.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Kisah Nyata & Kisah Sinetron

sutingKalau biasanya kesimpulan ada di akhir, kali ini saya beritahu kamu kesimpulan tulisan ini di awal tulisan : Ada kisah sinetron yang mirip kisah nyata, ada kisah nyata yang mirip kisah sinetron.

 **

“Wanita itu duduk terdiam di dalam kereta api. Ia tak menyadari kalau pria yang sedang paling ia pikirkan kini berdiri 1 meter di belakangnya. Bedanya, pria itu ada di luar kereta, sedang menatapnya. Ia juga sedang memikirkannya. Raga mereka terpisah oleh jendela dan dinding gerbong, tapi hati keduanya sedang bergandeng mesra. Hingga kereta api berjalan, wanita itu masih juga tak menyadarinya. So sweet kan?”

Tadinya saya mengira cerita semacam itu hanya ada di kisah sinetron. Agak lebay. Tapi kawan saya bercerita bahwa kisah itu benar-benar terjadi. Kamu boleh percaya, boleh tidak. Saya juga belum percaya pada ceritanya itu.

“Bedanya kalau di sinetron, pasti backsound-nya iringan musik yang romantis. Nah kalau ini, yang suara yang mengiringi ya hanya suara kereta api dan suaranya pak pemimpin perjalanan yang selalu memakai topi merah itu.” Kawan saya makin lebay bercerita.

Jadi, sebenarnya yang ada itu kisah sinetron mirip kisah nyata, atau kisah nyata yang mirip kisah sinetron ? Atau malah ada kedua-duanya ?

Seringkali, bahkan selalu begitu, kisah sinetron itu terlalu berlebihan ceritanya. Sudah jadi anak yatim, disia-sia, tidak boleh sekolah, sering difitnah, kecelakaan pula. Penderitaanya terlalu cumlaude. Tokoh yang jadi orang kaya juga lebay : Mobilnya mewah, rumahnya juga mewah, hartanya melimpah, jarang terlihat sedang bekerja, kalaupun terlihat kerja paling hanya menandatangani kertas.

Saya tidak suka nonton sinetron, tetapi tiap kali pulang ke rumah dan ibu sedang nonton sinetron mau tidak mau ya saya jadi ikut nonton. Dan penonton itu memiliki hak untuk berkomentar. Hampir semua penonton menyadari kalau ceritanya lebay kadang mustahil. Tapi disitu nilai jualnya.

Ambil saja sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Saya tidak habis pikir : Apa ada ya, orang model kayak Haji Muhidin ? Sudah haji, jadi tokoh masyarakat, tapi kelakuannya malu-maluin. Tetangga-tetangga di sekitarnya yang menjadi korban. Difitnahlah, dihinalah, dan berbagai jenis pendzoliman lainnya. Mereka hanya bisa bersabar, ada yang sabar dengan ikhlas ada yang sabar dengan terpaksa.

Emang ada ya, orang yang kayak gitu? Ah, itu hanya di sinetron saja. Tadinya saya mengira begitu. Sampai pada akhirnya saya mendapati orang yang lebih lebay parahnya daripada Haji Muhidin. Kisah nyata, asli. Saya mendengarnya dari tetangga-tetangganya. Saya mendengarkan mereka ghibah (ngomongin kejelekan orang lain) karena terpaksa. Namun kali ini saya tidak mau ikut-ikutan ghibah. Saya samarkan identitas orangnya, tapi ini benar-benar kisah nyata. Semoga bisa jadi pelajaran.

Sebut saja Bu Hajjah Muhidah(bukan nama asli). Beliau sering diminta mengisi pengajian, tapi yang mendengarnya hanya berkomentar, “Ah dia omong doang !”. Nyuruh akur dengan tetangga, tapi dianya mendzolimi tetangga. Hutangnya pada tetangga banyak dan tidak pernah dilunasi. Hutangnya itu berupa uang, emas, sampai beras. Kalau tidak diminta mengisi pengajian, dia akan sakit hati, tersinggung karena dia tokoh masyarakat. Kalau dia sakit hati, korbannya akan makin banyak.  Semua tetangganya sudah memberi cap yang buruk pada bu Hajjah Muhidah. Ini kisah nyata. Profil Haji Muhidin di sinetron itu masih lebih baik dibanding bu Hajjah Muhidah di kisah nyata.

Yang jelas, antara kisah sinetron dan dan kisah nyata itu sama-sama ada sutradara yang berkuasa atas kisah itu. Yang satu disutradai oleh manusia, yang satunya lagi disutradari oleh yang Maha Kuasa. Jika ada kisah sinetron mirip kisah nyata, pantas lah. Itu bikinan manusia, terinspirasi dari kehidupan manusia. Kalau ada kisah nyata lebih lebay dari kisah sinetron, jangan heran. Itu skenario Tuhan. Maka bersiaplah tidak hanya jadi penonton, tapi juga jadi pemain !

Oke, kali ini, saya percaya cerita so sweet kawan saya itu dan siap mendengarkan kisah-kisah nyata berikutnya yang mirip kisah sinetron itu.

 

Yogya,
a week after 21 Jan 2013 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Januari 2013 by in opini.
%d blogger menyukai ini: