.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Mamah Dedeh Marah-Marah

Di salah satu iklan obat masuk angin, Mamah Dedeh ngakunya sih orang Bejo. Sejak lama beliau memang sudah menjadi bintang di televisi. Tiap pagi memberikan ceramah dengan Abdel sebagai MC nya. Bahkan tidak hanya di satu stasiun televisi yang membuat acara untuk Mamah Dedeh.

Saya termasuk yang mengagumi beliau. Suka dengan ceramah Mamah Dedeh.

Penyampaiannya ceplas-ceplos. Manteb, tidak ragu. Ayat-ayat Al Quran & Hadits yang dihafal juga seakan-akan di luar kepala, saking hafalnya. Keluar bagitu saja ketika dibutuhkan untuk menguatkan penjelasan. Beliau juga tidak ragu untuk menyampaikan perintah atau larangan agama yang bagi masyarakat umum masih kurang enak didengarkan.

Temanya bermacam-macam. Mulai dari seputar pernikahan, cara bersuci, fiqih, solat, hingga tentang pembagian harta waris. Pertanyaan yang dijawab beliau juga bermacam-macam, mulai dari pertanyaan sepele yang jawabannya hanya satu kata “boleh”, sampai pertanyaan yang jawabannya panjang.

Mbah kakung saya bahkan rutin menyetel acaranya Mamah Dedeh tiap pagi dan merasa mantab dengan apa yang disampaikan. Saya tidak rutin mengikuti karena saya tidak rajin menonton TV. Hanya saja kalau pas nyetel TV dan kebetulan Mamah Dedeh sedang tampil, ya saya ikuti. Ikut ngaji.

mamah dedeh marah

Itu Muqoddimah-nya.

Tadi pagi, saya pas nyetel TV pas sedang ada acaranya Mamah Dedeh. Beliau “marah-marah”. Maksudnya, menjawabnya memakai nada tinggi. Semacam orang emosi. Tapi tidak sedikitpun bermaksud marah-marah. Intinya bukan pada nada tingginya, tapi pada cara meyakinkan orang yang dihadapinya.

Menurut saya, pertanyaan si penanya memang pantas untuk dijawab dengan cara begitu.

“Mah, kalau nikah harus ada walinya tidak Mah? …”

“Harus ada!” mamah langsung memotong pertanyaan yang belum selesai itu.

“Tapi kondisinya, harus segera dinikahkan. Karena kecelakaan …”

Lagi-lagi Mamah memotong si penanya yang belum sampai titik. Jangankan titik, koma saja belum.

“Tidak ada alasan seperti itu. Salah sendiri mau-maunya begitu belum menikah. Pelakunya harus dirajam. Buka tuh Al Quran as Sunah. Semua sudah ada disitu. Jangan bikin aturan sendiri. Kalau gara-gara kecelakaan terus dinikahkan, nanti malah jadi semakin dimaklumi oleh masyarakat kita.” Mamah nadanya tinggi.

Ada lagi yang bertanya.

“Mah, kalau nikah sirri itu hukumnya gimana?”

“Di dalam agama islam itu nikah syaratnya yang penting ada mempelai, ada wali, dua saksi, mahar, ijab qobul. Ketika syarat itu sudah terpenuhi, itu sudah sah. Hanya saja, banyak yang tidak bertanggung jawab, cuma mau muasin nafsunya saja. Makanya negara mengatur agar dicatatkan agar bisa dilindungi secara hukum.”

Pertanyaan berikutnya,

“Mah, kalau mau menikah jual rumah boleh tidak?”

“Agama kita itu tidak mensyaratkan untuk menikah harus mewah-mewah sampai jual ini jual itu. Selama syarat itu ada, itu udah sah. Bayar di KUA saja cuma 30 ribu, Bu. Maskawin juga tidak ada syarat harus sekian. Kalau punyanya sandal jepit, itu juga bisa untuk maskawin. Untuk menikah itu tidak diperumit. Aturan dari Allah itu sudah jelas.“

“Ya Mah, kalau pake sandal jepit malu lah Mah. Masak Saya nikahkan anak saya dengan maskawin sepasang sandal jepit. “ Abdel bikin penonton pada ketawa.

Pertanyaannya bermacam-macam. Dan cara Mamah menjawab juga sama.

Dari itu semua saya bisa mengambil kesimpulan bahwa ternyata kebanyakan masyarakat kita pengetahuan tentang agamanya masih kurang. Padahal itu yang menonton dan bertanya adalah ibu-ibu majelis taklim yang akrab dengan pengajian. Lalu bagaimana dengan mereka yang masih jarang ngaji? Mereka yang tidak sempat atau tidak menyempatkan untuk menuntut ilmu agama?

Satu sisi saya sangat bersyukur, mendapat didikan ilmu agama dari orang tua sejak kecil. Kemudian lingkungan saya pun juga lingkungan yang kondusif untuk menuntut ilmu agama serta menjalankannya.

Namun di sisi lain, saya bersedih karena belum bisa berbuat banyak untuk ikut berdakwah, menyampaikan ilmu agama kepada mereka yang haus akan agama. Membuat mereka orang muslim paham tentang islam.

Sehingga tidak lagi ada orang tua yang malah menyuruh anaknya pacaran. Malu kalau anaknya sudah gedhe kok tidak pacaran. Ini bener-bener terjadi. Ada teman saya yang bercerita kalau ketika pulang, di rumah ditanya : Mbok pacarnya diajak ke rumah.

Berhubung saya belum bisa berbuat banyak, ya saya lakukan apa yang bisa saya lakukan. Saya doakan semoga para ustadz/ustadzah yang menyeru agama ini selalu diberi kesehatan dan kesitiqamahan. Belakangan saya jadi mengikuti apa yang dilakukan Mamah Dedeh, ketika ada yang curhat. Saya “Marah-marah” !

 

Solo, 11 Maret 2013 

Iklan

11 comments on “Mamah Dedeh Marah-Marah

  1. peta
    12 Maret 2013

    hmm tulisan ini moga dihitung sbg pahala dawah.. kan jg ngingetin.. 🙂

  2. iboymuharram
    13 Maret 2013

    mamah Dedeh tuh mamah saya wan, sama2 namanya Dedeh, sama2 muballighah, sama2 keras cara penyampaian ceramahnya :’D

    #curhat (plis, jangan dimarahin :D)

    betewe, isi tulisannya sangat tendensius, khas mahasiswa tingkat akhir/sarjana :p

    • kangridwan
      27 April 2013

      Salam buat mamah Dedeh di Ciamis, Mas !!
      🙂

  3. Siti Lutfiyah Azizah
    27 April 2013

    Wah baru baca blognya ridwan lagi nih, lama ga nengok 🙂

    Mamah Dedeh emang termasuk da’iyah yang paling to the point banget kalo ngejawab. Kalo salah ya udah salah. ga pake ada embel-embel lagi. Jarang-jarang ada orang model Abuzar Ghifari gitu 🙂

    • kangridwan
      27 April 2013

      Makasi kak Fiya!! Kayaknya kak Fiya bakal jd penerusnya mamah Dedeh deh (amin)
      🙂

      See U @ FIM besok!

      • Siti Lutfiyah Azizah
        30 April 2013

        oalah.. dipanggil kakak -,-. biasanya langsung nama juga :p

        aku gak ke FIM dulu kayaknya nih rid. ada prioritas lain, hehe.

        penerus mamah dedeh? haha, aamiin-in aja deh. semoga ridwan juga jadi ustaz di kemudian hari 🙂

  4. giren
    1 Mei 2013

    bisa nggak ya… dakwah itu disampaikan dgn cara yg SEJUK, tdk menyinggung atau merendahkan….???? kepingin aja sih

  5. alvinopavsp
    24 Juli 2013

    Alhamdulilah, jazakallah khair atas tulisan ini…., semoga diberkahi Allah swt. Amin,

    • kangridwan
      31 Juli 2013

      Amiiin…

  6. Ika Koentjoro
    5 Oktober 2014

    Tiap da’i punya style sendiri dalam menyampaikan dakwahnya. Kalau mamah dedeh emang tegas. Dalam menjawab sebuah permasalahan. Tapi saya suka pusing kalau denmger yang teriak2.

  7. dewi
    5 September 2015

    setuju kangridwan…….cara ceramah mamah dedeh emang udah tuntutan zaman kali ya…….dimarah2in aja masih aja yang cengar cengir g jelas gitu….memang bagus klu penyampaian dakwah secara halus…tp….zaman sekarang banyak masyarakat yang harus diajari secara keras..saya berdo’a semoga dilingkungan kita banyak orang yang seperti mamah…..andai saja tiap RT ada org yang seperti mamah saya yakin Indonesia ini akan damai sentosa,,g bakalan ada yang buang sampah sembarangan,g ada pemerkosaan,g ada korupsi,g ada lagi kelaparan,perjudian,dsb…yang pasti kalau masing2 kita berpegang kepada AL-QURAN&HADIST dijamin deh masyarakat yang adil&makmur akan terwujud…amiiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Maret 2013 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: