.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Paijo Si Gorila

Menjadi sarjana memang tidak ada jaminan akan mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan. Sudah sekian lama sejak bergelar sarjana, Paijo belum juga diterima di berbagai perusahaan yang ia lamar. Semakin lama, semakin panas juga telinganya ketika rasa-rasanya semua orang mengejeknya. Padahal teman-temanya hanya bertanya, sudah diterima kerja dimana? Namun baginya, pertanyaan itu seakan mengejeknya, mencabik-cabik harga dirinya.

Pertanyaan itu akan memaksanya untuk menjawab apa adanya, padahal jawaban jujurnya itu merupakan aib baginya. Sementara mau berbohong, lebih membuatnya berlipat celaka. Karena kalaupun berbohong mengaku sudah ketrima di perusahaan X, pertanyaan akan masih berlanjut : Di posisi apa? Kerjanya ngapain? Gajinya berapa?. Kepo banget, batin Paijo.

Ia sudah tidak lagi betah bergelar sarjana pengangguran. Betapa tidak menggelikan, mau jadi pengangguran saja musti jadi sarja segala. Ia bertekad, harus sesegera mungkin mencoret gelar pengangguran yang mengikuti kata sarjana itu. Apapun pekerjaannya akan ia terima, asal halal dan tidak hina.

Ada lowongan bekerja di kebun binatang, Paijo mencoba memasukkan surat lamaran. Ia sudah bertekad, apapun pekerjaannya akan ia terima. “Lumayan, bisa gratis masuk kebun binatang tiap hari!”, Dia mencari-cari alasan untuk menghibur diri. “Merawat binatang merupakan pekerjaan mulia, apalagi menghibur mereka yang ingin berwisata.”

“Jadi, apa pekerjaan saya di sini, Pak?” tanya Paijo dengan begitu antusias kepada kepala Kebun Binatang.

“Begini saudara Paijo, kebun binatang kami akan mendatangkan gorila dari Afrika. Tetapi ternyata ketika belum sampai di kebun binatang ini, gorila itu meninggal dalam perjalanan. Singkatnya, kami menawarkan Saudara untuk menggantikannya.”

“Maksudnya?” Paijo tidak paham sekaligus penasaran.

“Jadi, nanti saudara Paijo akan berperan menjadi Gorila, dipakaikan kostum Gorila yang mirip dengan aslinya. Ada petugas yang akan melatih Saudara untuk melakukan gerakan dan gaya yang biasanya dilakukan  Gorila.”

Badan Paijo memang besar dan kekar, tapi gerakannya lentur. Dia pernah menjadi atlet senam lantai waktu SMP. Batinnya menolak menjadi gorila palsu. Namun di sisi lain, dia sangat membutuhkan pekerjaan. Lagian, ia dijanjikan gaji yang lumayan besar. Ini tantangan, batinnya.

“Oke, Pak. Saya terima pekerjaan ini”

gorilaPaijo tidak butuh waktu lama untuk belajar menirukan gerakan gorila. Petugas yang melatihnya kalah jauh, bahkan mungkin si gorila juga kalah hebat dengan gerakan Paijo. Tidak sampai seminggu, ia sudah siap terjun langsung di lapangan, kostum yang dipesan juga sudah siap. Tak seorangpun mengira bahwa di dalam tubuh gorila itu sebenarnya ada manusia.

Hari yang mendebarkan tiba. Mendebarkan bagi Paijo tentang pekerjaannya yang menantang ini, mendebarkan bagi kepala kebun binatang karena menyangkut reputasi kebun binatangnya, mendebarkan bagi pengunjung karena penasaran dengan gorila baru dari Afrika itu.

Dengan sempurna Paijo bisa melakukan pekerjaannya. Meloncat kesana kemari, menepuk dada, sesekali bergelantungan. Ia bangga dengan penampilannya. Kepala kebun binatang puas dengan pegawai barunya itu. Pengunjung takjub dengan gorila Afrika di depannya itu.

Paijo sangat menikmati pekerjaannya. Terlebih ketika ia melihat para pengunjung memberi bertepuk tangan padanya. Terlalu menikmati sesuatu seringkali membuat lupa diri. Begitu juga Paijo, saking begitu asyiknya meloncat-loncat, ia baru tersadar kalau ia melewati pembatas antara kandangnya dengan kandang singa.

Melihat “gorila” memasuki kandanngnya, singapun kaget. Ia segera mendekati “gorila”. Paijo lebih kaget lagi. Singa itu pasti bisa membaui manusia di dalam kostum gorilanya. Dalam hitungan detik, pasti dia akan mati diterkam oleh singa.

Di sisi lain, pengunjung bergeser ke kandang singa. Mereka semakin penasaran apa yang akan terjadi antara gorila dengan singa di depannya itu. Ini pertunjukan yang langka, tidak boleh ketinggalan. Sebagian sudah mengeluarkan kamera, ataupun hapenya untuk mengabadikannya.

Paijo semakin takut, singa kian mendekat dan mulai mengendus-endus. Konflik batinya makin hebat. Ia ingin berlari dan berteriak minta tolong, tetapi pengunjung pasti akan kecewa. Tidak hanya pengunjung, kepala kebun binatang pasti akan hancur reputasinya. Dipecat sudah pasti. Tanpa pikir panjang, demi keselamatan dirinya dan masa depan, ia bertekad akan berteriak minta tolong.

Di sudut lain, singa rupanya memperhatikan gerak-gerik “gorila” di depannya yang tampak panik. Alangkah kagetnya ketika “gorila” di depannya mulai menjerit. Dengan sigap, sang raja hutan langsung menubruk Paijo. Tubuh Paijo bisa dikuasai penuh oleh singa, tak berdaya. Dalam kondisi itulah, mulut singa mendekati telinga Gorila.

Kemudian dengan suara rendah berintonasi tinggi, sang singa mulai bersuara, “Diam goblok !!!, Nanti kita bisa dipecat!!”

 

***

*Tidak semua hal yang kita takuti semenakutkan yang kita bayangkan.

 

Kutoarjo, 10 Juli 2013

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 10 Juli 2013 by in Cerita Fiksi, hikmah, sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: