.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Ujian, Sistem Pendidikan, dan Kejujuran

ujian-sekolah1Saya punya adik yang sedang duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Kejuruan. Tahun ini ia mengikuti Ujian Akhir Nasional. Jauh-jauh hari tiap kali saya pulang ke rumah, dia selalu bercerita tentang Ujian yang akan dilaluinya itu. Selalu saja ceritanya “horor”, begitu menegangkan, saya merasa kasihan karenanya.

Berangkat sekolah pagi, pulang sore, di rumah sebentar lalu berangkat lagi untuk kursus atau belajar kelompok, jam 10 malam baru pulang. Semua itu dilakukan demi persiapan menghadapi perang besar bernama UAN.

Segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik. Terlalu tegang dan horor itu tidak baik, menyepelekan ujian sampai tidak belajar itu juga tidak baik. Namun bagaimana jika sistem yang memang memaksa siswa menjadi tegang?

Sistem pendidikan yang ada membuat sebuah persepsi pada masyarakat bahwa sekolah itu untuk bekerja. Sekolahlah yang rajin agar pekerjaanmu mapan. Jika pekerjaanmu mapan, sukseslah hidupmu. Maka, lulus ujian merupakan kewajiban. Jika gagal UAN maka masa depanmu akan suram.

Hasilnya, semua tenaga dan fikiran dikerahkan untuk mencapai satu tujuan : Lulus Ujian. Mereka lupa bahwa tujuan utama sekolah itu menuntut ilmu. Ketika ilmu diperoleh, kemuliaan yang bisa berupa pekerjaan, kedudukan, dan kesuksesan akan datang menghampiri.

Betapa ngerinya jika sampai tidak lulus ujian. Seakan-akan belajar selama sekian tahun menjadi tidak ada artinya jika gagal menghadapi ujian yang hanya empat hari itu. Kengerian ini membuat siswa tegang melakukan persiapan menghadapi ujian. Baru persiapan saja sudah tegang, apalagi ketika benar-benar menghadapinya. Ketegangan ini menjadi semakin berlipat ketika orang tua dan pihak sekolah ikut menekan. Kegagalan siswa menjalani ujian itu berarti kegagalan orang tua, itu berarti juga kegagalan sekolah. Komplet sudah beban yang ditanggung siswa sebagai si pelaku ujian.

Tujuan bersekolah untuk menuntut ilmu menjadi melenceng menjadi mengejar lulus ujian. Padahal intinya adalah pada menuntut ilmu. Padahal menuntut ilmu tidak hanya di sekolah. Karena berlebihan pada urusan ini, maka urusan itu menjadi kekurangan. Porsinya menjadi tidak seimbang. Urusan itu misalnya adalah waktu untuk bermain, waktu untuk berkreasi dan berekspresi, waktu untuk berkumpul dengan keluarga, juga waktu untuk menuntut ilmu agama.

Jika ingin mengkritisi sistem pendidikan akan ada banyak hal yang perlu dikritisi untuk diperbaiki. Dalam hal penyeragaman misalnya. Pendidikan menuju seragam menjadi ancaman yang mencemaskan. Inilah yang menyebabkan kenapa kehidupan sosial kita begitu kesepian. Sepi imajinasi, sepi inisiatif dan sepi eksperimen. Berimajinasi menjadi sesuatu yang jarang, berinisiatif menjadi kegiatan yang langka.

Akibat dari penyeragaman itu sungguh terasa dalam kehidupan keseharian kita. Cobalah tengok sinetron di televisi itu. Aktingnya wagu, ceritanya mudah ditebak. Jika musim “ratapan anak tiri” tiba, seluruh cerita di Indonesia penuh dengan ratapan dan air mata. Jika cerita hantu tengah digemari, hantu-hantu langsung bergentayangan di seluruh negeri.

Apapun profesi yang kita pilih, selalu muncul rangsangan untuk menjadi peniru. Para penemu, pioneer, dan kaum peneliti menjadi makhluk paranoid. Baru mau menggubah lagu, sudah keburu terbayang wajah pembajak kasetnya. Baru mau menemukan sesuatu, sudah keburu tegang oleh hebatnya pelanggaran hak cipta. Mereka tidak hanya menjadi peragu, tapi juga penakut, akhirnya tidak berbuat apa-apa. Jadilah masyarakat kita yang sudah miskin imajinasi dan kreasi ini semakin patut dikasihani.

Jika kita lihat, mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional ya pelajaran itu. Padahal kemampuan siswa bermacam-macam, ada yang pandai di bidang yang diujikan ada yang pandai di bidang yang tidak diujikan. Jika tidak lulus ujian atau nilai ujiannya jelek, ia akan dicap sebagai orang bodoh. Padahal ia kelebihannya sebenarnya di bidang lain yang tidak masuk dalam Ujian Nasional.

Itu baru satu contoh kritik untuk sistem pendidikan kita dalam hal penyeragaman. Belum hal yang lain. Tentang para pendidik yang lebih pantas disebut pengajar, tentang banyaknya kemubadziran jumlah mata pelajaran, dan masih banyak yang lainnya.

Sistem pendidikan kita itu merupakan metodologi. Sampai saat ini belum selesai diperdebatkan mana yang terbaik. Bagi orang awam mudah saja menilainya. Lihat saja produktivitas bangsa tersebut. Yang terpenting, adakah anak-anak telah menjadi obyek industri dengan pendidikan sebagai kedoknya?

Jika Cuma soal metodologi, atau kurikulum yang keliru, tidak perlu ditakutkan sepanjang itu merupakan resiko dari sebuah pembelajaran. Kekeliruan bagi sebuah upaya adalah kewajaran. Sangat berbeda dengan kekeliruan hasil dari ketidakjujuran. Celakanya di Indonesia, ketidakjujuran bisa merambah kemana-mana bahkan sampai ke pendidikan.

Karenanya, pada adik saya yang akan ujian ini saya beri dua petuah, “Cara biar ujian tidak tegang itu gampang : Jangan dibikin tegang !”. “Kudoakan ujian kamu lancar dan lulus dengan nilai baik, tapi lebih kudoakan kamu jujur”.

Kutoarjo, 21 April 2018

 

 *Tulisan ini ditulis utk kolom opini sebuah majalah.🙂

 

                                                                                                             

One comment on “Ujian, Sistem Pendidikan, dan Kejujuran

  1. Ulfa
    22 April 2013

    Pak ridwan skrng ngaryawan apa ngewirausaha?
    B-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 April 2013 by in opini.
%d blogger menyukai ini: