.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Naik Slamet, Turun Slamet

“Semoga kita bisa naik sampai puncak dengan selamat”, di bascamp pendaikan, kami berdoa dulu membentuk lingkaran kecil yang rapat.

“Juga bisa turun dengan selamat ! Jangan lupa itu” tiba-tiba ada suara memecah keheningan. Semua mencari sumber suara, lalu menoleh kepada saya. Ya, itu suara saya.

“Oh ya, penting itu. Semoga kita bisa naik sampai puncak dengan dan juga turun dengan selamat”

Akhirnya pendakian dimulai, singkat cerita rombongan saya ini berhasil sampai puncak dan juga turun kembali dengan selamat. Selesai. Hehe🙂

slamet

Puncak Gunung Slamet

 

***

Akhir tahun 2012, saya mendaki gunung Slamet. Gunung tertinggi se Jawa Tengah, gunung tertinggi ke-2 di Pulau Jawa setelah Gunung Semeru. Dua teman saya sudah menuliskan perjalanan pendakian kami. Ichigo & Lathif. Silakan klik pada nama teman saya tersebut. Ceritanya sudah komplet, lengkap dengan foto-fotonya juga. Jadi, saya tidak perlu bercerita banyak dong?

Tapi nanti ada yang bilang “Itu kan cerita Ichi & Lathif, tetap saja bukan cerita Ridwan!”. Untuk mengantisipasi itu, oke lah saya akan bercerita. Versi saya. Untuk melengkapi cerita kedua teman saya itu.

Cerita dimulai :

Sore itu, saya, Hanif & Arif berangkat jam 3 dari Jogja menuju Banjarnegara. Kami bertiga Jalan kaki dari kos saya menuju Halte Trans Jogja sambil menggendong tas besar (tas carrier). Arif malah membawa tongkat, lebih komplit ketika kemudian dia memakai kacamata hitam. Mirip si buta dari goa hantu, bukan menggendong si kliwon tapi menggendong tas.

Kami akan mendaki Gunung Slamet melalui jalur Bambangan yang letaknya di kabupaten Purbalingga. Sebelumnya, bermalam dulu di rumah Gilang (anak IPB). Saya sendiri belum pernah ketemu Gilang, belum pernah pula ke Purbalingga. Saya hanya dapat nomer hapenya dari Ichi, teman dari IPB, kenal di Forum Indonesia Muda.

Sebelumnya saya mengira, dari Jogja ke Banjarnegara sebentar. Paling lama 4 jam. Ternyata salah. Dari Jogja jam 3 sore, sampai rumah Gilang jam 10 malam. Tujuh jam !! Tiga kali ganti Bis. Tapi, saya menikmatinya. Ngobrol dengan penumpang ternyata selain bisa membunuh waktu, menambah wawasan. Ngobrol dengan seorang bapak pedagang gerabah (keren ceritanya), dengan kader Pandu Keadilan yang baru pulang Mukhoyyam, juga dengan calon dokter spesialis. Tiap bis ketemu orang baru.

Sesampai di Rumah Gilang bertemulah saya dengan rombongan lain, yang ternyata juga belum lama sampainya. Dari IPB : Ichi (akhwat kammi), Imam (pemimpin pendakian), Latif (tukang senter pas perjalanan pulang), Tia (yang mendermakan jas hujan ke saya), Surini (pendaki pemula yang tangguh), Muaz (tukang poto DSLR), Widya (yang ga pernah capek maen plesetan sepanjang perjalanan), Acoy (cowok cool yang jago memijit kaki), Leni (yang dipijit hatinya ama Acoy, #eaa). Juga 3 Pemuda dari Temanggung, teman2nya Acoy : Ghofirin, Libon, Haidar (mereka ahlul hisap yang ga kenal capek)

Sebisa mungkin saya mengakrabkan diri dengan kawan-kawan baru saya ini. Ini ada ilmunya, ada tekniknya. Saya sendiri masih mempelajarinya. Semoga kapan-kapan saya bisa berbagi tips. Tidak butuh waktu yang lama, saya bisa cair dengan mereka. Ketika sudah tidak ada kecanggungan, sudah tidak dianggap sebagai orang lain lagi.

Perjalanan Banjarnegara ke Purbalingga (basecamp) menggunakan mobil pick up. Dari basecamp, kami naik jam 12 siang. Tidak panas, juga tidak hujan. Saya membawa tas carier besar yang selain berisi barang pribadi juga berisi tenda. Beratnya minta ampun. Baru beberapa meter sudah ngos-ngosan. Mau minta tukeran tas kecil, kok gengsi. Lha ada beberapa cewek je. Hehe. Tapi setelah satu jam perjalanan jadi terbiasa, tidak terlalu terasa berat lagi.

pick up

naik pick up

Mengapa saya naik gunung ? Apa asyiknya ? Saya pernah menuliskannya (klik di sini). Saya begitu antusias. Saya juga sempat bernyanyi di perjalanan, bahkan lari sambil meloncat-loncat. Sampai tiba-tiba terjadi sesuatu yang tidak diharapkan.

Ketika saya mendarat dari loncatan, ternyata terdapat lobang yang tertutup rumput, tak terlihat. Pendaratan saya tidak sempurna. Terjatuh. Dan kaki terkilir. Tidaaaak. Sakitnya minta ampun. Saya berusaha tetap tersenyum, meski sedikit meringis kesakitan. Balsem, konterpen segera dioleskan. Sedikit memijit mijit berharap agar sakitnya hilang.

Itu belum sampai pos satu, Belum ada 2 jam perjalanan. Saya sendiri agak ragu, ini saya kuat tidak ya? Kalau mau balik, ga seru. Perjalanan sampai ke sini sudah membutuhkan perjuangan. Show must go on. Saya tidak mau merusak keceriaan teman-teman yang ingin sampai puncak Slamet. Jangan sampai gara-gara saya, ada yang gagal sampai puncak.

Perjalanan berikutnya saya mengandalkan kekuatan kaki kiri. Jalannya agak pincang, menggunakan tongkat. Makin lama, kaki kanan saya (sekitar mata kaki) mulai membengkak. Oh, ini pertanda tidak baik.

mantel

malam, hujan, pake senter, pake mantel (kecuali saya)

Hari semakin gelap, matahari kembali ke peraduan, malam segera datang. Sementara itu, cuaca kurang bersahabat. Hujan turun. Kami terus berjalan dengan penerangan senter. Untuk melawan rasa lelah, kami bernyanyi, tapi lebih sering main plesetan.

“…”

“itu Kapal”

“Kapal itu kan yang buat motong kayu”

“Itu Kapak”

“Kapak itu kan yang bercula satu”

“Itu badak”

Saking seringnya ber-pleset ria, sampai-sampai sering pula kata-kata yang diplesetkan terulang dang terulang lagi. Sampe hafal. Dari hafalan plesetan itula, kemudian kami menamakan diri sebagai “Laskar Becula Satu yang Bisa Loncat-loncat”.

IMG_1619

Kalo lelah, berpotolah. hehe

Ada 7 pos, sebelum sampai puncak. Rencana awal, kami ingin ngecamp di pos 7 agar besok paginya ketika muncak, tidak terlalu jauh. Tapi ternyata ganti rencana. Kami ngecamp di pos 5. Kawan-kawan sudah pada kecapekan juga kelaparan. Itu jam sembilan malam. Perjalanan dari basecamp sampai pos 5 memakan waktu 9 jam!! Kalau naik kereta itu sudah Yogya-Jakarta.

Tenda didirikan, api unggun dinyalakan untuk menghangatkan badan. Dingin. Terlebih lagi setelah beberapa saat kemudian hujan. Ichi bahkan menggigil, (saya kuatir dia hipotermia). Sementara teman2 yang lain sibuk mendirikan tenda dan memasak, dalam kondisi gelap, saya tidak bisa membantu apa-apa. Hanya duduk, di antara tas-tas. Kaki semakin membengkak, makin sakit. Untuk berdiri saja susah, apalagi berjalan, mendaki pula.

Acoy (nama aslinya Aris Pracoyo), memijit. Lebih tapatnya mengurut. Diam-diam dia punya bakat menjadi tukang urut.

“Wah, ini terlambat Wan. Harusnya pas habis jatuh langsung diurut. Ini sudah bengkak je”, katanya sambil terus memijit. Saya hanya diam menikmati pijitan, sesekali menjerit kesakitan.

Yang lain sudah pada tidur, saya masih dipijit. Jam 12 baru saya masuk tenda, jalan dipapah. Ini jauh lebih parah ketika di perjalanan tadi. Mendekati tenda, bahkan saya merangkak. Masuk tenda, malah sudah penuh. Setelah ndesel-ndesel, akhirnya dapat tempat.

Saya berfikir, besok pagi bisa melanjutkan perjalanan tidak ya? Lebih jauh lagi, ini bisa turun sampai bawah tidak ya? Kalau saya ditinggal di pos 5, saya yakin kondisinya makin parah karena bengkaknya pasti akan semakin besar, tapi kalau ikut itu malah jadi resiko. Ngrepotin teman yang lain.

Pagi itu, jam 3, saya putuskan untuk ikut naik! Harus sampai puncak! Kalaupun terjadi apa-apa, sudahlah. Semua orang juga pasti akan mati. Sebelum naik, hutang saya di angkringan juga udah saya lunasi. Tenda & barang-barang ditinggal di pos 5. Yang dibawa sampai puncak hanya barang-barang penting saja. Saya membawa tas “sajadah” yang sebelumnya juga menemani sampai puncak merbabu.

Dzikir saya semakin kenceng, di lisan maupun di hati. Berkali-kali saya membaca takbir ketika naik (sunnahnya begitu kan ya?). Terlebih lagi ketika sudah hampir sampai puncak, melewati batas vegetasi. Tak ada lagi tanaman. Tanahnya pasir, campur krikil, campur batu. Harus pintar-pintar memilih pijakan. Berkali-kali saya merosot, karena salah pijakan. Belum lagi sudut kemiringannya begitu besar, lebih dari 45°.

kemiringan

Itu kira-kira berapa derajat kemiringannya?

Tiba-tiba ada batu sebesar dua kepalan tangan menggelinding dari atas, melaju menuju arah saya. Saya konsentrasi bersiap menghindar, wuss. Batu itu melewati sebelah kepala saya, sekitar 30cm. Ini medan yang begitu berat. Apalagi bagi orang yang kakinya terkilir, yang jalan saja susah.

Akhirnya saya sampai puncak, meski di urutan akhir, meski dengan bersusah payah.

Saya jadi paham, bahwa modal utama seorang pendaki gunung adalah mental yang kuat. Keyakinan bahwa ia bisa menghadapi semua rintangan. Keyakinan itu sebanding dengan keyakinan pada zat yang menguasai seluruh alam raya. Gunung ini begitu berat untuk ditaklukkan, tetapi tak ada apa-apanya dimata Allah. Maka ketika yakin kepada Allah, gunung ini pun menjadi kecil. Allah lah yang mahabesar. Allahu Akbar.

Perjalanan turun lebih melelahkan, lebih repot. Ada beberapa alasan :

  1. Kondisi badan sudah lebih capek dibanding ketika naik
  2. Malam hari, senter yang masih menyala tinggal 4, sisanya baterainya sudah habis.
  3. Barang bawaan lebih ringan memang, tapi kata iklan beban yang diterima lutut ketika turun itu 5x lebih besar dari biasanya. Dan itu benar2 terasa

Belum lagi, bagi yang cidera seperti saya. Kami bahkan sampai pos satu, jam 1 dini hari. Kami tidur di situ, hanya memakai Sleeping Bag, tanpa membuka tenda. Sudah terlalu lelah, terlalu ngantuk.

Salah satu penyebab lambatnya perjalanan turun ini (yang seharusnya lebih cepat daripada ketika naik) adalah karena saya. Karena cidera saya. Saya menyadari itu. Kebersamaan naik gunung memang begitu kuat.

Tapi ada baiknya, kami bermalam ketika perjalanan pulang. Pagi harinya, kami bisa menikmati pemandangan yang begitu indah. Gunung Sumbing-sindoro tampak sangat mempesona.

sumbing

Panorama pagi, bisa kau lihat 2 gunung kembar : Sindoro Sumbing

Penaklukan gunung Slamet ini benar-benar mengesankan. Sangat mengesankan. Mengesankan bagi saya, juga bagi teman-teman yang lain. Oh, ternyata Allah membuat kaki saya terkilir agar perjalanan ini lebih mengesankan. Kalau datar-datar saja kan tidak asyik.

Doa sebelum naik gunung Slamet terkabul. Naik Slamet, Turun Slamet.

 

Yogya, 17 Januari 2013

Tiga minggu setelah pendakian

*Kaki masih terasa sakit.

puncak

9 comments on “Naik Slamet, Turun Slamet

  1. Little Light
    18 Januari 2013

    pengen naik gunung jugaaa ><
    ridwan kalau cerita bikin pengen mulu, hha

    • kangridwan
      19 Januari 2013

      pengin itu gratis kok, Nin.🙂

      • Little Light
        22 Januari 2013

        hhheee iyaa betul2😛 yang nggak gratis itu buat nglakuinnya,pasti perlu pengorbanan dan perjuangan hhhee… aku udah latian naik dona lho,tapi dona-nya pas lagi ngambek, njuk ngga mau jalan:/ ama dia kayaknya tau kalau aku rada2 takut, hhhe

  2. Yura
    18 Januari 2013

    alhamdulillah slamet yaa..jdi bsa bagi2 cerita diblog..

    ktika salah satu diantara rmbongan sakit atau cidera,disana bisa keliatan tingkat kepedulian yg lainnya..hehe

    oh iyaa..ksh koreksi dikit ne..ada kata2 begini ” Penaklukan gunung Semeru ini benar-benar mengesankan”.binggung jg dbuatnya,katanya mndaki slamet tpi kok pnaklukan semeru..hehe kayaknya emg slh ktik deh,sking smngatnya brcrta..

    • kangridwan
      18 Januari 2013

      Hehe, makasih koreksinya.

      Ini ceritanya saya lagi ngecek, apa si pembaca itu teliti ga ngebacanya, ato cuma skiming, malah skiping?
      Tapi ternyata Yura bener2 baca.🙂

      #cari alesan

  3. Just Novi
    18 Januari 2013

    kakak, itu endingnya kok, yg dibawah poto –> “Penaklukan gunung Semeru ini benar-benar mengesankan” Ahai, Slamet😥

    • kangridwan
      18 Januari 2013

      Oiya, salah ketik. makasih udah dikoreksiin. Maklum, masih capek.
      #cari alesan.

  4. ichigo
    18 Januari 2013

    iya, nih,, kalimat2 akhirnya rancu,, Semeru? hahaha… semangat banget ya, K ridwan?😀

    • kangridwan
      18 Januari 2013

      >.<

      udah aku benerin, Chi!
      makasi makasi.
      Ada lagi ga, yg perlu dikoreksi.

      #asyem

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 Januari 2013 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: