. Teman-teman saya yang ngintip dari luar mungkin mikir : Ini sidang kok pada ketawa-ketiwi ya?

“Mengapa Anda menggunakan metode four point bending tidak three point bending ?”

“Karena begini pak, kalo ini bla bla bla” saya bisa menjelaskan

“Coba Anda gambarkan BMD dan SFD nya!”

Hadoh, kalo BMD saya bisa. Sudah belajar sebelumnya. Tapi SFD saya lupa. Dosen melihat keraguan saya, malah pada gambar saya diberi angka pembebanan dan disuruh ngitung. Modaar.

“Itu salah Anda SFD nya!”

“Wadoh, lupa e pak”

“Nah, begitu tuh. Kalo belajarnya dihafal, jadi lupa. Kalo paham pasti ga lupa”

“Kalau yang BMD saya ingat pak, paham. Yang SFD saya juga dulu paham, tapi sekarang lupa je”

Cara ngeles saya kurang bermutu. Tapi saya emang ga bohong. Dulu saya jago ngitung BMD & SFD. Bahkan mata kuliah mekanika struktur dapet B, padahal yang ngajar Prof Jamasri.

“Ini tebal apa tinggi mas?”

“Oh, itu tinggi pak”

“Boleh dibalik ga dengan B?”

“Ga boleh pak, nanti momen inersianya beda. Karena tinggi itu yang bakal dipangkat tiga” Saya menjelaskan sambil mengambil kertas sebagai alat peraga.

“Anda bisa menurunkan rumus ini kan?”

“Bisa, Pak !!” Jawab saya dengan sangat mantab. Padahal kalau disuruh beneran saya pasti ketar ketir. Ya, mending sok-sokan aja deh.

“Ya sudah kalau bisa”

Fuuh…

Perdebatan Panjang & Alot

Kalau bisa menikmati itu, waktu berjalan terasa cepat. Tau-tau kok sudah selesai saja. Padahal kata teman-teman yang sudah pendadaran, rasanya kok lama banget ya?

Akhirnya saya diminta keluar ruangan, sambil menunggu para dosen penguji berunding, berdiskusi. Setelah menunggu agak lama, saya dipanggil masuk.

“Saudara Ridwan, setelah kami berunding cukup panjang tadi, dengan diskusi yang alot, juga perdebatan yang sengit, makanya tadi waktunya agak lama” Kayak-kayaknya si pak Waziz sedang becanda, tapi nada bicaranya kok serius, “Anda dinyatakan..”

“… Lulus”

Alhamdulillah… Hati saya bergemuruh saat itu.

“Tanggal kelulusan Anda, ketika revisi sudah selesai. Kalau bisa maksimal akhir Desember. Jadi Anda lulusnya masih tahun 2012. Tapi kalau mau dilama-lamain juga ga papa sih”

Suasana cair lagi.

 “Tolong jaga nama baik almamater. Trus, kalau sudah diterima kerja tolong Jurusan diberitahu, untuk mengetahui berapa masa tunggu setelah lulus hingga dapat kerja. Juga tolong gaji pertama berapa juga dilaporkan ke Jurusan, agar kita bisa tahu bagaimana Alumni kita dihargai oleh perusahaan.”

Batin saya : Lah, kalau mau jadi pengusaha gimana coba?

“Kecuali kalau Anda mau wirausaha” lanjut Pak Waziz.

Oke, hari itu berjalan sebagaimana mestinya. Saya minta poto bareng para dosen penguji, baru kemudian mempublish kalau saya sudah lulus.

Terimakasih atas doa kalian.

Perjuangan belum selesai, jadi jangan berhenti mendoakan saya yah!

 

Yogya, 24 Desember 2012

10 comments on “Desakralisasi Ujian Skripsi

  1. Jihad M. Machmud
    24 Desember 2012

    selamat mas pemandu AAI ane, masih ingat pas AAI dulu jenengan mengungkapkan target lulus kuliah 5 tahun, dan ternyata sekarang Alhamdulillah tercapai melebihi target😀

    Berkah bermanfaat untuk keluarga agama bangsa negara. Saling mendoakan, maksudnya doakan saya cepat menyusul..heheee…

    keep in touch.. terus menulis…

    • kangridwan
      24 Desember 2012

      Alhamdulillah…
      ohya? Ane malah lupa kalo pernah bilang gitu, hehe

      Amin… Doa terbaik buat ente, Din.
      Insya Allah

  2. aerodest
    24 Desember 2012

    rock! tapi suka dg desakralisasinya. kayaknya perlu ditiru. Why so serious, isn’t it?

    • kangridwan
      24 Desember 2012

      yeah !!

  3. Marjuki
    24 Desember 2012

    subhanallah.. mas ridwan..
    bariki tak susul mas…

  4. Idriwal Mayusda
    25 Desember 2012

    Barakallah Mas🙂..
    Ditunggu undangannya #Eh..
    (Undangan Syukuran maksudnya, hhe)

  5. ukhtishalihah
    26 Desember 2012

    Wah akhirnya sudah sarjana, Barakallah, semoga berkah ilmu dan gelarnya dan dimudahkan mencapai cita-cita selanjutnya😀

  6. Little Light
    26 Desember 2012

    nggak mudeng,,, hhhe,,, tapi bisa kerasa suasananya.. sama Ridwan, data aku juga jelek waktu itu…. dan kata Bapaknya, yang penting kamu bisa njelasin kenapa datanya bisa jelek… hhhe *eh malah jadi curhat skripsi juga😛

  7. Ulfa
    5 Januari 2013

    alhamdulilllah ^^, barokallah ridwan🙂
    sama ternyata emang g setegang yang dibayangkan.

  8. aan
    13 Januari 2013

    alhamdulillaaah,..melu seneng.. hehhe selamat. barakallaahu fik..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 Desember 2012 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: