.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Kuitansi dan Materai

materaiIni kejadian nyata yang dialami sendiri oleh mas saya. Jika ingin mau mencari riwayatnya, saya termasuk orang yang dekat dari sumber informasinya. Bukan orang yang dengar dari si anu, si anu dengar dari si una, si una dengar dari si aun. Yang karena panjangnya rantai informasi, terkadang ada informasi yang terkikis.

Sekitar seminggu yang lalu Mas Roso –mas saya-, mengurus mutasi 2 motornya di Purworejo. Sebelumnya kedua motornya berplat F (Bogor kan ya?),  akan dimutasi menjadi plat Purworejo (AA-C/L/V). Mengurus urusan mutasi di sana, ibaratnya memotong, kini gilirian mengurus di sini, ibaratnya menyambung.

Mas Roso pergi ke Purworerjo untuk mengurus mutasi. Kemudian ketika akan membayar biaya mutasi, terjadilah percakapan yang kurang lebih begini :

“Biayanya berapa Pak?” tanya Mas Roso

“360 ribu” kata pak petugas

“Ciyus, pak?” Mungkin Mas Roso mbatin seperti itu

Bujubuneng! Mas Roso kaget ketika memeriksa nota pembayaran yang diserahkan pak petugas. Apa-apaan ini ?!

Pak petugas itu meminta 360 ribu, padahal di nota resmi tertulis 80 ribu permotor. Itu artinya seharusnya membayarnya 160 saja. Itu uang 200 ribu untuk apa? Bakal lari kemana? Nah, ketika ditanya seperti itu, kata pak petugas itu untuk biaya bla bla bla.

Dikiranya uang 200 ribu itu kecil apa ya? Itu kalau dipakai buat beli kerupuk bisa dapet sekian banyak plastik ukuran besar. Bisa buat lauk makan sekian bulan.

“Bentar ya Pak, saya ke ATM dulu. Duitnya kurang” mas Roso minta izin keluar dulu.

Di luar, entah mas Roso ke ATM, atau mampir ATM, atau sekedar pengin ngadem di ATM, saya tidak tahu. Yang jelas ketika keluar, Mas Roso beli kuitansi dan materai !!

“Pak Petugas, jika memang membayarnya haru 360 ribu, saya akan membayarnya. Tapi saya minta bapak mau tanda tangan di atas kuitansi bermaterai yang saya siapkan ini. Bahwa bapak menerima uang dari saya 360. Gimana ?” tantang mas Roso.

Mungkin si pak petugas ini raut mukanya berubah. Harusnya mas Roso waktu itu membawa kamera lalu dipoto wajahnya yang mungkin agak ketakutan. Tanda tangan di atas materai itu mempunyai kekuatan hukum. Kalau memang prosedurnya benar, harusnya tidak perlu takut. Tinggal jawab saja : sini kuitansi bermaterainya, saya tanda tangani dengan senang hati. Namun, yang terjadi tidak seperti itu.

“Kalau begitu, mending masnya langsung berhubungan saja dengan atasan saya”

“Baguslah kalau begitu, saya ingin ketemu atasan Bapak!”

Mas Roso ketemu atasannya pak petugas ini. Beliaunya ternyata juga seperti si bawahan, meminta mas Roso langsung berhubungan dengan atasannya lagi. Tentunya setelah melakukan negosiasi, lebih tepatnya mungkin perdebatan.

Eh, atasannya atasan pak petugas itu ternyata sedang tidak di kantor.

“Bagaimana kalau masnya berbicara dengan atasan saya lewat telepon saja?”

“Tak apa-apa. Ga masalah!”

Akhirnya mas Roso melanjutkan negosiasi dengan atasannya atasan pak petugas kasir.

Singkat cerita, akhirnya mas Roso membayar sesuai dengan yang tertera di nota, 160 ribu untuk dua motor. Negosiasinya berhasil, perjuangannya sukses !. Modalnya keberanian dan keyakinan bahwa ia sedang memperjuangkan kebenaran. Oya, sebenarnya ada modal lainnya : kuitansi dan materai yang ia beli di warung dekat situ.

**

Saya sendiri kaget mendengar cerita itu. Alasan pertama adalah kaget karena praktek kotor seperti itu masih terjadi di era yang katanya sudah serba transparan. Alasan kedua adalah kaget dengan keberanian mas saya yang kalem itu.

Sangat mengherankan bagi saya, ketika mendengar bahwa mas Roso diminta ngomong ke atasan pak petugas, bahkan hingga naik 2 level. Itu berarti para atasannya mengetahui hal ini. Itu berarti ini merupakan kejahatan berencana.

Ketika orang sudah tidak punya pilihan lain, hanya itu satu-satunya pilihan, ya mau gimana lagi?. Satu-satunya instansi yang memiliki kewenangan mengurus mutasi kan ya hanya instansi itu? Ga mungkin lah, kita membikin plat nomor sendiri dengan nomor sesuka hati, terus membuat STNK sendiri. Malah itu namanya melanggar hukum.

Bayangkan jika satu motor diobyekin 100 ribu. Dalam satu hari saja jika ada 30 motor yang diurus mutasinya, itu sudah ada 3 juta Bung!

Ngelus dada..

Padahal kata mas Roso, saat ini kertas untuk membuat STNK & BPKB sedang langka stocknya. Ini menasional lho ya, saya juga sempat mendapatkan info itu dari televisi. Jadi, untuk sementara baru menggunakan surat keterangan dari kepolisian. Jangan-jangan ini juga terjadi karena dikorupsi? Oh no, semoga dugaan saya tidak benar.

Kekagetan kedua adalah tentang keberanian mas Roso. Biasanya orang lebih memilih cari aman saja lah. Lha tapi ini mas Roso berani melawan. Saya jadi teringat dengan kejadian yang pernah saya alami sekitar 4 tahun yang lalu. Ketika itu saya sedang mengurus perpanjangan SIM.

Salah satu syaratnya adalah mengumpulkan surat kesehatan yang didapatkan di salah satu kantor di dalam Satlantas juga. Di kantor itu, sambil menunggu antrian saya mengeluarkan kamera saya. Saya ingin memoto bapak-bapak yang melayani masih menggunakan mesin ketik. Saya juga ingin memoto tulisan : Biaya sekian rupiah (saya lupa jumlahnya) yang tertempel di dekat tempat pembayaran.

Nah, ketika asyik memoto tiba-tiba ada petugas (menggunakan sragam polisi) berteriak memanggil saya dengan nada seperti orang marah.

“Hoi, mas mas!! Itu ngapain bawa kamera. Moto apa kamu?!! Sini kemari!”

Saya mendekat ke pak polisi itu.

“Ngapain moto-moto? Kamu dari mana? Wartawan ya? Mana suratnya?”

“Saya mahasiswa pak. Pengin moto aja, untuk pribadi”

Saya masih dibentak-bentak, lalu disuruh menghapus poto yang saya ambil. Terus saya disuruh menghadap kepala/pimpinan di kantor itu. Di sana saya “dinasehati” banyak. Saya katakan saya sudah hapus potonya. Baru saya boleh keluar dari ruang “introgasi” itu.

Waktu itu saya enggan melawan seperti yang mas Roso lakukan. Pertama, karena saya sedang keburu-buru, tidak punya banyak waktu untuk meladeninya. Apalagi kalau sampai berbuntut panjang, bisa-bisa malah besoknya saya tidak bisa kuliah. Kedua, karena saya waktu itu gentar juga ketika dibentak-bentak. Dulu saya masih cupu.

Saya yakin yang saya lakukan tidak salah. Lha yang saya poto itu ruang tunggu, ruang publik gitu. Saya tidak memoto yang ada di ruang petugas yang bukan untuk publik. Di ruang itu juga tidak ada gambar kamera disilang, tidak ada tulisan “dilarang memotret”.

Ya, seperti itulah yang terjadi di negara ini. Negara yang kita cintai

Jika memang ada yang perlu diperbaiki, sudah menjadi tugas kita untuk memperbaikinya bersama.

Terimakasih mas Roso, atas pengalamannya. Jika memang yang dibela adalah kebenaran, jangan takut. Saya juga mendapatkan ilmu baru : siapkan kuitansi dan materai. Juga kamera. Itu bisa menjadi sangat bermanfaat di suatu keadaan.

 

Kutoarjo, 1 Juni 2013 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 Juni 2013 by in hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: