.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pak Amak, Hasan Al-Bashri dan Happy Puppy

Namanya Pak Amak. Cara membacanya seperti ketika kamu mengucapkan kata alamak, cuma “la” nya dihilangkan. Rumahnya tepat di sebelah rumah saya (lebih tepatnya, rumah bapak saya). Beliau dulu guru SMP dan sekarang sudah pensiun. Bagi kampung kami beliau termasuk orang berada. Kesibukan beliau sekarang hanya di rumah. Bahasa yang sering digunakan oleh para pensiunan : menikmati hari tua.

karaokeBeliau suka karaoke. Bukan di Happy Puppy atau tempat karaoke keluarga seperti yang ada di kota besar. Di kota saya sepertinya belum ada seperti itu. Pak Amak karaoke di rumahnya sendiri. Jika berkunjung ke rumahnya, di ruang tamu kamu akan melihat sound sistem lengkap dengan mic, VCD dan playernya. Lagunya bermacam-macam jenisnya, tapi kebanyakan lagu lawas, lagu kenangan.

Dan perbedaan yang jelas antara Happy Puppy dan ruang karaoke pak Amak ini adalah keberadaan peredam suara. Suaranya yang dihasilkan dari ruang karaoke pak Amak ini jemengglung,bass-nya manteb terkadang sampai kaca jendela rumah saya bergetar dibuatnya. Maklum, tidak ada peredam suaranya. Dari jarak seratus meter sudah mulai terdengar. Mirip seperti orang punya gawe (seperti : nikahan, sunatan, dll)

Jadwal karaoke Pak Amak tidak rutin, tapi nyetel musiknya rutin tiap pagi. Siang dan sore juga sering menyetel musik, tentunya masih dengan volume tinggi ala orang nduwe gawe. Awalnya kami tidak nyaman dengan hal ini. Menonton berita di TV jadi kurang jelas suaranya, kalah saingan. Mau tidur jadi agak terganggu karena berisik. Kadang juga suara adzan sampai tidak terdengar.

Meski sebenarnya kami berhak untuk menyampaikan keluhan itu ke Pak Amak, tapi kami tidak melakukannya. Itu adalah kebahagiaan Pak Amak sebagai pensiunan yang menikmati hari tua. Sebagai tetangga kami tidak boleh merebut kebahagiaan itu. Dalam hal memuliakan tetangga, ini belum ada apa-apanya dibanding kisah Hasan Al-Bashri.

Hasan Al-Bashri merupakan ulama’ besar di zamannya. Beliau hidup sederhana dan tinggal di rumah susun. Di lantai atasnya, tinggal keluarga Nasrani. Kamar beliau bocor dan dengan sabarnya beliau menampung tetesan air dan menggantinya tiap kali penuh. Beliau tidak pernah berniat memperbaiki atap itu. “Kita tak boleh mengusik tetangga”.

Tetangga Nasrani itu tak tahu bahwa kamar mandinya mengalami kerusakan sehingga air kencing dan kotoran itu masuk ke kamar sang Ulama’. Hingga suatu ketika si tetangga menjenguk Hasan Al Bashri yang tengah sakit barulah ia tahu.

“Imam, sejak kapan engkau bersabar dengan semua ini?”, tetangga Nasrani tampak menyesal.

Hasan Al-Bashri hanya terdiam memandang, sambil melempar senyum pendek.

“Tolong katakan dengan jujur, wahai Imam. Demi melegakan hati kami”

Dengan suara berat, Hasan al-Bashri pun menjawab, “Dua puluh tahun yang lalu”

“Lantas mengapa engkau tidak memberitahuku?”

“Memuliakan tetangga adalah hal yang wajib. Nabi kami mengajarkan, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka muliakanlah tetangga. Anda adalah tetangga saya”, tukasnya lirih.

Tetangga Nasrani itu seketika mengucapkan dua kalimat syahadat.

 

Kembali lagi ke Pak Amak. Beliau tetangga kami yang harus kami muliakan. Namun dalam hal bersabar, kami belum bisa selevel Hasan Al-Bashri. Akhirnya yang kami lakukan adalah mencoba untuk berusaha menikmati apa yang dinikmati Pak Amak.

Ketika yang diputar adalah lagu kenangan. Ibu saya sambil memasak di dapur terkadang ikut menyayi, yang penting ikut menikmati. Ketika musik pak Amak mulai dinyalakan, Televisi mending dimatikan, toh beritanya juga kurang bermutu. Jika mau tidur sementara musik masih berbunyi, anggap saja itu sebagai nyanyian pengantar tidur.

Ternyata, cara itu berhasil. Ketidaknyamanan yang sebelumnya ada kini telah hilang. Nyaman dan tidak nyaman itu letaknya lebih pada bagaimana kita menyikapi sesuatu. Kalau bisa menyikapi dengan positif, kenapa musti negatif? Kalau bisa ikut menikmati, kenapa memilih hati tersakiti?

Hingga pada suatu sore, saya sempatkan main ke rumah pak Amak dengan tujuan ikut berkaraoke. Pak Amak menyambut dengan gembira melihat saya mau ikut berkaraoke di “studio” rumahnya itu. Saya tidak pernah berniat mencoba karaoke di Happy Puppy dan sepertinya cukuplah sesekali berkaraoke di tempat pak Amak : gratis, dekat, bakat menyanyi saya lumayan tersalurkan, dan tentunya membuat bahagia pak Amak.

 

Kutoarjo, 22 Maret 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 Maret 2013 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: