.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Jejak Si Jepri

Paijo sedang duduk ongkang-ongkang santai di teras rumahnya sambil nyruput teh anget yang dia bikin sendiri. Maklum, belum punya istri. Menjadi pengangguran memang membuat kurang Pede nyamperin calon mertua.

Saat itu lewatlah Jepri, teman bermainnya waktu kecil , teman ngaji di musola mbah Kaji Dolah, desa sebelah.

“Hei Jep, mampir sini! Kok kayaknya sedang seneng banget kamu”

Jepri masuk halaman rumah Paijo sambil cengar-cengir bahagia. Tangan kanannya menenteng kotak kayu.

“Tau ga kamu Jo, kotak ini isinya apa?”

“Harta karun ya? Haha” jawab Paijo sambil becanda.

“Tepat sekali! Nih lihat nih, ada bongkahan emas di dalamnya”

Jepri membuka kotak itu. Diperlihatkannya logam mulia itu kinclong-konclong. Paijo kaget, tebakannya yang becanda itu kok benar ya?

“Ini emas asli. Lho!”

Kini giliran Paijo yang plonga-plongo.

“Kok bisa dapet emas segitu? Bejo banget kamu Jep! Gimana ceritanya?” Paijo penasaran.

“Panjang ceritanya, Jo.”

“Sepanjang apapun akan aku dengarkan, Jep. Ayo ceritain”

Paijo masuk ke rumah sebentar. Dia membuatkan teh anget untuk tamu istimewanya itu. Dengan bersemangat, Jepri mulai bercerita. Dengan semangat pula, Paijo mendengarkannya.

dikejar anjing“Jadi begini, tadi siang, lewat depan rumah Mbah Karto. Kamu tau kan? Mbah karto punya wedhus balap alias anjing. Ternyata rantainya lepas. Aku dikejar. Terus aku pontang-panting lari sepeti orang kesurupan. Sampai-sampai di tepi jurang aku ga bisa ngerem lariku”

“Kamu nyemplung jurang dong, Jep? “ Paijo terbelalak matanya.

“Iya, nah pas nyemplung bajuku nyanthol ranting pohon.”

“Syukurlah”

“Nah, di ranting pohon itu ada ular segede lengan kamu. Mulutnya sudah membuka lebar siap menyantap aku. Untung saja badanku agak gendut, ranting itu patah. Aku jatuh di sungai dasar jurang”

“Hah? Kamu bisa renang kan?”

“Renang si bisa. Nah masalahnya pas berenang di sungai itu, ada buaya bergerak ke arahku. Aku makin ngebut renangnya. Akhirnya bisa di tepi sungai.”

“Buayanya?”

“Buayanya juga ngejar ke tepi sungai. Aku sampai terkencing-kencing. Aku kepepet. Buaya itu jaraknya tinggal 1 meter. Aku lempar buaya itu memakai semua barang yang ada di sekitarku. Nah, ada kotak kayu ini aku pukulkan ke kepala buaya. Buayanya pingsan. Kotak kayunya terbuka. Ternyata isinya emas”

“Woo, heroik sekali kamu ya, Jep?”

“Eits, itu belum selesai. Baru aku mau membawa pulang kotak kayu dan emas-emasnya. Buaya itu siuman. Untung sudah siap lari. Akhirnya selamat deh aku.” Jepri bangga memamerkan emas temuannya itu.

“Jadi begitu ceritanya? Waaah, keren sekali”

“Aku memang keren” Jepri bangga.

“Kalau begitu, aku pergi dulu ya!” ujar Paijo.

“Mau kemana?” Jepri penasaran melihat Paijo sangat bersemangat.

“Mau ke rumah mbah Karto biar dikejar wedhus balap-nya, terus nyemplung jurang, ketemu ular, ketemu buaya, terus nemu harta karun deh, kayak kamu”

“Woo, koplak!”

**

Jadi, seperti itulah. Terkadang rejeki itu datangnya tak diduga-duga. Namun, cerita yang happy ending itu tidak selamanya patut untuk diikuti jejaknya. Mengapa? Karena bisa jadi malah berakhir tragis. Bisa saja Jepri sudah mati duluan ketika nyemplung jurang kalau tidak nyanthol ranting pohon, atau dimakan ular, atau buaya. Jalan hidup setiap orang itu berbeda-beda. Tidak ada yang sama persis.

Dalam mendapatkan hidayah misalnya. Berbagai macam jalannya. Ada orang yang telah membunuh 100 orang kemudian bertaubat mendapatkan hidayah, ada yang dipenjara baru mendapat hidayah, ada yang berpindah-pindah agama baru mendapat hidayah. Namun, kita tidak perlu mengikuti jejak mereka untuk mendapat hidayah. Tidak perlu membunuh 100 orang, masuk penjara, atau berpindah-pindah agama dulu agar mendapat hidayah. Itu terlalu beresiko. Ya kalau hidayahnya datang, kalau belum datang tapi mati duluan kan jadi berabe.

Jangan kau ikuti jejak keburukan, meski terkadang orang mendapat kebaikan dari jejak keburukan ini lalu taubat. Itu terlalu beresiko. Jadi, kalau mau menginguti jejak ya ikutilah jejak kebenaran dan kebaikan orang lain.

 

*terinspirasi dari buku Republik Genthonesia

 

Kutoarjo, 2 Juni 2013

Iklan

3 comments on “Jejak Si Jepri

  1. Legend Wannabe
    2 Juni 2013

    mantap mas ceritanya 😀
    seperti halnya untuk sesukses steve jobs dan bill gates, gak perlu ikut-ikut DO ya,hehe
    #kemudianbrusahasegeralulus

  2. izzatyzone
    2 Juni 2013

    kaya udah pernah baca ini dimanaaa gitu mas –a

  3. kaulinarahma
    3 Juni 2013

    inspiring.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 2 Juni 2013 by in Cerita Fiksi, hikmah.
%d blogger menyukai ini: