.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Saya Menjadi Job Seeker

fresh graduate

nemu orang make baju tulisannya begini

Menjadi Job Seeker

Menjadi Job Seeker itu bukan suatu yang hina. Tapi sebenarnya saya agak malu untuk bercerita tentang ini, bahwa saya sekarang bernasib menjadi job seeker. Sebelumnya saya tidak pernah berfikir untuk menjadi job seeker, bahkan saya sering memprovokasi orang untuk tidak jadi job seeker, tapi jadi job maker aja. Saya ingin berwirausaha, membuat lowongan pekerjaan bukan ikut berebut mencari lowongan pekerjaan. Menurut saya itu lebih keren.

Karena beberapa alasan, dan setelah memperhitungkan beberapa hal, serta mengkomunikasikannya dengan beberapa orang terdekat saya, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi job seeker. Keputusan ini saya ambil setelah lulus kuliah. Di masa inilah idealita dan realita bertemu, keduanya melakukan tawar menawar dan melakukan kesepakatan.

Tak apalah, menjadi buruh (apapun jabatannya seorang karyawan, berapapun gajinya, tetap saja buruh). Yang penting mental saya bukan mental buruh. Cita-cita menjadi pengusaha saya pending dulu. Merasakan dulu bagaimana rasanya menjadi pekerja, juga mencari modal. Modal yang tidak hanya berupa uang, tapi juga pengalaman, dukungan, modal sosial, dll.

 

Bukan sekedar ridha Ibu

Menurut guru saya, Jamil Azzaini, memuliakan orang tua itu ada 2 cara. Pertama, mengetahui betul apa yang diinginkan orang tua. Kedua, mengerahkan energi untuk mencapainya.

Jika ditanya apa yang membuat ibu bapak senang, mereka akan menjawab : “Bapak ibu melihat kamu bahagia, sudah senang”. Namun itu belum cukup karena itu artinya kamu belum tahu apa yang diinginkan mereka.

Keinginan saya untuk menjadi pengusaha sebenarnya sudah saya komunikasikan kepada kedua orang tua saya jauh-jauh hari. Bapak memberi dukungan penuh. Ibu saya meridhai saya jadi pengusaha, tapi saya tahu betul itu bukan yang membuat beliau senang. Ibu saya lebih senang melihat anaknya menjadi orang gajian.

“Kalau mau membuka usaha, gapapa. Tapi nanti kalau sudah punya gaji yang tetap. Kalau sudah jadi pegawai kan bisa sambil nyambi. Nanti yang mengelola ga harus kamu. Istri kamu kan bisa.” Kata ibu saya pada suatu hari.

Oke deh. Saya niatkan menjadi job seeker untuk menyenangkan ibu saya. Itu cara memuliakan orang tua saya. Ini ibadah, saya lakukan dengan senang hati. Sebenarnya alasannya tidak hanya ini, tapi inilah alasan paling kuat yang membuat saya tergerak untuk ikut dalam kompetisi itu.

Saya tetap akan membuka lapangan pekerjaan dengan berwirausaha. Tapi timing nya bukan saat ini. Rencana hidup saya ubah, tapi tujuan tetap sama.

 

Filosofi bak mandi

Jika kau berkunjung ke rumah saya kemudian masuk ke kamar mandi, pasti akan mendapati bak mandi selalu dalam keadaan penuh. Kalaupun dipakai untuk mandi, kran dibuka. Bapak saya bahkan sering meninggalkannya dalam keadaan keran mengalir dengan aliran yang sangat kecil.

Volume bak mandi itu besar. Selama ini, alasan yang saya tahu adalah agar bak mandi itu bisa digunakan untuk wudhu dengan metode kopyoh (air tidak harus mengalir, menurut madzhab syafi’i batas minimalnya 2 kulah). Itu saya tahu setelah dulu waktu SD kelas 3 saya ngaji kitab safinatunnajah.

Belum lama ini saya, Bapak saya mengatakan bahwa penuhnya bak mandi itu ada filosofinya.

“Itu filosofinya Bapak, Wan!”

Bahwa kalaupun listrik mati cadangan air tetap ada. Keluarga masih bisa mandi, bisa masak dan yang lainnya. Bahwa dalam keadaan sulit, tetap ada pemasukan yang selalu mengalir untuk menghidupi keluarga.

Kalau mau buka usaha, pasti ada masa-masa sulit. Jika sudah memiliki pemasukan yang tetap (jadi pegawai), kamu bisa melewati masa sulit itu dengan mudah. Kira-kira begitu, pesan yang disampaikan Bapak saya kepada saya. Meski tidak secara langsung.

 

 Ikut Job Fair

Jika kau ingin tahu gambaran ketika saya ikut Job Fair, bisa kau tengok tulisan kawan senasib saya, si Aep yang ke job fair bersama saya. (klik di sini).

Para sarjana-sarjana itu berdesak-desakkan, menjajakan ijazahnya. Melamar disini, melamar disitu. Memasukkan CV, Ijazah, transkrip nilai, juga foto. Ada yang datang dari Purwokerto, Bogor, hingga Surabaya. Mulai dari kampus ternama, hingga kampus yang baru saya dengar namanya.

Graha Sabha Pramana (GSP) UGM yang luas itu nampak sempit, saking banyaknya para job seeker yang mengadu nasib kesini. Mereka sangat antusias. Sangat niat. Ada yang sudah menggandakan berkas-berkas itu dalam jumlah banyak. Tinggal memasukkan ke stand-stand yang menawarkan pekerjaan untuk jurusan mereka. Pakaian mereka rapi, wangi.

Diam-diam saya kasihan pada mereka, tapi saya lebih kasihan pada diri saya sendiri karena ternyata saya juga menjadi bagian dari mereka. Ketika pakaian mereka rapi, kami (saya & Aep) menggunakan pakaian yang biasa untuk ngampus. Saya bahkan menggunakan sepatu tanpa kaos kaki.

Begitu masuk, saya langsung pusing melihat orang berjubel. Saya terus mencari pintu keluar. Lebih baik melihat katalog, memilih perusahaan yang mau di-apply sehingga tujuannya jelas. Kalaupun pusing, tidak lama-lama.

Akhirnya, kami membeli katalog yang harganya 5000 itu. Ya, kami membelinya, subyeknya kami, bukan saya atau Aep, karena kami membelinya patungan. Bagi anak kos, 5000 rupiah itu bisa untuk sekali makan, bahkan kadang bisa untuk dua kali makan. Patungan itu bentuk penghematan.

Ya, setelah melihat katalog, kami berhasil memasukkan CV dkk, ke beberapa perusahaan itu. Dengan cepat, dan segera keluar. Segera pulang. Pusing.

Di twitter, ada kawan yang berkomentar bahwa para job seeker di job fair itu seperti orang kehilangan harapan hidup, seperti orang putus asa saja. Saya jelas tidak sepakat. Bukan karena saya merasa tersinggung (lha saya termasuk job seeker), tapi saya melihatnya sendiri. Di job fair itu, justru saya melihat mereka para job seeker sedang berjuang. Berjuang itu bukan tanda orang putus asa.

 

 Maaf, Anda Terlambat

Ada cerita menarik. Sore itu saya dan (lagi-lagi dengan) Aep mau ikut psikotes salah satu perusahaan otomotif. Undangannya jam 3 sore. Jam segitu, kami sudah sampai lokasi tes. Tapi ternyata belum mulai. Molor. Gelombang sebelumnya belum selesai.

Psikotes itu biasanya 2 jam baru selesai. Padahal waktu sholat ashar itu tergolong pendek. Kalau jam 3 mulai, berarti selesai sekitar jam 5. Lha ini mulainya terlambat. Hingga jam 15.20 belum mulai. Akhirnya, kami sholat ashar dulu karena sudah masuk waktu sholat.

Nah, pas selesai sholat ashar ternyata para peserta sudah diminta masuk ruangan. Otomatis kami terlambat karena sholat. Terlambat sekitar 3 menit, dan tidak diperbolehkan masuk. Tanpa banyak berdebat, kami tinggalkan tempat itu. Tidak kecewa, biasa saja.

“Baru mau masuk jadi pegawai saja sudah begini, apalagi nanti kalau sudah jadi pegawai”, ujar Aep.

“Ya begitulah, resiko jadi pegawai. Jangan salahkan mereka yang punya perusahaan. Kalau kata ustadz Yusuf Mansur yang salah adalah kenapa bukan kita yang punya perusahaan itu.” Jawab saya.

“Belum rejeki kita mas”, kata seorang wanita yang juga terlambat karena ikut sholat berjamaah bareng saya.

“Dijajah” Orang Psikologi

Hampir semua tahapan penerimaan pegawai perusahaan, setelah seleksi administrasi adalah psikotes. Psikotes itu adalah tes psikologi. Soalnya aneh-aneh. Ada-ada saja. Beberapa psikotes bisa saya lewati dengan lancar. Yakin bisa mengerjakan. Eh, ternyata tidak lolos.

Ada apa ini?

Apakah teori psikologi yang digunakan untuk tes bisa dipertanggungjawabkan? Apakah dengan melihat hasil psikotes, mereka bisa mengenal kepribadian seseorang?

“Kita kok rasanya kayak dijajah orang psikologi ya, Wan?” kata Aep.

“Gimana kalau gantian mereka kita jajah?” jawab saya seenaknnya.

Jika dijajah, harus tahu bagaimana cara melawan penjajah. Untuk menghadapi psikotes harus tahu cara kerja psikotes itu sendiri. Apa maksudnya disuruh menggambar pohon, menggambar manusia. Apa maksudnya ini dan itu, harus ditelusuri terlebih dahulu. Dengan persiapan yang baik, tentunya hasilnya akan lebih baik.

 

It’s about Choice

Tidak ada yang salah ketika memutuskan untuk menjadi seorang pegawai. Itu pilihan. Setiap pilihan itu ada resikonya masing-masing. Jika memang itu pilihan hidupmu, berjuanglah! Berdoalah! Nikmatilah ! Syukurilah !

Jika kau memahami konsep hidup dengan benar, dalam kondisi apapun kau bisa menikmati hidup, bisa bahagia dengan pilihanmu itu. Dan memahami konsep hidup ini penting, jauh lebih penting daripada belajar psikotes !!

 

Yogya, 14 Feb 2013

12 comments on “Saya Menjadi Job Seeker

  1. simbah
    14 Februari 2013

    pertamax..
    koreksi sitik yo Le, 2 qullah, bukan 2 kubik (hadist ke 5 Bulughul Maram) >>>http://ustadzkholid.com/hadits-ke-5-kitab-bulughul-maram-tentang-ukuran-banyak-sedikitnya-air-selesai/ (nambah faedah ilmu)

    pengalaman simbah Le, biasanya kalo joobseeker dah menemukan jobnya, mereka mulai seek sampingan Le. Banyak dari mereka yg punya niatan sepertimu. Tapi kadang-kadang (kebanyakan) kalo dah merasakan zona nyaman, jiwa fight-nya agak berkurang, kalo tidak hilang sama sekali.

    • kangridwan
      15 Februari 2013

      O iya ding, Kulah. Dudu Kubik. Lali mas. Maklum, iku sejak kelas 3 SD.

      Edited. Maturnuwun

  2. jupz
    14 Februari 2013

    ane kutip kata-kata anis matta nih: “Titik tengah antara idealisme yang tidak realistis dengan realisme yang terlalu pragmatis adalah optimisme.”….. Tetap semangat membadai.. Jemput rezeki dari manapun, asalkan halal lagi baik😀

    • kangridwan
      15 Februari 2013

      Ane ama Aep mau nglamar si Wardah, eh Ente yg dapet. Yaudah, kami (pura-puranya) itsar aja deh. 🙂

      tengkyu kata2nya, mas Jupe

  3. iboymuharram
    15 Februari 2013

    menjadi Job Seeker tu keniscayaan,
    menjadi Job Maker, baru pilihan..

    semacam menjadi tua dan menjadi dewasa😀

    gudlak ma bro!! baarakallaahu fii ‘uluumikumaa, aamiin..

    *mohon do’anya, ane masih jadi ‘research’ seeker, hehe

    • kangridwan
      15 Februari 2013

      Ane doakan, para seeker mendapatkan apa yang di’seek’kan.

      job seeker, research seeker, istri seeker, pahala seeker, pahala seeker, ridho Alloh seeker, dll
      🙂

  4. Aep S. Farid
    15 Februari 2013

    Masuk kuliah bareng, keluar dari kuliah bareng, nyari kerja juga bereng..

    tp kalo ke pelaminan kayaknya Ridwan yg bakal duluan *eh

    ikhlas Wan.. silakan.. ridho bgt dah..😀

    • kangridwan
      15 Februari 2013

      Ini doa kan ya?

      Oke deh, ane aminin.
      Amiiiinnn

  5. Little Light
    15 Februari 2013

    suka sama kalimat “rencana aku ubah, tapi tujuan tetap sama”
    semangat ridwaan, semoga kelak bisa jadi job maker, aamiin

    • kangridwan
      15 Februari 2013

      🙂

      Amin..

      Met berjuang di malaysia sana, Nin!

      • Little Light
        15 Februari 2013

        😀 sip2, sama2, selamat berjuang!😀

  6. fedry
    5 April 2015

    makasih atas pengalamannya gan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Februari 2013 by in sepotong episode and tagged .
%d blogger menyukai ini: