.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Pengamen & Sate Padang

Beberapa hari yang lalu saya ke Jakarta untuk mengikuti seleksi program Indonesia Bangun Desa. Kebetulan pula malam itu ada kumpul-kumpul anak-anak FIM (Forum Indonesia Muda) di Mabes Rawamangun. Mereka sedang melakukan pleno untuk menyeleksi 180 peserta FIM 14 dari 4995 berkas calon peserta se Indonesia. Saya dan Maya Rumpe yang juga anak FIM sekaligus ikut seleksi IBD, memutuskan untuk ikut malam mingguan di Rumah Pak Elmir yang dijadikan Mabes itu, ikut ngumpul dengan anak-anak FIM.

Anak-anak FIM habis Pleno Penentuan peserta FIM 14 @Rawamangun

Anak-anak FIM habis Pleno Penentuan peserta FIM 14 @Rawamangun

Saya buta Jakarta, begitu juga Maya yang dari Kalimantan itu. Kami sok-sokan naik busway, gampang, tinggal nanya sama petugas kalau mau ke Rawamangun turun di halte mana, beres urusan. Tapi Jakarta ternyata tidak seramah seperti yang dibayangkan. Mau naik halte transjakarta saja saya kerepotan. Nyebrang sana nyebrang sini, ternyata pintu masuknya di sebelah sana. Jadilah nyebrang berkali-kali, di jalan yang padat petang itu.

Jakarta boleh tidak ramah, tapi ketidakramahannya kalah oleh hangatnya sambutan dari Pak Elmir & Bunda Tatty. Mereka adalah  Founder sekaligus ketua dewan Pembina, sekaligus orang tua bagi kami para anak-anak FIM.

Kami dijemput di halte Matraman (entah dimana halte itu, yang jelas namanya Matraman, gitu aja). Menggunakan mobil, kami dijemput menuju Mabes Rawamangun yang mana terdapat sekitar 30 anak di sana. Di dalam mobil ini lah, saya melihat kemesraan Pak Elmir & Bunda Tatty, sekaligus kehangatan mereka kepada kami (yang mengaku sebagai anak angkat mereka).

Saya dapat pelajaran bagaimana memuliakan tamu dari pasangan romantis ini. Kami mampir di penjual sate padang dulu. Pak Elmir & Bunda Tatty mau membelikan sate sekian tusuk untuk anak-anak ideologisnya yang kini sedang gemruduk di rumah mereka. Ada sate jawa, ada sate padang. Sambil menunggu sate selesai dipesan, kami berempat pesan sate padang untuk dimakan ditempat. Di sinilah cerita akan dimulai.

Ohya, cerita yang tadi itu baru mukaddimah, ya.

Pak Elmir & Bunda Tatty

Pak Elmir & Bunda Tatty di warung sate Padang

“Ridwan mau pesen sate padang, apa sate jawa?” Tanya Bunda Tatty

“Sate… Padang deh, Bund. Biar sama kayak yang lain”, saya jarang makan sate dan kebetulan belum pernah nyoba makan sate padang.

“Tapi, sate padang itu kalo kata orang yang baru pertama makan, bumbunya mirip jamu” jelas Bunda Tatty

“Gapapa deh, nyobain. Biar pernah ngerasaain”

Saya jadi mikir, seharusnya penjelasan itu datang sebelum meminta memilih.

“Ini asin, itu manis, kamu pilih mana?”

“ Ini mahal, itu murah, kamu pilih mana?”

 Bukan sebaliknya.

“Milih ini apa itu?”

“Aku milih ini”

“Tapi ini asin loh” atau “tapi ini mahal loh”

Sebelum memilih seharusnya sudah tau konsekuensi pilihan. Bukan memilih utk mengambil keputusan tanpa tahu konsekuensi yang mengikutinya.

Untuk kasus sate padang ini tidak jadi masalah. Saya memilih, lalu baru tahu kalau katanya rasanya katanya mirip jamu. Ini tantangan !! Saya terima tantangan itu!

Sate padang terhidang, tantangan ada di depan mata. Rasanya memang aneh. TIdak salah kalau ada yang bilang mirip jamu. Bumbu kacangnya sangat halus. Secara kasat mata ga terlihat kalau ada unsur kacang di dalamnya. Sambil makan, kami ngobrol banyak hal. Saya lebih banyak mendengarkan Pak Elmir & Bunda Tatty bercerita, ceritanya inspiratif. Belum cerita saja, mereka udah menginspirasi. Ini kesempatan langka, bisa duduk secara spesial.

Baru sesaat ngobrol sambil menikmati sate padang yang lidah saya butuh “adaptasi”, datanglah dua orang pengamen. Pakaian mereka rapi. Keduanya lelaki, yang satu membawa gitar satunya lagi mengiringi sambil tepuk tangan yang sesuai ketukan. Suara mereka merdu. Semakin keren lagi karena keduanya bernyanyi dengan suara satu dan suara dua. Beda nada, tetapi harmonis, mirip paduan suara.

Lagunya rancak, saya ikut menikmatinya meski tak tahu itu lagu siapa, juga tak tahu apa artinya. Maklum, nyanyinya pake bahasa inggris. Entah saya yang bahasa inggrisnya jelek, atau mereka yang mengucapkan kurang pas cara membacanya. Saya curiga itu adalah lagu lawas karena Pak Elmir ikut bernyanyi sambil menikmati. Bahkan uang untuk pengamen itu segera disiapkan. Hanya, masih ditahan menunggu lagunya selesai.

Setelah selesai, baru pak Elmir ngasih uang yang sudah dikeluarkan dari tadi, tapi ditahan itu. Jujur saja, pengamen itu memang professional. Suaranya bagus, sopan, enak didengar, menyelesaikan tugasnya dulu, baru minta uang. Tidak menuntut hak sebelum kewajiban tertunaikan. Sebenarnya saya pengin ngasih komentar seperi Ahmad Dhani, tapi saya nyadar kalau sedang di warung sate, bukan di ajang X-Factor.

“Orang berdoa itu mirip pengamen itu” Ayah angkat kami membuka pembicaraan. ”Si pengamen yang nyanyinya bagus dibiarkan sampai selesai nyanyinya, baru dikasih uang yang kadang jumlahnya lebih dari pengamen biasa. Tapi kalau pengamennya sudah suaranya jelek, ga sopan, bikin pencemaran suara, mending langsung dikasih uang. Tujuannya biar langsung segera pergi. “

Nah, begitu juga Tuhan dalam mengabulkan doa hamba-Nya. Kalau doa kita belum juga dikabulkan, jangan berkecil hati apalagi sampai putus asa. Mungkin saja , Tuhan sedang menahannya karena ingin melihat hamba-Nya yang sedang menadahkan tangan berdoa sambil menitikkan air mata. Jangan juga terlalu senang, kalau kita berdoa tiba-tiba dikabulkan. Jangan-jangan kita seperti si pengamen yang mencemari suara itu”

Baru selesai memberi pencerahan kepada kami, tiba-tiba datang pengamen jenis kedua. Baru mulai menyanyi, langsung minta uang. Nyanyinya kelihatan kalau tidak sungguh-sungguh, ngasal. Langsung saja mereka dikasih biar cepet pergi. Beda dengan pengamen pertama yang sengaja dilama-lamakan ngasihnya karena memang ingin menikmati.

**

“Ridwan kok makannya belum habis? Ga suka sate Padang kah?” tanya Bunda Tatty

Saya jadi tersadar kalau Pak Elmir, Bunda Tatty dan Maya sudah selesai makan sate padang. Sementara di hadapan saya masih ada beberapa tusuk sate padang. Ternyata butuh waktu bagi lidah saya untuk beradaptasi dengan makanan berasa “unik” ini. Unik karena ya baru pertama ada sate berasa seperti ini.

“E.. e.. enggak Bund. Ini justru saya sedang menikmati sate padang. Ingin berlama-lama biar tidak cepet habis” jawab saya sambil tersenyum.

 

Solo, 27 April 2013

Iklan

2 comments on “Pengamen & Sate Padang

  1. Little Light
    27 April 2013

    sukaa, ngena banget 😀 akhirnya muncul lagi tulisan ridwan…

  2. ichigoyo
    28 April 2013

    suka quotenya, kak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 April 2013 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: