.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Adat, Pantat Gelas, dan Growol

Lain lubuk lain airnya, lain pula ikannya.

Sebenarnya saya agak kesulitan membahasakan apa yang akan saya ceritakan. Dari judulnya saja sudah terlihat kalau saya agak kebingungan. Kurang lebihnya saya akan membahas mengenai adat, atau kebiasaan. Lebih tepatnya bagaimana kita bisa beradaptasi pada suatu masyarakat / komunitas baru.

Ada suatu kasus begini. Saya dari suku Jawa. Salah satu saudara saya, panggil saja Udin, menikah dengan gadis Melayu. Ketika pulang ke jawa, semua bergembira melihat Udin sudah menikah, dengan gadis beda suku lagi. Sesuatu yang berbeda memang biasanya istimewa. Bahagianya Ibu Udin juga istimewa. Begitu juga perlakuannya. Ibu Udin sadar betul, ia harus hati-hati memperlakukan menantunya itu. Ia khawatir, perbedaan adat / budaya bisa membuat sakit hati menantunya itu.

Hingga ketika mau kembali ke perantauan, Udin beserta istrinya ini pamit pada keluarganya.

“Terimakasih, Nak. Sudah berkunjung ke sini. Kami sangat bahagia sekali. Mohon maaf, apabila selama di sini, kami tidak bisa memberi penghormatan yang baik. Adanya hanya seperti ini. Jangan kapok kesini ya.”

Jika engkau orang Jawa, tentu kau sering mendengar kalimat itu tiap kali pamit dari bertamu. Itu sudah menjadi sesuatu yang lumrah, semacam basa-basi, merendah. Seperti kalimat “Ya, seperti inilah gubuk kami”. Padahalnya rumahnya bukan gubuk.

Tapi ternyata sang menantu ini merasa sakit hati, merasa direndahkan, merasa dilecehkan. Ia pulang dengan hati terluka gara-gara kata-kata “basa-basi” dari mertuanya.

Mungkin ia berpikir demikian : “Saya ini datang kesini bukan untuk dihormati. Saya ini datang kesini sebagai menantu. Seakan-akan kalimat itu menyatakan kalau saya ini masih orang lain, saya ditolak oleh keluarga ini”.

Saya juga tidak tahu pasti mengapa kalimat itu membuatnya sakit hati, tapi kira-kiranya begitu lah. Yang jelas, Ibunya si Udin sangat merasa bersalah. Ia begitu hati-hati, tapi ketika mau pamitan ternyata telah melakukan kesalahan yang tidak ia sendiri. Menyesal ia mengatakannya.

Butuh waktu, untuk membuat saling mengerti. Terlebih ketika berbeda suku kemudian bersatu membentuk keluarga. Ada banyak adat/kebiasaan yang harus bisa saling memahami. Tidak hanya antar pasangan, tapi juga keluarga besar pasangan itu.

Saya tidak mengatakan bahwa menikah dengan orang yang berbeda suku itu tidak baik. Itu tidak menjadi masalah. Hanya saja harus berusaha lebih dalam memahami kebiasaan masing-masing karena latar budaya yang berbeda memiliki kebiasaan yang berbeda.

Jangankan beda suku. Satu suku saja bisa beda adat, juga adab. Coba saya tanya kalau bertamu dan dikasih minum/makan sebaiknya dihabiskan tidak? Padahal perut kamu sudah penuh. Kalaupun kau minum/makan ga bakal kuat menghabiskan?

Kalau di tempat saya, mending ga usah diminum saja. Daripada diminum sedikit terus pulang, minumnya bakal dibuang. Mubadzir. Padahal kalau tidak diminum, itu bisa untuk diminum tuan rumah atau untuk dihidangkan di tamu yang lain.

Ternyata budaya di Wonosido, daerah pegunungan yang masih se kabupaten dengan saya, beda. Jika kau diberi hidangan segelas air minum atau sepiring growol / thiwul (makanan dari ketela) kau harus menyentuhnya. Meminumnya dan memakannya walau hanya sedikit, secuil. Tuan rumah akan sangat senang sekali. Tapi jika kau mendiamkannya, tuan rumah merasa tersinggung dan besok lagi jika kau bertamu jangan harap akan diberi hidangan.

Ketika saya ke kalimantan, saya mendapat wawasan baru dari tukang ojek yang saya tunggangi.

“Kalau kita di Jawa kan ada semacam syukuran, ngumpul-ngumpul terus makan-makan. Nah, kalau orang kampung sini (suku dayak) ada tradisi minum tuak. Kadang orang naik motor begini distop mereka di tengah jalan. Diajak minum tuak. Jangan menolak dengan bilang kalau tidak minum tuak, kau bisa dihajar. Caranya gampang, tinggal kau pengang saja pantatnya gelas (bagian bawah dari gelas), terus kembalikan sambil mengucapkan terimakasih. Kau boleh melanjutkan perjalanan lagi. Aman”

gelasInti dari tulisan saya ini adalah bahwa kau harus memahami adat dari komunitas dimana kau berada jika ingin diterima. Selidiki dulu kalau perlu.

Seorang intel ingin memasuki bandar judi untuk membongkar perjudian di situ. Namun, ia harus mau meminum minuman keras dulu jika ingin memasukinya, padahal ia seorang muslim. Akhirnya, dia menyiramkan miras itu ke sekujur tubuhnya agar dikira baru saja mabok. Misinya sukses.

Jika kau suka sejarah, tentunya kau tahu dua tokoh ini : T.E Lawrence dan Snouck Hurgonje. Dua orang itu bisa memecah belah umat islam karena mereka bisa mengenali ladang garapannya. Tidak tanggung-tanggung, pengetahuannya mengenai islam begitu tinggi, hafal Al Quran bahkan. Akhirnya ia diterima oleh masyarakat. Misinya sukses.

Kemampuan mengenali adat/kebiasaan ini sangat penting ketika engkau akan memasuki komunitas baru. Bisa jadi, itu tempat kerja, tempat tinggal, atau keluarga baru (setelah menikah), atau yang lainnya. Jangan sungkan-sungkan untuk segera menyelidiki ketika kau memasuki komunitas baru itu. Syukur jika semua info itu sudah kau dapat sebelum kau memasukinya.

Tentunya kau tidak perlu menunggu dihajar oleh orang kampung di kalimantan dulu untuk mengetahui ilmu pantat gelas. Kau juga tidak perlu memaksa diri untuk menghabiskan growol sampai muntah-muntah (seperti kawan Bapak saya), jika sebelumnya, kau sudah tau informasi penting itu.

 

Purworejo, 5 Februari 2013

Iklan

5 comments on “Adat, Pantat Gelas, dan Growol

  1. yossy
    5 Februari 2013

    oh..ya ya ya *manthuk2

  2. Bopo P.
    5 Februari 2013

    Benar juga kang, sebutan kang kalau saya di pesisir utara karena saya dari pati, baik kecil ataupun besar sebutan “kang” ini untuk semua jenjang, tapi setelah saya ke solo sebutanku kang ini sudah asing. Memang benar juga harus tahu pantat gelas. he..he..he…

  3. legend wannabe
    10 Februari 2013

    ah basa-basa ala jawa, panjang lebar, klasik 😆

    • kangridwan
      14 Februari 2013

      🙂

  4. Legend Wannabe
    10 Februari 2013

    Reblogged this on Maxbreaker's Base Camp and commented:
    patut dicatat!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 Februari 2013 by in opini.
%d blogger menyukai ini: