.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Hierarki Diam & Bicara

Kata “Hierarki” secara mudah bisa diartikan sebagai tingkatan, atau urutan. Kata prioritas mungkin juga bisa mewakilinya. Diam dan bicara itu ada hierarkinya. “Fal yaqul khairan au liyasmut, berkata yang baik atau diam”. Redaksi tersebut akan kita temui dalam Hadits Arbain An Nawawi, hadits ke-15.

Saya bukan ahli bahasa arab, tetapi saya suka dengan permainan bahasa. Dari redaksi “berkatalah yang baik atau diam”, saya menangkap bahwa kedua opsi tersebut bukanlah sekedar pilihan. Namun ada tingkatannya. Penyebutan “berkatalah yang baik” di awal kalimat menandakan bahwa opsi tersebut lebih utama. Sementara itu, “diam” merupakan opsi yang levelnya di bawah “berkatalah yang baik”.

Lawan dari berkata yang baik adalah berkata yang buruk. Namun, di antara kedua kutub itu ada sumbu netral bernama diam. Karena diam itu tidak berkata baik sekaligus tidak berkata buruk. Diam itu tidak berkata apa-apa.

hierarki

Perintah itu adalah “berkatalah yang baik”, bukan “berkatalah yang benar”. Karena tidak semua yang benar itu baik. Baik itu : benar isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat, dan berpahala. Baik sudah tentu benar, benar belum tentu baik.

Kembali lagi ke pembahasan kita mengenai hierarki diam dan bicara.


Bicara atau berkata, bisa menggunakan lisan, juga bisa menggunakan tulisan. Maka heriarkinya sebenarnya ada tiga. Urutannya adalah : Berkata yang baik, diam, berkata yang buruk.

Dari tingkatan tersebut, sebenarnya bisa kita jabarkan algoritmanya sebagai berikut :

  1. Sebisa mungkin, berkatalah yang baik! Kalau tidak bisa, diam saja! Jangan berkata yang buruk!
  2. Berkata yang baik lebih baik dari pada diam. Diam lebih baik daripada berkata yang buruk.
  3. Kalau bisa berkata baik, jangan diam! Berkatalah yang baik!
  4. Kalau tidak bisa berkata yang baik, jangan berkata yang buruk!

Seringkali dalam forum apapun bentuknya, kita lebih memilih diam. Padahal kita memiliki ide yang baik. Padahal kita bisa berkata yang baik. Jika mendasarkan pada “Berkata yang baik atau diam”, maka diam itu merupakan kesalahan. Mengapa diam itu salah? Karena kita bisa berkata baik.

Opsinya ada dua : Berkata yang baik, atau diam. Ketika bisa berkata baik, jangan sekali-kali diam. Banyak orang-orang baik, gagal menularkan kebaikan karena ia memilih diam dengan alasan takut salah. Padahal salah ada dua macam: salah yang sengaja, dan salah karena sedang belajar. Bagi yang salah karena sedang belajar itu merupakan hal yang wajar dalam berproses.

Sementara itu, diam menjadi lebih utama ketika kita tidak bisa berkata baik. Ada kalanya berkata baik menjadi hal yang sangat berat. Ketika sedang marah misalnya, orang akan cenderung tidak terkontrol emosinya. Emosi tidak terkontrol, kata-katanya juga tidak terkontrol. Maka, dalam situasi ini diam adalah pilihan yang tepat.

Berkata, tidak hanya dengan lisan tapi juga tulisan. Maka, hierarki ini juga berlaku. Jika bisa menulis kebaikan, jangan diam saja tidak menulis. Tidak menulis merupakan pilihan yang salah ketika bisa menulis kebaikan.

Pembahasan saya mungkin kurang sistematis, saya mohon maaf. Inti dari tulisan saya ini adalah : Berkatalah (yang baik)  pada kondisi yang tepat, diamlah juga pada kondisi yang tepat.  Jangan sampai tertukar.

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari Muslim)

Kutoarjo, 2 Ramadhan 1434 H

Iklan

3 comments on “Hierarki Diam & Bicara

  1. membualsampailemas
    11 Juli 2013

    syupeer!! ^^

  2. ansyarisormin
    11 Juli 2013

    kunjungan perdana (blogwalking)

  3. anghilmi
    12 Juli 2013

    diam atau tidak juga kadang dipengaruhi karakter diri. dalam psikologi, ada yg namanya tipe melankolis. tipe ini cenderung diam dan menarik diri untuk muncul ke permukaan, walau sebenarnya dia punya suatu yg baik. dia perlu waktu agak lama untuk berani mengeluarkan pendapat. Nah, beda dengan sanguinis seperti saya, dan mungkin Mas Ridwan juga hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Juli 2013 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: