.: Petualang Kehidupan :.

Hidup ibarat berpetualang, memerlukan bekal yang cukup untuk mencapai tujuan. Jika surga tujuanmu, sudah cukupkah bekal yang kau siapkan??

Menjadi PLN

PLN 2Jalan hidup manusia memang misteri. Apa yang akan terjadi tidak ada yang mengetahui, kecuali hanya Dia yang Maha Mengetahui. Sekarang pengamen bisa jadi kelak menjadi presiden. Sekarang direktur bisa jadi kelak menjadi tukang gali kubur. Manusia hanya bisa merencanakan tetapi yang terjadi sudah pasti itu adalah rencana terbaik dari Tuhan.

Ada banyak pilihan, ada banyak rencana seusai saya lulus kuliah. Seiring berjalannnya waktu kapal berlabuh di pelabuhan karir bernama PLN, satu-satunya perusahaan yang mengurus listrik di negeri saya. Lalu saya berusaha menguatkan hati, meneguhkan jiwa, bahwa PLN adalah garis hidup yang sudah digariskan kepada saya.

Keragu-raguan saya coba untuk hilangkan. Keinginan-keinginan lain, saya pendam. Keyakinan saya tumbuhkan dengan berbagai alasan yang menguatkan. Bahwa ini semua pasti rencana Tuhan, ini adalah amanah yang harus saya tunaikan. Amanah dari Tuhan, amanah dari orang tua, amanah dari bangsa Indonesia.

Saya tidak tahu berapa lama akan bertahan, prestasi apa yang akan saya dapatkan, jabatan apa yang akan diberikan, hingga berapa rupiah yang akan saya kantongi. Saya tidak tahu itu, karena itu masa depan yang misteri.

Namun, yang bisa saya lakukan saat ini adalah berusaha menjalankan tugas dengan sebaik mungkin. Sudah kepalang basah, sekalian saja berenang. Sudah kepalang masuk menjadi pegawai PLN, sekalian saja menjadi pegawai terbaik. Fokusnya bukan pada menjadi yang terbaik, tetapi pada melakukan yang terbaik.

Setiap saat saya berusaha menjaga hati, agar niat selalu murni. Bahwa yang saya lakukan ini adalah ibadah yang dipersembahkan untuk Allah yang maha kuasa. Bahwa Allah tidak pernah tidak menyaksikan perbuatan saya barang sedetikpun. Ia Maha Melihat, Maha Mengawasi, dan Maha Menepati janji.

Hingga saat ini saya masih berusaha dan terus berusaha, mencoba dan terus mencoba, agar PLN menjadi bagian dari hidup saya, lalu menikmatinya dengan sepenuh hati. Bahwa inilah ladang yang harus saya garap dengan penuh kesabaran dan kesungguhan. Ladang yang harus saya kerjakan dengan penuh keikhlasan dan keyakinan. Yakin bahwa kelak akan menghasilkan panen yang diharapkan : kebaikan dan keberkahan di dunia dan di akhirat.

Mohon doakan saya, mohon kuatkan saya.

 

Udiklat Bogor, 5 September 2013

@kangridwan19

Iklan

17 comments on “Menjadi PLN

  1. legend wannabe
    8 September 2013

    semangat mas bro, niatkan ibadah, niatkan untuk membantu negeri ini agar semakin terang sampai ke pelosok negeri 😀

    • kangridwan
      9 September 2013

      Amin..
      Doakan, niatku bisa terus terjaga.
      Lalu amalnya istiqomah.

      Sukses juga buat ente Dhil.
      *target slempang 🙂

      • legend wannabe
        9 September 2013

        sayangnya target slempang udah pasti gagal mas, makul yang mau diulang ada jadwal yang bentrok, hehehe

  2. Little Light
    8 September 2013

    Aa… Akhirny muncul tulisan ridwan lg… Selamat berkarya ridwan… Barakallah 🙂

    • kangridwan
      8 September 2013

      Aa.. ternyata ada yg menunggu tulisanku.
      😀

      amin..
      Selamat berkarya juga, Nina

  3. Bastian Hidayat
    9 September 2013

    Selamat berkarya mas… Aku sebenarnya tengah mencari alasan kenapa dirimu tidak daftar nge-coach untuk FIM 15, dan ternyata ini jawabnya :’)

    • kangridwan
      9 September 2013

      Hehe, kalo aku ndaftar ntar malah jadi rekor yang susah dikejar, jadi 4x berturut2 ngecoach. Hehe 🙂

      • Bastian Hidayat
        9 September 2013

        Bukankah katamu rekor dalam kebaikan itu harus diterus-teruskan 😀
        Selamat berkarya sekali lagi.. Semangatmu nge-coach insya Allah yang akan terus “berkibar” – aku ga nemu kata yg pas untuk menggambarkan maksudku mas, semoga kau paham, hehe

      • kangridwan
        9 September 2013

        anggap saja, aku paham maksudmu, kak Bastian.
        😀

      • Bastian Hidayat
        9 September 2013

        Sejak kapan saya dipanggil Kakak -_-

  4. ryu1nayumi
    9 September 2013

    Selamat berjuang! Di mana pun berada, insyaAllah selalu ada sesuatu yg kita perjuangkan. Saya termasuk orang ‘listrik’ yg nyasar, alhamdulillah…tetap ada banyak hal yg bisa diperjuangkan untuk masa depan yang lebih ‘cerah’.
    Barokallah…

    • kangridwan
      9 September 2013

      Amin…
      makasih doanya, kakaknya Dika

      🙂

  5. aerodest
    9 September 2013

    the hardest part of the job is to start. Once we used to, it becomes much more easier.

    nice post mas, aku jg pengen post gimana-gimana nya aku disini. tapi kemampuan menulisku lagi macet2 ngadat dan perlu dimaintenance. hehe

    barakallah..semoga dikaruniai hidup yg membahagiakan. ga peduli lah kerja dimana, jadi apa, hidup dimana, ketemu siapa, pendapatan berapa.. yg penting hidup happy, happy aja terus sampai berlanjut happynya di surga nanti 😉

    • kangridwan
      9 September 2013

      Suka bgt dengan kata2mu, Des.
      Itu membuktikan kalo kemampuan nulismu ga macet.
      Ayo lah nulis, aku folower blogmu nih.

      Amiin.. semoga hidup kita bisa happy sampe di surga.

      #kapan2 crita di puncak gunung, yak 1

      • aerodest
        9 September 2013

        sip. kakiku juga udah gatel2 nih mas, udah pengen banget naik gunung.
        ayuk yuk Semeru menanti, Rinjani juga sudah ngawe-awe

  6. izzatyzone
    11 September 2013

    barakallah mas 🙂 salam jaya untuk Indonesia ^^9

  7. hidatte
    14 September 2013

    wuihh…PLN-isasi.
    Barokalloh mas bro, selamat menjalani hidup baru 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 September 2013 by in sepotong episode.
%d blogger menyukai ini: